IQRAA…., MEMBACA TABIR MENGUAK TAKDIR …

Pelajaran membaca tabir tertua yang pernah dilakukan oleh manusia yang tercatat didalam kitab suci Al Qur’an adalah tatkala Qabil kebingungan untuk menguburkan saudaranya Habil yang telah dibunuhnya karena rasa iri. Qabil iri qurbannya tidak diterima oleh Allah, sementara qurban Habil diterima oleh Allah. Setelah Qabil membunuh saudaranya, dia bingung melihat mayat saudaranya tergeletak dihadapannya.
presentation11
Mau diapakan mayat itu. Namun Allah mengirim dua ekor burung gagak yang kemudian berkelahi satu sama lain. Salah seekor dari burung itupun mati. Burung yang hidup lalu menggali sebuah lobang dan menguburkan burung lain yang telah mati itu. Qabilpun mengambil pelajaran dari peristiwa itu dan mengubur saudaranya pula setelah itu. (lihat Al Maidah 30-31)

Marilah … !. Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak pembaca untuk mengembara sejenak dalam proses membaca tabir yang sedemikian banyaknya di alam semesta ini. Apa perbedaan dan persamaan yang kentara antara orang berketuhan yang hakiki dengan orang yang tidak berketuhanan dalam membaca tabir-tabir itu. Siap-siaplah ….

Di suatu pagi yang berkabut tipis, aku duduk diberanda belakang rumahku. Saat itu belum ada gumpalan-gumpalan pikiran yang mengalir didalam otakku. Mataku, telingaku, dan hatiku juga masih bisa merasakan bekas-bekas kenikmatan tentang bagaimana seorang hamba bertemu dengan Tuhan-nya semalaman dalam sebuah proses tidur yang nyaman. Suasana itu ditambah lagi dengan masih berbekasnya rasa perjumpaanku dengan Tuhanku dalam keadaan sadar saat shalat subuh tadi yang sungguh membahagiakan.

Sekilas kulihat tetes-tetes air yang diam bergerombol disehelai daun pisang, yang semalam jatuh disikut angin kencang didepan rumahku. Tetes-tetes air itu diseruput dengan riang gembira oleh sepasang burung kecil berbulu hijau diselingi warna jingga, merah dan putih disana-sini. Indah sekali sapuan perpaduan warna ditubuh burung itu. Bulunya seperti diukir dengan sangat teliti sampai ke helai-helai terkecilnya. Sang burung bernyanyi, berteriak, berkicau bergantian seperti terkesima melihat datangnya usapan lembut cahaya matahari ke bibir cakrawala.

Biasa saja sebenarnya apa yang kulihat dipagi hari itu. Seperti juga biasanya tarikan nafasku selama ini. Tapi tidak dengan pagi itu.

Sepasang burung itu sepertinya ingin bertegur sapa denganku:

“Wahai Deka …, kami tadi hanya seperti melayang turun dituntun angin mengarah ke tetes air di daun pisang yang rontok ini. Kami juga tidak tahu apakah perut kami minta diisi dengan air atau tidak. Tiba-tiba saja paruh kami telah diarahkan ketetes-tetes air itu, dan butir-butir air itupun seperti diisap oleh sebuah daya untuk memasuki tembolok kami melalui paruh kami yang munggil ini …”.

Sementara aku hanya diam dan diam saja sambil mengamati tingkah dan nyanyian ceria sang burung.

Dalam diam, kucoba mengamati daya yang sedang bekerja itu dengan mataku, namun daya itu tak tersentuh oleh retina mataku. Kucoba pula mendengarkan daya itu, siapa tahu bisa kutangkap frekwensinya dengan telingaku. Tapi tak segetarpun daya itu bisa kutangkap dengan gendang telingaku. Yang kudengar hanyalah desauan suara angin menyapu lembut lembar-lembar daun pisang yang tumbuh subur dipojok rumahku.

Angin?.

Benarkah ada desau suara angin?.

Ternyata anginpun tidak bersuara sebenarnya. Adanya desauan angin baru akan terdengar tatkala angin itu menyentuh sebuah tanda, tanda angin. Misalnya lembaran daun yang digoyang oleh sang angin. Tandanya itu yang digetarkan oleh sang angin, sehingga akupun berkata “ooo …, ada angin yang sedang bertiup”. Dan saat aku melihat ada dedaunan kering yang melayang-layang dan berputar-putar di didekatku, akupun akan berkata “oo …, ada angin puting beliung yang sedang mengajak dedaunan kering itu menari dan berdansa”.

Ya …, aku baru tahu ada angin ketika sang angin itu menyentuh tanda-tanda yang menandakan sang angin ada. Awan, asap, dedaunan, adalah tanda (tabir) bahwa ada angin yang sedang berkisar-kisar. Saat melihat awan yang sedang bergerak bergulung-gulung dengan cepat, maka kesadaranku akan berkata “Ooo …, ada angin yang sedang bertiup kencang diudara”. Gampang sekali kita meyadari adanya angin saat kita melihat tanda-tanda (tabir) angin. Mudah sekali. Orang tak beragamapun akan bisa menyadari akan adanya sang angin dengan sama mudahnya dengan orang yang beragama.

“Wahai Deka, akupun hanya sekedar diam saja. Ada daya yang sedang mengisar-ngisarku. Ada daya yang sedang merembesiku. Sehingga akupun seperti punya daya untuk menggerakkan awan, asap, dan dedaunan itu”, sang angin seakan mencoba memahamkan diriku yang sepertinya mulai kehilangan arah pikirku.

Karena sepengetahuanku, angin itu terjadi hanyalah karena adanya perbedaan tekanan udara di dua tempat yang berbeda. Sehingga udara akan bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Ya …, angin itu hanyalah peristiwa alamiah biasa saja setahuku. Sehingga akupun tidak paham saat aku membaca ayat didalam kitab al Qur’an tentang bagaimana angin itu dikisar-kisarkan (watashriifirriyah) oleh Allah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan”. (Al baqarah 164)

“…dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda bagi kaum yang berakal”. (Al Jaatsiyah 5)

Puluhan kali sudah ku baca ayat-ayat diatas. Tapi saat membaca ayat itu, tidak terlintas sedikitpun didalam otakku tentang apa guna dari angin yang dikisar-kisarkan itu. Aku tidak pernah memikirkan akan adanya daya yang sedang bekerja diperkisaran angin itu. Itu sungguh tidak pernah kupikirkan. Akalku hilang, pikiranku buntu ketika aku membaca tanda-tanda diperkisaran angin itu. Sehingga tidak ada sesuatupun yang bisa kuhasilkan dari proses membaca tulisan arab dari ayat-ayat Al Qur’an diatas dengan sangat lancar dan tartil. Tidak ada hasilnya, kecuali hanya rasa senang bahwa aku sudah membaca Al Qur’an dan aku akan diberi pahala oleh Allah. Hanya itu ….

Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan orang-orang yang mencoba memikirkan tentang perkisaran angin itu. Di perusahaan BOEING dan AIR BUS, sekumpulan orang berhasil menemukan rahasia tentang perkisaran angin itu. Mereka mengerti dengan utuh tentang bagaimana perilaku kisaran angin itu yang melewati lempengan logam yang bentuknya seperti sayap burung. Sehingga dari proses berfikir mereka tentang kisaran angin itu lahirlah pesawat-pesawat terbang dengan berbagai bentuk, ukuran, dan penggunaannya. Sungguh mereka adalah orang-orang yang berfikir dan orang-orang yang berakal seperti yang diminta oleh ayat-ayat diatas, sehingga merekapun bisa melihat bahwa tidak sedikitpun ada kesia-siaan dalam setiap perkisaran angin itu.

Mereka telah menjalankan ayat itu dengan sangat baik dan telaten, sementara aku dari dulu-dulu masih saja menjadi seorang penyair yang melantunkan ayat-ayat itu dengan irama yang sangat mendayu-dayu …, ” … watashriifirriyah …, watashriifirriyah …, watashriifirriyah …”.. “Oh … angin, betapa engkau berkisar-kisar dilangit biru …”.

“Perkisaran angin itu Allooh yang mengerakkan”
“Dengan angin yang berkisar itu Allooh membantu penyerbukan tumbuhan”.
“Dari Allooh semuanya …”, fasih sekali aku mengungkapkannya.

Akan tetapi saat ditanya: “Ada apa dengan perkisaran angin itu?”, maka pikiranku langsung jadi buntu, akalku langsung jadi beku. Sehingga aku hanya bisa berkata: “Nggak tahu tuh !!!”. Persis seperti tidak tahunya seorang Aborigin, atau seorang Badui, atau seorang terasing dipedalaman Irian.

Ternyata selama ini aku sungguh sudah sangat keterlaluan. Aku rutin membaca huruf-huruf Al Qur’an, tapi tanpa aku mampu memikirkan dan menjalankan akalku tentang apa-apa yang kubaca itu. Berpikir tentang anginpun aku tidak, sebagaimana juga dengan ayat yang memerintahkanku memikirkan hal-hal yang lainnya??. Aku hanya seperti orang yang sedang ngelindur dalam tidur. Padahal aku tahu persis bahwa:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan (alami)”. (Ash Shaff 61:3)

Dalam pengaruh rasa bersalah itu, sang burung pun seperti berkata kembali kepadaku:

“Wahai Deka, aku hanyalah tanda tentang adanya daya yang sedang menuntunku untuk turun kedaun pisang layu itu, untuk kemudian daya itu mengarahkan paruhku ketetes-tetes air yang sepertinya sudah ditahan pula agar bisa masuk ketembolokku. Daya itupun sepertinya meneruskan butir-butir air itu masuk kedalam setiap sel tubuhku, sehingga tubuhkupun menjadi sesegar embun pagi”.

“O …, kalau begitu kau hanya diam saja wahai sang burung kecil?”.

“Exactly deka …, aku hanya diam”

“Daya itulah yang sibuk menggiringku kesana kemari”.

“Daya itu melecutkan kepak sayapku”.

“Daya itu mengisarkan angin agar aku bisa membubung naik keangkasa raya”.

“Daya itu juga menahan anak-anakku agar dia tidak keluar dari sarangku”.

“Daya itu Maha Sibuk mengaturku, dan anak-anakku”.

“Aku hanya seonggok tanah yang dialiri daya …”.

Tiba-tiba seekor kucing tetangga berwarna putih meloncat kedekat sang burung yang sedang hinggap dibangkai daun pisang itu. Sang burungpun terkaget-kaget dan mencelat keudara laksana sehelai kapas yang tertiup badai. Kucing itupun ternyata sedang didorong pula oleh daya yang sama dengan daya yang berkerja pada tubuh burung tadi.

Namun bagiku itu sudah cukup. Aku mulai tersenyum memandang sesuatu yang tak terlihat oleh mata. Sesuatu yang tak terasa oleh kulit. Sesuatu yang tak terdengar oleh telinga. Sesuatu yang tak terdefinisikan dengan kata-kata dan kalimat-kalimat. Sesuatu itu menjadi sangat nyata karena ada tanda-tanda yang teruntai sedemikian banyaknya yang menandai akan adanya Sesuatu Yang Sangat Hebat. Tanda itu membuat Sesuatu itu nyata. Tanda tadi adalah tabir-Nya.

Buat sejenak muncul kepahaman didalam dadaku bahwa segala sesuatu dialam semesta ini pastilah diatur oleh Satu Daya Tunggal Yang Maha Dahsyat. Karena cakupannya adalah segala sesuatu, tak terkecuali apapun juga, maka Daya itu pastilah meliputi segala sesuatu. Rasa-rasanya semua orang juga tahu tentang teori ini. Apalagi ahli fisika tradisional maupun yang super modern, termasuk ahli astronomi terkini, mereka juga tahu sekali akan adanya daya tunggal itu. Daya yang memegang alam semesta ini agar masing-masing benda langit bisa duduk diam dijalur edarnya yang sepertinya telah ditentukan dengan sangat seksama dan akurat sekali. Daya itu bersifat sangat memaksa. Tidak ada sesuatupun yang bisa keluar dari genggaman daya itu walau sekejap mata sekalipun.

Selama puluhan tahun, para ahli fisika dan astronomi mencoba untuk mengetahui daya tunggal macam apakah gerangan yang memegang alam semesta ini. Mereka ingin melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.. Mereka ingin melihat bukti tentang daya itu melalui berbagai alat yang mereka ciptakan. Namun mereka tetaplah berada dalam keraguan yang sangat panjang. Karena yang mereka temukan itu masih saja tanda-tanda akan adanya daya tunggal itu. Mereka juga masih memecah belah daya itu menjadi beberapa daya yang mereka sebut sebagai daya kuat, daya lemah, daya elektromagnetik, dan daya grafitasi. Bahkan ada yang mencoba menggabungkan keempat daya itu dalam teori daya superstring, dan entah apalagi nantinya. Akan tetapi, pembagian itu mereka lakukan tetap saja hanya semata-mata karena melihat pengaruh daya itu pada tanda (tabir) yang terlihat oleh mata atau logika mereka. Padahal dilihat dari tabir manapun juga pasti akan ketemu tentang ada daya itu sebenarnya. Sedangkan tentang Dzat yang dibalik tabir itu, Sang Punya Daya, mereka tetap saja bingung untuk memahaminya, karena mereka ngotot untuk ingin membuktikan Dzat itu dengan mata-kepala dan logika ilmiah yang mereka punyai.

Akhirnya dalam kebingungan itu, mereka hanya bisa berkata:

“Ada Dark Energy dan Dark Materi yang menjadi The Biggest Mistery yang menyelimuti The Universe. Alam semesta ini dimulai dari kegelapan materi dan energi.
Kemudian Ada BIG-BANG. Dari kegelapan itu ada Materi yang berpendar dengan kekuatan yang amat dahsyat, dan ada pula Daya yang sangat amat dahsyatnya yang mengembangkan materi itu dengan kecepatan yang juga sangat dahsyat sekali, sehingga terbentuklah awal kehidupan. The Universe. Dan pada akhirnya semua akan kembali membeku dan menjadi Dark Energy dan Dark Materi yang prosesnya sangat lama-lama-lama sekali”.

Inikan Hadist Qudsi dalam ungkapan bahasa orang yang tidak beriman kepada Allah saja sebenarnya.

Mereka juga sibuk mencari tanda tentang adanya Daya Sang Hidup yang menyelimuti segala sesuatu. Mereka bisa temukan tanda Daya Sang Hidup itu dimateri yang terkecil yang mereka namakan sebagai pembentuk dasar materi. Misalnya Daya Hidup itu terbaca ditabir netron, proton, dan pada nama-nama tabir aneh lainnya seperti: muon, tauon, muon neutrino, tauon neutrino, up quark, charm quark, top quark, down quark, strange quark, bottom quark, antielectron, electron antineutrino, muon antineutrino, tauon antineutrino, up antiquark, charm antiquark, top antiquark, down antiquark, strange antiquark, bottom antiquark.

Sungguh sibuk sekali mereka mengamati tabir-tabir itu tanpa mereka bisa “sadar” pada Yang Menabiri Diri-Nya dengan tabir-tabir yang seakan-akan bisa hidup dan bergerak dengan sendirinya itu.

Kalau hanya sampai di proses membaca tabir seperti ini, siapa saja bisa melakukannya. Beragama atau tidakkah dia, islam atau tidakkah dia, pintar atau bodohkah dia, semua bisa melakukannya. Semakin baik dan benar dia melakukan proses membaca tabir-tabir itu, maka semakin banyak dan bernas pulalah pengajaran yang akan dia terima. Karena saat dia memandang tabir itu pada hakekatnya dia tengah mendengarkan Sang Pemilik tabir itu sedang bercakap-cakap kepadanya secara langsung. Namun banyak yang tidak sadar tentang itu. Mereka mengira bahwa tabir-tabir itu hanya sekedar bereaksi atas apa yang mereka perbuat terhadap tabir-tabir itu.

Misalnya, saat petani di Thailand sana berbicara dengan pohon mangga, durian, pepaya, pisang dan buah-buahan lain dikebun-kebun mereka, maka sang pohonpun lalu menjawabnya dengan cara mengeluarkan buah yang terbaik. Makanya semua orang bisa kenal dengan pepaya bangkok, durian bangkok, pisang bangkok, bahkan ada juga ayam bangkok. Namun kita jarang sekali mendengarkan adanya buah bogor (kecuali mungkin buah talas). Padahal di Bogor itu ada universitas terkenal yang berkaitan erat dengan tumbuhan. Tapi karena disana orang kebanyakan hanya menghafal bahasa latin dari berbagai tumbuh-tumbuhan itu, tidak berbicara akrab dengan tumbuhan itu sendiri, maka mereka kalah jauh dengan orang Thailand yang mau berbicara akrab dengan tumbuhan yang sama dengan yang ditanam di Indonesia. Makanya negara sekaya raya ini, Indonesia, masih saja sangat tergantung kepada buah-buahan import. Menyedihkan sekali sebenarnya. Rasulullah saja, yang dulu pernah membaca di tabir KORMA, telah melahirkan korma yang masih terkenal sampai saat ini, yaitu KORMA RASUL.

Begitu juga dengan berbagai ahli fikir dizaman keemasan Islam masa lalu, seperti Al Kindi, Al Battani, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Al Gazhali, Ibnu Zuhr (Avenzoar), mereka telah berhasil meninggalkan jejak yang sangat bernas atas hasil pembacaan mereka terhadap tabir-tabir yang terhampar didapan mata mereka. Dari tabir-tabir itu mereka bisa membaca tentang adanya alat irigasi, alat astronomi, kapal dagang, teknik jembatan, matematika, ilmu kedokteran, dan sebagainya.

Namun setelah zaman keemasan itu, perilaku umat islam sudah tidak sesuai lagi dengan ajaran islam. Kita mulai meninggalkan proses membaca tabir-tabir yang ada disetiap langkah kehidupan mereka. Kita menanggap bahwa dunia ini, yang notabene adalah tabir-tabir Allah, merupakan penghalang untuk kehidupan akhirat. Kita benar-benar anti kepada dunia ini. Kita telah menjelma menjadi rahib-rahib dan pendeta-pendeta yang hanya ingin kehidupan akhirat saja. Kita hanya ingin syurga nanti diakhirat sana. Dunia ini kita anggap sebagai permainan dan senda gurau belaka tapi dengan pemahaman yang keliru tentang ayat Al Qur’an yang bercerita tentang permaian dan senda gurau itu. Sebab, walaupun hanya permainan belaka, tetap saja hidup iu butuh uang, teknologi, dan metoda agar kita bisa melakukan permainan itu. Semua itu adalah hasil dari membaca tabir …

Karena Allah adalah Dzat yang setiap detik selalu ingin menunjukkan kemahahebatan- Nya kepada umat manusia, dan itu tidak bisa tertahankan oleh siapapun juga, maka Allahpun mencari otak dan dada umat manusia lain yang masih bisa terbuka untuk dilewati dan dirembesi oleh kemahahebatan Allah itu. Karena umat Islam telah berubah menjadi orang yang berperilaku seperti pendeta dan rahib, dimana kita menutup mata dan telinga kita dari mendengarkan bicara Allah di tabir alam semesta, maka rembesan omongan Allah itupun dialirkan secara deras sekali oleh Allah kepada otak orang-orang Eropa, Amerika, Jepang, Cina, dan sebagainya. Walau secara hukum syariat islam mereka dianggap orang sebagai bangsa-bangsa yang KAFIR, namun secara kehidupan mereka telah menjalankan sebagian besar dari syariat Islam itu, minus pasal ibadahnya.

Dalam masa-masa umat Islam tertidur pulas itu, dimana Allah seakan-akan mengeluarkan umat Islam dari cahaya menuju kegelapan, maka muncullah si pembaca tabir Allah di belahan bumi sebelah Barat sana. Satu persatu tampillah mereka dengan apa yang mereka sebut sebagai penemuan mereka. Ada Adelard, Bacon, Martin Luther, Calvin, Copernicus, Kepler, Galileo, Newton, James Watt, Adam Smith, T.A Edison, Albert Einstein, dan banyak lagi nama-nama lain yang masih hidup sampai saat ini seperti Hawkins yang sangat fenomenal itu. Dari otak merekalah Allah menciptakan Dapur Tekan, Mesin Cetak, Teknik Hidrolika, Mesin Uap dan mesin Pintal, Besi Lempengan, Baterai Listrik, Telegraph, Telepon, Lampu Listrik, Wireless, Pesawat Terbang, TV, Komputer, Material Baru …, dan jutaan ciptaan lainnya. Sungguh sekarang ini tiada hari tanpa penemuan baru dibelahan bumi dimana manusianya mau membuat otaknya menganga saat membaca tabir Allah yang tak terhitung jumlahnya.

Sungguh mereka telah menjadi bagian dari utusan-utusan Allah bagi kemakmuran umat manusia. Dari otak dan tangan mereka, Allah telah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, khususnya untuk kehidupan di alam dunia ini. Karena mereka telah menjalankan ayat-ayat Allah (bukan membaca huruf seperti yang sering kita lakukan) dengan maunya mereka mendengarkan Allah berbicara di tabir-tabir yang sengaja diciptakan Allah untuk tempat-Nya berbicara.

Sementara itu yang terjadi pada umat Islam, disamping kita lagi tertidur lelap yang panjang, ada kesalahan lain yang kita lakukan. Kesalahan itu, yang terberat sebenarnya, adalah tanpa kita sadari, kita juga mulai menjadi orang-orang yang MUSYRIK. Kemusyrikan itu bukanlah karena kita tidak percaya lagi kepada Allah, bukan. Tapi kemusyrikan itu adalah karena kita telah memecah belah agama Islam menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok itu saling mengaku bahwa kelompok kitalah yang benar. Kita membagi-bagi Islam menjadi agama kelompok-kelompok. Ada agama Islam ala kelompok Sunni atau Ahlussunnah wal jamaah (aswaja) dengan berbagai pecahannya, ada Islam ala kelompok Syiah juga dengan berbagai variannya, ada Islam ala kelompok A zampai Z. Dan anehnya setiap kelompok itu selalu “mengaji” hal-hal yang sama saja dari generasi ke generasi. Kalau tidak tentang syurga, ya kajian tentang neraka. Kalau tidak tentang pahala, ya kajian masalah dosa. Kalau tidak tentang sunnah, ya kajian tentang bid’ah. Kalau tidak tentang iman, ya kajian tentang kafir. Kalau tidak tentang akhirat, ya tentang akhirat juga (kajian tentang dunianya sedikit sekali sih). Hal seperti itu dilakukan umat Islam selama berhari-hari dan bertahun-tahun, dari generasi ke generasi.

Kalau hanya sekedar mengaji tentang hal-hal diatas yang dianggap sebagai mengaji agama, ya nggak masalah sebenarnya. Tapi anehnya, setelah mengaji itu, malah tiap-tiap kelompok pengaji itu mulai menyalah-nyalahkan kelompok lain, dan kita lalu menganggap bahwa hanya kelompok kita sajalah yang benar.

Sejak masa Nabi Muhammad SAW hidup pun, sebenarnya bibit perpecahan seperti ini sudah tercium oleh Nabi. Makanya Nabi mengingatkan bahwa: “nanti umatku itu akan terpecah belah menjadi 73 golongan, hanya 1 golonganlah yang benar, yang lainnya salah”. Eh …, malah umat islam sengaja memecah belah diri dengan mengaku bahwa yang satu yang benar itu adalah kelompok kita sendiri. Padahal hadist diatas maknanya ya agar kita jangan berpecah belah. Islam ya Islam saja. Tidak ada itu istilah Islam ala kelompok XYZ atau PQR. Jadi yang satu yang benar itu adalah umat yang tidak memecah belah agama Islam menjadi kelompok-kelompok islam eksklusif. Karena kalau memecah belah agama Islam menjadi kelompok-kelompok, dan kelompok-kelompok itu berebut tentang kebenaran, ternyata menurut Allah sama nilainya dengan orang yang menyekutukan Allah. Si Musyrik …

“Manusia itu harus kembali kepada Allah dan bertakwalah kepada Allah, tegakkan shalat dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang (MUSYRIKIN) mempersekutukan Allah, (Ar rum 31)”

“yaitu dari golongan-golongan, orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan dan membenarkan apa yang ada pada golongan mereka. (Ar rum 32)”

Aaaah kita umat Islam ini …, sudahlah pendahulu kita (dan mungkin juga kita sendiri) tidak mau lagi mendengarkan Allah berbicara melalui wahyu yang akan selalu diturunkan Allah kedalam dada setiap manusia, tidak mau pula mendengarkan Allah berbicara di tabir-tabir Allah yang berserakan disetiap sudut ruang kehidupan ini, ditambah lagi dengan kita telah menjadi musyrik tanpa kita sadari (karena kita memecah belah agama dan rebutan kebenaran), maka akibatnya kitapun akhirnya ditidurpanjangkan oleh Allah.

Kita dibuat tidak sadar dalam keadaan hidup oleh Allah selama berabad-abad. Umat islam seperti berada dalam masa-masa hibernate mulai dari tahun 1200-an sampai dengan abad ke 20, bahkan mungkin sampai sekarang ini. Sehingga kitapun kemudian menjadi tabir Allah tempat Allah berbicara kepada umat-umat sesudah kita tentang contoh orang-orang yang tidak bersyukur. Sebab dengan melihat tabir Allah pada diri kita, sebenarnya saat itu Allah sedang berbicara kepada orang lain tentang nestapa diri kita:

“Wahai hamba-Ku …, lihatlah sebagian besar dari hamba-hamba- Ku itu. Lihatlah …, walaupun mereka mengaku beriman kepada-Ku, walaupun mereka mengaku telah menjalankan segala ibadah kepada-Ku, walaupun mereka mengaku telah mengikuti contoh dari Rasul-Ku sampai ke hal-hal terkecil sekalipun, walaupun mereka telah telah hafal ayat-ayat-Ku yang kutaruh di kitab Al Qur’an dan hafal pula wejangan-wejangan Rasul-Ku Muhammad SAW, akan tetapi saat mereka tidak mau membaca dan mendengarkan pembicaraan- Ku yang Ku-tarok di berbagai tabir-Ku, maka mereka tetap saja akan menjadi orang yang berada dalam kegelapan hidup ditengah-tengah kecemerlangan dunia yang kuberikan kepada mereka untuk mereka kelola dengan baik. Mereka tidak mampu menyandang predikat sebagai wakil-Ku, wali-Ku, kurir-Ku, agent-Ku, distributor- Ku untuk menghantarkan rahmat-Ku bagi seluruh alam dan isinya.

Mereka malah akan menjadi bulan-bulanan, jadi bahan olok-olokan, menjadi contoh yang sulit untuk ditiru oleh orang-orang yang mendambakan kesempurnaan.

Kau lihatlah wahai hamba-Ku …, ambillah mereka sebagai contoh dan pelajaran dari-Ku, sebagai tabir-Ku tempat Aku mengalirkan kebodohan kedalam otak dan dada mereka..”. Wallahu a’lam.

Sementara umat lain yang kita sebut sebagai orang yang tidak beragama islam di Barat dan di Timur Jauh sana, malah mereka seperti keteteran menerima curahan pencerahan dari Allah tanpa henti di berbagai tabir-Nya. Tiada hari tanpa penemuan baru yang mereka dapatkan. Ada teknologi baru, ada pendapat baru, ada pemahaman baru, bahkan ada tabir-tabir baru yang mereka temukan dalam setiap langkah yang mereka lalui.

Namun begitu, sayang sekali mereka tetap saja belum berada dalam kesempurnaan seperti yang diinginkan oleh Allah.. Sehingga merekapun, tanpa mereka sadari, sebenarnya sedang menjadi tabir Allah pula tempat dimana Allah berbicara kepada orang-orang yang mau mendengarkan Allah berbicara kepadanya. Mereka ada tabir si Merugi. Karena dalam kehebatan mereka membaca tabir, mereka sepertinya tetap berputar-putar berada dalam cover yang menutup otak dan dada mereka untuk memahami Sang Punya Tabir. Mereka tidak berhasil menyandang kualitas manusia yang Ulul Albab. Seorang manusia unggulan yang menjadi tempat Allah menurunkan Rahmat-Nya buat alam semesta …

“Lihat dan dengarkan pulalah bicara-Ku ditabir-Ku yang lain. Tabir si tercover, si kafir. Betapapun mereka berhasil membaca dan mendengarkan setiap pembicaraan- Ku ditabir-tabir- Ku yang mereka iqraa (baca), berapapun mereka berhasil menguak rahasia-rahasia pembicaraan- Ku di tabir-tabir- Ku itu, seberapapun mereka bisa menterjemahkan setiap tabir-Ku menjadi temuan-temuan baru yang sungguh bermanfaat bagi kehidupan umat manusia yang lainnya, namun sedikit sekali mereka yang berhasil menyibakkan tabir-tabir- Ku itu untuk melihat Wajah-Ku.. Sehingga sedikit sekali diantara mereka yang bisa tersungkur dan tersujud dihadapan-Ku. Sedikit sekali, kalau tidak mau dikatakan tidak ada, diantara mereka ada yang mau berterima kasih atas kemurahan-Ku itu.

Kalaupun ada ungkapan terima kasih dari mulut mereka, namun arah kesadarannya tidak tepat mengarah kewajah-Ku. Mereka malah berterima kasih kepada patung, kepada berhala, kepada hamba-Ku (Al Masih Isa anak Maryam) yang dianggap mereka sebagai Tuhan dan anak-Ku. Sungguh sayang sekali mereka bersikap begitu …

Lebih sedikit lagi diantara mereka yang bersedia dada-Nya Kualiri dengan rasa iman yang mencekam, rasa haru yang mencekam, rasa menghamba yang mencekam, rasa menyerah yang mencengkeram. Bahkan rasa takut yang mencekam terhadap keadilan-Ku yang tak terperikan, juga tidak berhasil merembes kedalam hati mereka. Sehingga mereka tetap saja hanya jadi sekedar contoh tabir-Ku tentang orang-orang yang tercover dari Wajah-Ku.

Sungguh Aku sebenarnya telah menyiapkan semua tabir-Ku itu untuk tempat-Ku berbicara kepada hamba-hamba- Ku yang Kupanggil sebagai ULUL ALBAB. Sungguh …!”.

Manusia macam apakah gerangan si Ulul Albab ini . Apakah dia manusia sesuci malaikat ?.

Tapi sebelum sampai ke pembahasan tentang Ulul Albab ini, kita lihat dulu cara Allah berkata-kata berikutnya dengan setiap manusia, yaitu dengan cara mengutus seorang utusan (rasuulan) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sampai jumpa di artikel berikutnya; Iqraa …, Mengintip Citra Para Utusan Tuhan …

Wassalam

Sumber : http://groups. yahoo.com/ group/dzikrullah /message/ 2424