PEMBELAJARAN INOVATIF
BERBASIS DEEP DIALOGUE / CRITICAL THINKING*)
Oleh : Lanjar Pramudi**)

PENDAHULUAN
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa. Faktor-faktor tersebut adalah : saratnya beban materi yang harus dipelajari siswa, rendahnya kompetensi guru, penggunaan pendekatan dan metode pembelajaran yang kurang tepat, kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung, kurangnya motivasi belajar siswa, dan kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap pendidikan.

Menurut Bloom dalam Waluyo (1994) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa diantaranya adalah: siswa, proses pembelajaran, hasil belajar yang hendak dicapai, sikap, minat, mutu pelajaran yang disampaikan guru, materi pelajaran, interaksi belajar mengajar yang aktif serta pendekatan dan metode.

Berkaitan dengan pemikiran Bloom tersebut, Bistok dalam Yunus (1991) mengemukakan bahwa kegagalan memahami kurikulum, mendapatkan bahan pengajaran yang cocok serta pendekatan dan metode yang cocok merupakan faktor utama penyebab kekurang berhasilan siswa dalam memahami materi pembelajaran.

Dari banyaknya faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan tersebut faktor yang paling dominan adalah proses pembelajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Proses pembelajaran yang dilakukan secara tradisional (ceramah) saat ini dipandang kurang diminati oleh para peserta didik, banyak yang menganggap bahwa metode ceramah adalah metode yang membuat siswa cepat menjadi jenuh dan membosankan. Jika hal ini terjadi secara terus menerus maka output yang diperoleh jelas tidak akan memuaskan. Oleh sebab itu perlu segera dilakukan renovasi dalam penggunaan pendekatan dan teknik pembelajaran.

Tulisan berikut mengemukakan proses pembelajaran yang dikemas dengan menggunakan pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking. Dengan pendekatan pembelajaran ini diharapkan siswa akan dapat menemukan sendiri apa-apa yang menjadi tuntutan dalam kompetensi dasar. Dengan demikian selama dalam proses pembelajaran tidak ada siswa yang diam duduk manis mendengarkan ceramah gurunya.

Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berbasisi Deep Dialogue/critical thinking?

Secara sederhana kata dialog diartikan percakapan antara orang- orang masyarakat/kelompok atau lebih yang memiliki pandangan berbeda-beda bertukar ide, informasi dan pengalaman. Kata Deep dialogue (dialog mendalam), dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001). Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar.

Beberapa prinsip yang harus dikembangkan dalam deep dialoge/critical thinking, antara lain adalah: adanya komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan kesederajatan dan keberadaban serta empatisitas yang tinggi. Dengan demikian, deep dialoge/critical thinking mengandung nilai-nilai demokrasi dan etis sehingga keduanya seharusnya dimiliki oleh manusia. Nilai-nilai demokrasi dan etis yang dijadikan orientasi dalam DD/CT, mempunyai kaitan erat dengan tujuan pendidikan secara macro.

Sebagai pendekatan pembelajaran, pada dasarnya Deep dialoge/critical thinking (DD/CT) bukanlah sebuah pendekatan yang baru sama sekali, akan tetapi telah diadaptasikan dari berbagai metode yang telah ada sebelumnya (GDI, 2001). Oleh karena itu, Deep dialoge/critical thinking (DD/CT) bisa menggunakan semua metode pembelajaran yang telah digunakan sebelumnya seperti multiple intelligences, Belajar Aktif, Keterampilan proses ataupun Parthnership Learning Method, sebagaimana yang dikembangkan oleh Eisler.

Filosofi DD/CT adalah melakukan penajaman-penajaman terhadap seluruh metode pembelajaran yang telah ada, baik yang bersifat konvensional maupun yang bersifat inovatif. Fokus kajian pendekatan DD/CT dalam pembelajaran dikonsentrasikan dalam mencapai kompetensi dengan melalui pengalaman belajar. Dengan melalui dialog secara mendalam dan berpikir kritis, tidak saja menekankan keaktifan peserta didik pada aspek fisik, akan tetapi juga aspek intelektual, sosial, mental, emosional dan spiritual.

Peserta didik yang telah belajar di kelas dengan menggunakan pendekatan DD/CT, diharapkan akan memiliki perkembangan koqnisi dan psikososial yang lebih baik. Mereka juga diharapkan dapat mengembangkan ketrampilan hidup tentang DD/CT yang akan meningkatkan pemahaman terhadap dirinya dan terhadap orang lain yang berbeda dari diri mereka, dan oleh karena itu akan memperkuat penerimaan dan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan.
Untuk keperluan pendekatan pembelajaraan, Global Dialogue Institute (2001) mengindetifikasi ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan DD/CT, yaitu: (1) peserta didik dan guru nampak aktif; (2) mengoptimalisasikan potensi intelligensi peserta didik; (3) berfokus pada mental, emosional dan spiritual; (4) menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis; (5) peserta didik dan guru dapat menjadi pendengar, pembicara, dan pemikir yang baik; (6) dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari; (7) lebih menekankan pada nilai, sikap dan kepribadian.

Mengapa dalam pembelajaran kita menggunakan pendekatan deep dialoge/critical thinking?

Kegiatan pembelajaran pada hakikatnya tidak terlepas dari adanya proses dialog. Sebagai proses dialog, praktik pembelajaran memerlukan prasyarat kesiapan fisik dan mental pelaku penyampai pesan dan penerima pesan pembelajaran

Pembelajaran berbasis Deep dialoge/critical thinking (DD/CT) mengakses paham konstruktivistik dengan menekankan adanya dialog mendalam dan berpikir kritis. Elemen-elemen dalam menerapkan konstruktivisme meliputi: (1) menghidupkan pengetahuan artinya pengetahuan sebelumnya harus dijadikan pertimbangan dalam membelajarkan materi baru; (2) memperoleh pengetahuan dalam arti perolehan tambahan pengetahuan harus dilakukan secara menyeluruh , bukan berupa paket-peket kecil. Hal ini dapat dianalogkan belajar berenang, peserta didik harus mempraktekkannya, setelah paham akan proses berenang, guru dapat membelajarakan secara individual tentang berbagai gerakan dan gaya berenang; (3) memahami pengetahuan ini berarti peserta didik harus menggali, menemukan dan menguji semua pengetahuan baru yang diperoleh. Mereka perlu mendiskusikan dengan gurunya dengan teman, saling membelajarkan, saling mengkritik, serta membantu lainnya memperbaiki susunan perolehan pengetahuan yang dibelajarkan; (4) menggunakan pengetahuan artinya peserta didik memperoleh kesempatan memperluasan wawasan, menyaring pengetahuan dengan menggunakan berbagai cara dalam bentuk pemecahan masalah; (5) Refleksi pengetahaun yang diperoleh.

Dengan deep dialoge/critical thinking, seseorang diharapkan mampu di samping mengenali diri sendiri juga mengenal diri orang lain. Selain itu, dengan dialog mendalam/berpikir kritis, orang akan belajar mengenal dunia lain di luar dunia dirinya dan selanjutnya mampu menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masyarakat. Hal ini membuka kemungkinan-kemungkinan untuk memahami makna yang fundamental dari kehidupan secara individual dan kelompok dengan berbagai dimensinya. Dengan demikian, pada skala yang lebih luas, dialog lebih mengandalkam cara berpikir baru untuk memahami dunia.
Melalui deep dialoge/critical thinking, orang juga akan mampu mengikuti dunia lain dan secara perlahan-lahan mengintegrasikannya dalam kehidupan dirinya. Kapasitas dialog dan berpikir dalam DD/CT, pada dasarnya mendudukkan jabatan seseorang pada posisi yang sejajar, penuh kebijaksanaan dan terbuka satu sama lain. Dengan kegiatan beripikir kritis, orang dapat melakukan pemikiran yang jernih dan kritis, membagi rasa, saling mengasihi sehingga perbedaan pendapat dan pandangan yang ada dapat dipecahkan dan dicerahkan dengan dialog terbuka.

Dalam pandangan teori belajar humanistik, belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada peserta didik sebagai subyek belajar (Rianto 2000). Teori ini bertujuan untuk memanusiakan manusia agar mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan. Teori humanistik Kolb (dalam Irawan, 1996), membagi belajar ke dalam empat tahap, yaitu: (1) tahap pengalaman konkret; yaitu perserta didik dalam belajarnya hanya sekedar ikut mengalami suatu peristiwa; (2) tahap pengamatan kreatif dan reflektif, yaitu secara lambat laun peserta didik mampu mengdakan pengamatan secara aktif terhadap suatu peristiwa dan mulai memikirkan untuk memahaminya; (3) tahap konseptualisasi, yaitu peserta didik mampu membuat abstraksi dan generalisasi berdasarkan contoh-contoh peristiwa yang diamati; dan (4) tahap eksperimentasi aktif, peserta didik mampu menerapkan suatu aturan umum pada situasi baru.

Beberapa prinsip yang harus dikembangkan dalam deep dialoge/critical thinking, antara lain adalah: adanya prinsip komunikasi multi arah, prinsip pengenalan diri untuk mengenal dunia orang lain, prinsip saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan kesederajatan, prinsip saling memberadabkan (civilizing) dan memberdayakan (empowering), prinsip keterbukaan dan kejujuran serta prinsip empatisitas yang tinggi (Al-Hakim, 2002).

Dengan deep dialoge/critical thinking, seseorang di samping mampu mengenali diri sendiri juga mengenal diri orang lain. Selain itu, dengan dialog mendalam/berpikir kritis, orang akan belajar mengenal dunia lain di luar dunia dirinya dan selanjutnya mampu menghargai perbedaan-perbedaan yang ada di dalam masyarakat. Hal ini membuka kemungkinan-kemungkinan untuk memahami makna yang fundamental dari kehidupan secara individual dan kelompok dengan berbagai dimensinya. Dengan demikian, pada skala yang lebih luas, dialog mendalam dan berpikir kritis lebih mengandalkam ‘cara berpikir baru’ (new way of thinking) untuk memahami dunia (Swidler, 2000)..

Sebagai suatu inovasi pembelajaran DD/CT, diharapkan mampu memberdayakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga kualitas pembelajaran dan hasil belajar dapat terus ditingkatkan. M. Rogers (1995), memerinci adanya lima aspek inovasi yang dapat diterima oleh adopter, adalah sebagai berikut:(1) Relative advantage atau keuntungan relatif, adalah tindakan dimana suatu ide baru dianggap lebih baik dari pada ide-ide yang ada sebelumnya; (2) Compatibility, adalah sejauh mana suatu inovasi pendidikan dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan penerima inovasi; (3) Complexity, adalah tingkat dimana suatu inovasi pendidikan dianggap relatif sulit untuk dimengerti dan diterapkan oleh pelaksana pendidikan. Inovasi-inovasi tertentu begitu mudah dipahami oleh beberapa guru, sedangkan guru lainnya tidak. Kerumitan inovasi pendidikan berhubungan negatif dengan kecepatan adopsinya;(4) Trialibility, adalah suatu tingkat dimana sebuah inovasi dapat dicobakan dalam skala kecil. Ide baru yang dapat dicoba biasanya diadopsi lebih cepat daripada inovasi yang tak dapat dicoba lebih dulu;(5) Observability, adalah tingkat dimana hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Hasil-hasil inovasi tertentu mudah diamati dan dikomunikasikan kepada orang lain, sedangkan beberapa lainnya tidak. Observabilitas suatu inovasi pendidikan berhubungan positif dengan kecepatan adopsinya

Deep dialoge/critical thinking memuat kelima aspek tersebut diatas, selanjutnya dengan DD/CT orang juga akan mampu mengikuti dunia lain dan secara perlahan-lahan mengintegrasikannya dalam kehidupan dirinya. Kapasitas dialog dan berpikir dalam DD/CT, pada dasarnya mendudukkan seseorang pada posisi yang sejajar, penuh kebijaksanaan dan terbuka satu sama lain. Dengan kegiatan beripikir kritis, orang dapat melakukan pemikiran yang jernih dan kritis, membagi rasa, saling mengasihi sehingga perbedaan pendapat dan pandangan yang ada dapat dipecahkan dan dicerahkan dengan dialog terbuka.

Pembelajaran berbasis Deep dialoge/critical thinking memiliki berbagai kelebihan sebagai berikut :1) Deep dialoge/critical thinking dapat digunakan melatih peserta didik untuk mampu berpikir kritis dan imajinatif, menggunakan logika, menganalisis fakta-fakta dan melahirkan imajinatif atas ide-ide lokal dan tradisional. Sehingga peserta didik dapat membedakan mana yang disebut berpikir baik dan tidak baik, mana yang benar dan tidak benar. Dialog mendalam dan berfikir kritis bertujuan untuk mendapatkan pemahaman paling lengkap. Melalui dialog mendalam dan berpikir kritis peserta didik memahami bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain dan lingkungannya. Berpikir kritis membantu peserta didik menemukenali sekaligus menguji sikap mereka sendiri, serta menghargai nilai-nilai yang dipelajari;
2) Deep dialoge/critical thinking merupakan pendekatan yang dapat dikolaborasikan dengan berbagai metode yang telah ada dan dipergunakan oleh guru selama ini;
3) Deep dialoge/critical thinking merupakan dua sisi mata uang, dan merupakan hal yang inhernt dalam kehidupan peserta didik, oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran berbasis DD/CT selalu berkaitan dengan kehidupan nyata sehingga memudahkan peserta didik mengerti dan memahami manfaat dari isi pembelajaran; 4) Deep dialoge/critical thinking menekankan pada nilai, sikap, kepribadian, mental, emosional dan spiritual sehingga peserta didik belajar dengan menyenangkan dan bergairah;
5) Melalui pembelajaran berbasis deep dialoge/critical thinking, baik guru maupun peserta didik akan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman, karena dengan dialog mendalam dan berpikir kritis mampu memasuki ranah intelektual, fisikal, sosial, mental dan emosional seseorang; 6) Hubungan antara guru dan peserta didik akan terbina secara dialogis kritis, sebab pembelajaran berbasis DD/CT membiasakan guru dan peserta didik untuk saling membelajarkan, dan belajar hidup dalam keberagaman.

Dalam tataran praktis, kajian deep dialoge/critical thinking sebagai paradigma pengembangan pendidikan berlaku prinsip Unity in policy and deversity in implementation. Justru kenyataan ini sebagai kelebihan lain dari penerapan deep dialoge/critical thinking, sekaligus sejalan dengan pembelajaran yang sedang dikembangakan di perguruan tinggi yakni Student Centered Learning (SCL) yakni pembelajaran yang berpusat pada aktivitas belajar peserta didik, bukan semata aktivitas guru mengajar.

Ciri SCL (Dirjen Dikti, 2005) sebagai berikut: (a) peserta didik belajar baik secara individual maupun berkelompok untuk membangun pengetahuan dengan cara mencari dan menggali sendiri informasi dan teknologi yang dibutuhkannya secara aktif dari pada sekedat menjadi penerima pengetahuan yang pasif; (b) Guru lebih berperan sebagai facilitating, empowering, enabling (FEE) dan guides on the sides daripada sebagai mentor in the center yaitu membantu peserta didik untuk menemukan solusi terhadap permasalahan nyata sehari-hari, dari pada sekedar sebagai gatekeeper of information; (c) Peserta didik tidak sekedar kompeten di bidang ilmunya, namun juga kompeten dalam belajar artinya peserta didik tidak hanya menguasai secara kognitif saja tetapi mereka juga belajar tentang bagaimana belajar (learn how to learn). Melalui discovery, inquiry, problem solving, klarifikasi nilai akan terjadi pengembangan; (d) belajar menjadi kegiatan komunitas yang difasilitasi oleh guru yang mampu mengelola pembelajarannya menjadi berorientasi pada peserta didik; (e) belajar lebih dimaknai sebagai belajar sepanjang hayat (learning throughout of life) suatu ketrampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja; (f) belajar termasuk memanfaatkan teknologi yang tersedia, baik berfungsi sebagai informasi pembelajaran maupun sebagai alat untuk memberdayakan peserta didik dalam mencapai keterampilan utuh (intelektual, emosional dan psikomotor) yang dibutuhkan.

Agar deep dialoge/critical thinking dapat diimplementasikan dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, perlu diperhatikan kaidah-kaidah DD/CT sebagai berikut:
Pertama, keterbukaan, langkah awal untuk melakukan dialog mendalam dan berpikir kritis individu harus membuka diri terhadap mitra dialog, karena sifat terbuka dalam diri akan membuka peluang untuk belajar, mengubah dan mengembangkan persepsi. Pemahaman realitas dan bertindak secara tepat merupakan hasil berpikir kritis. Dengan demikian ketika masuk dalam dialog, kita dapat belajar, berubah dan berkembang dalam rangka meningkatkan berpikir kritis. Dialog sebagai suatu kegiatan memiliki dua sisi yakni dalam masyarakat (intern) dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya (antar). Hal ini dilakukan mengingat bahwa dialog pada hakekatnya bertujuan untuk saling berbicara, belajar dan mengubah diri masing-masing pihak yang berdialog, sehingga perubahan yang terjadi pada masing-masing pihak merupakan hasil berpikir kritisnya sendiri (self-critical thinking).

Kedua, kejujuran, bersikap jujur dan penuh kepercayaan diperlukan dalam deep dialoge/critical thinking, sebab dialog hanya akan bermanfaat manakala pihak-pihak yang melakukan bersikap jujur dan tulus.Artinya masing-masing mengemukakan tujuan, harapan, kesulitan dan cara mengatasinya melalui berpikir kritis secara apa adanya, serta saling percaya diantara mereka. Dengan demikian kejujuran merupakan prasyarat terjadinya dialog.

Ketiga, kerjasama. Untuk menanamkan kepercayaan anatar personal, langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan menyamakan persepsi dengan cara bekerjasama dengan orang lain, selanjutnya memilih pokok-pokok permasalahan yang memungkinkan memberi satu dasar berpijak yang sama. Setelah terjadi kesamaan persepsi selanjutnya melangkah pada permasalahan umum yang dapat dihadapi bersama atau mencari solusinya. Hal ini penting karena kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama atau dengan bekerjasama akan menghasilkan pemecahan yang menguntungkan pihak-pihak yang bermasalah (win-win solution).

Keempat, setiap personal harus mampu menjunjung nilai-nilai moral, deep dialoge/critical thinking terjadi manakala masing-masing pihak yang berdialog mampu menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etis atau santun, saling menghargai, demokratis yakni dengan memperlakukan mitra dialog sedemikian rupa sehingga berketetapan hati untuk berdialog. Artinya kita paling mengetahui apa yang kita ketahui, dan mitra dialog kita paling mengerti apa yang mereka ketahui. Di samping itu masing-masing saling mempelajari, untuk memperluas wawasan bersama, untuk memperdalam, mengubah dan memodifikasi pemahaman mereka.

Kelima, saling mengakui keunggulan, deep dialoge/critical thinking akan terjadi manakala masing-masing pihak menghadirkan hati. Dalam berdialog harus menghadirkan hati dan tidak hanya fisik. Dengan menghadirkan hati, masing-masing pihak yang berdialog dapat memberi respon kepada mitra dialog secara baik, dan tidak ada yang berkeinginan untuk mendominasi selama proses dialog berlangsung. Oleh sebab itu setiap personal harus saling mengakui keunggulan masing-masing dengan tidak menonjolkan diri sehingga akan diperoleh pemahaman bersama secara baik

Keenam, membangun empati. Jangan menilai sebelum meneliti, merupakan ungkapan yang tepat dalam membangun deep dialoge/critical thinking. Kita jauhkan prasangka, bandingkan secara adil. Dalam berdialog sedapat mungkin kita tidak menduga-duga tentang hal yang disetujui dan hal yang akan ditentang. Membangun empati dalam dialog mendalam pihak-pihak yang berdialog dapat menyetujui dengan tetap menjaga integritas diri mitra dialog, masyarakat dan tradisinya.

DD/CT dapat meningkatkan interaksi multi arah , yakni interaksi antar peserta didik dan antara peserta didik-guru. Kondisi ini sesuai dengan prinsip dasar pendekatan DD/CT yang memiliki garapan dalam pembelajaran bahwa peserta didik mendapatkan pengetahuan dan pengalaman melalui dialog mendalam dan bepikir kritis.
Bertolak pada kaidah-kaidah dalam DD/CT di atas maka salah satu ciri pembelajaran DD/CT adalah guru dan peserta didik dapat menjadi pendengar, pembicara dan peneliti, pemikir yang baik .Interaksi antara guru-peserta didik antara lain dapat menciptakan pembelajaran yang produktif, ketika menggali informasi untuk menemukan konsep, juga ketika mengecek pemahaman peserta didik, mengetahui sejauh mana keingintahuan peserta didik (misalnya dengan merahasiakan gambar, membuat permainan untuk membangun komunitas).

Dalam diskusi kelompok dan presentasi unjuk kerja, kegiatan bertanya dan menjawab telah mendorong interaksi antara peserta didik dengan peserta didik, antara peserta didik dengan guru, antara guru dengan peserta didik. Bahkan kalau mungkin antara peserta didik dengan narasumber yang bukan berasal dari sekolah, misalnya pakar hukum, tokoh partai dan pelaku sejarah dan museum dan sebagainya. Interaksi yang terjadi telah secara intensif terjadi ketika mereka berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika mengalami kesulitandan sebagainya.

Pentingnya interaksi dalam pembelajaran dengan pendekatan DD/CT yaitu interaksi dalam proses pembelajaran sebagai sesuatu yang lebih luas dari sekedar percakapan , bertanya (Questioning), atau menjawab (answering) antara dua orang atau lebih atau antar kelompok. Interaksi berarti memposisikan masing-masing individu pada posisi yang sama, sehingga secara bersamaan dapat mentransformasikan diri, membuka diri untuk menemukenali pikiran-pikiran yang berbeda, sehingga pembelajaran mampu meningkatkan interaksi, akan membawa peningkatan berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking).

Bagaimana mengembangkan pembelajaran berbasis deep dialogue/critical thinking?

Pengembangan pembelajaran berbasis DD/CT yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran dilakukan secara tahap demi tahap sebagaimana proses pembelajaran pada umumnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Sudjana (1997) yakni :
1. Tahap pra instruksional
Tahap pra instruksional merupakan tahap awal yang ditempuh pada saat memulai proses pembelajaran, antara lain melalui kegiatan: (1) Memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasai dari pelajaran yang sudah dibelajarkan, (2) Mengajukan pertanyaan pada peserta didik mengenai bahan yang telah dibelajarkan, (3) Mengulang secara singkat semua aspek yang telah dibelajarkan

2. Tahap instruksional
Tahap instruksional merupakan tahap pemberian atau pelaksanaan kegiatan pembelajaran yakni: (1) Penyampaian materi materi, tugas dan contoh-contoh, (2) Penggunaan alat Bantu untuk memperjelas perolehan belajar, (3) Serta menyimpulkan hasil pembelajaran

3. Tahap evelauasi
Tahap evaluasi dan tindak lanjut adalah tahap yang diperlukan untuk mengatahui keberhasilan tahap instruksional.
Model Pembelajaran dengan Pendekatan Deep dialoge/critical thinking (DD/CT) merupakan model pembelajaran yang membantu guru untuk menjadikan pembelajaran bermakna bagi mahapeserta didik. Dalam pendekatan ini pembelajaran sedapat mungkin mengurangi pengajaran yang terpusat pada guru (teacher centered) dan sebanyak mungkin pengajaran yang terpusat pada mahapeserta didik (Student centered), namun demikian guru harus tetap memantau dan mengarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dengan landasan filosofi konstruktivisme, DD/CT “dicita-citakan” menjadi sebuah pendekatan pembelajaran alternatif, dimana melalui DD/CT diharapkan peserta didik belajar melalui “mengalami, merasakan, medialogkan” bukan hanya “menghafalkan”.Hal ini sesuai dengan pandangan Gross ( 2000) bahwa dengan mengalami sendiri, merasakan, mendialogkan dengan orang lain, maka pengetahuan dan pemahaman peserta didik akan sesuatu yang baru akan mengendap dalam pikiran peserta didik dalam jangka panjang yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk bekal peserta didik dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya, dan mengembangkan kecakapan hidupnya (life skills).

Perencanaan Pembelajaran Berbasis DD/CT. Penyusunan rancangan pembelajaran berbasis DD/CT dilakukan melalui empat tahapan utama yaitu:
1. Mengembangankan komunitas (community building)
Membangun komunitas belajar. Tahap ini merupakan bagian refleksi diri guru terhadap dunia peserta didiknya. Pandangan dunia guru tentang kemampuan yang dimiliki oleh peserta didiknya menjadi bagian yang berguna dalam menyusun rancangan pembelajarannya yang bernuansa dialog mendalam dan berpikir kritis. Kegiatan refleksi ini meliputi identifikasi pengalaman guru dan pengalaman peserta didiknya, kelas belajar, dan sebagainya

2. Analisis isi (content analysis)
analisis isi. Proses untuk melakukan identifikasi, seleksi dan penetapan materi pembelajaran. Proses ini dapat ditempuh dengan berpedoman atau mengunakan rambu-rambu materi yang terdapat dalam kurikulum/diskripsi matakuliah, yang antara lain standar minimal, urutan (sequence) dalam keluasan (scope) materi, kompetensi dasar yang dimiliki, serta keterampilan yang dikembangkan. Di samping itu, dalam menganalisis materi guru hendaknya juga menggunakan pendekatan nilai moral, yang subtansinya meliputi pengenalan moral, pembiasaan moral dan pelakonan moral (Dekdiknas, 2000).

3. Analisis latar cultural (cultural setting analysis)
Analisis latar yang dikembangkan dari latar kultural dan siklus kehidupan (life cycle). Dalam analisis ini mengandung dua konsep, yaitu konsep wilayah atau lingkungan (lokal, regional, nasional dan global) dan konsep manusia berserta aktifitasnya yang mencakup seluruh aspek kehidupan (ipoleksosbudhankam). Selain itu, analisis latar juga mempertimbangkan nilai-nilai kultural yang tumbuh dan berkembang serta dijunjung tinggi oleh suatu masyarakat serta kemungkinan kebermanfaatannya bagi kehidupan peserta didik. Dalam kaitan itu, analissi latar berhubungan erat dengan prinsip yang harus dikembangkan dalam mengajarkan nilai dan moral, yaitu prinsip dari mudah ke yang sukar, dari yang sederhana menjadi kompleks, dari konkrit ke abstrak, dari lingkungan sempit/dekat ke lingkungan yang meluas (Dekdiknas, 2000)

4.Pengorganisasian materi (content organizing)
Pengorganisasian materi. Dengan pendekatan DD/CT dilakukan dengan memperhatikan prinsip “4 W dan 1 H”, yaitu What (apa), Why (mengapa), When (kapan), Where (dimana) dan How (bagaimana).
Dalam rancangan pembelajaran , keempat prinsip ini, harus diwarnai oleh ciri-ciri pembelajaran dengan Deep Dialogue dalam menuju pelakonan (experience) nilai-nilai moral dan Critical Thinking dalam upaya pencapaian/pemahaman konsep (concept attaintment) dan pengembanagn konsep (concept development). Kesemuanya dilakukan dengan memberdayakan metode pembalajaran yang memungkinkan peserta didik untuk ber-DD/CT

Lima komponen atau tahap yang terdapat dalam model pembelajaran dengan pendekatan DD/CT yakni hening, membangun komunitas, kegiatan inti dengan strategi penemuan konsep (Concept Attainment) dan Cooperative Learning , refleksi dan evaluasi. Demikian juga kegiatan penemuan konsep dan cooperative learning, telah dapat menciptakan kebersamaan, dan dialog mendalam tentang segala hal baru yang diterima mahapeserta didik, kegiatan ini juga merangsang daya kritis mahapeserta didik dalam menangkap permasalahan, mencari solusi permasalahan dengan caranya sendiri dan bantuan orang lain, dan mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Kegiatan refleksi juga merupakan sesuatu yang dapat dipandang keunggulan pendekatan DD/CT, karena dapat sebagai sarana saling introspeksi baik guru mapun mahapeserta didik, juga ungkapan bebas dari pandangan, usul terbaiknya demi kebaikan bersama. Refleksi memiliki fungsi mendidik pada mahapeserta didik untuk menyukai belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. Ini sejalan dengan pendapat Gross (2000) bahwa dengan refleksi terjadi proses penajaman pengalaman yang peroleh dan mereproduksi ketika menyampaikan secara lesan.

Idealnya penilaian hasil belajar harus dapat dilakukan dengan banyak cara, meskipun di lapangan masih ditemukan banyak kesulitan untuk melaksanakannya terutama untuk penilaian dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics Volues). Ini menjadi tatantangan bagi pengembang pembelajaran dengan DD/CT untuk mengembangkan model penilaian yang dapat membantu guru lebih obyektif memberi penilaian hasil belajar peserta didiknya.

Rambu rambu penerapan pembelajaran DD/CT adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan awal, dalam setiap mengawali pembelajaran dimulai dengan salam, tujuan pembelajaran, kompetensi yang akan dicapai, kemudian menggunakan elemen dinamika kelompok untuk membangun komunitas, yang bertujuan mempersiapkan peserta didik berkonsentrasi sebelum mengikuti pembelajaran.
Aktivitas pembelajaran pada tahap ini dilalui sebagai berikut:
a. Membuka pelajaran, dalam membuka pelajaran guru selalu mengajak atau memerintahkan peserta didik untuk berdoa atau hening menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Tujuan dari berdoa atau hening adalah memusatkan fisik dan mental, mempersiapkan segenap hati, perasaan dan pikiran peserta didik agar dapat mengikuti pembelajaran dengan mudah. Model pembelajaran dengan DD/CT memiliki beberapa keunggulan seperti pembelajaran diawali dan diakhiri dengan “hening”. Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum pembelajaran, selain itu juga dapat menghadirkan hati dan pikiran peserta didik-guru pada pembelajaran saat itu. Sebagaimana dikemukakan oleh Swidler (2000) yang menekankan pentingnya hening dalam segala aktifitas, karena menurutnya dengan hening seseorang telah menjalin interaksi intern yakni dengan dirinya maupun ekstern yakni dengan Tuhan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa hening membawa manusia pada pengendapan hati dan pikiran, sehingga memudahkan proses dialog mendalam. Berdasarkan teori kontinum, bahwa dialog juga terjadi secara kontinum, Proses pertama dinamakan Dialog distruktif manakala elemen-elemennya adalah polarisasi yang dipertentangkan satu sama lain. Proses kedua, dinamakan dialog disintegrasi manakala elemen-elemennya adalah tolerasi antara satu dengan lainnya, Proses ketiga dinamakan dialog dialogis manakala elemen-elemennya ada saling belajar antara satu dengan lain. Proses terakhir dialog mendalam manakal elemen-elemennya adalah saling tranformasi. Dengan demikian hening atau doa dapat menciptakan situasi menunju Deep dialogue. Kebiasaan selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar mengajar, secara langsung telah membimbing dan mengajarkan mahapeserta didik menjadi insan religius, sehingga akan mendukung upaya pendidikan anak seutuhnya (PAS) yang pada gilirannya akan sangat mendukung upaya mewujudkan manusia Indonesia Seutuhnya (MIS)

b. Dinamika kelompok dalam rangka membangun komunitas dapat dilakukan dengan membaca puisi, menyanyi, peragaan, bermain peran, simulasi atau senam otak/brain gym yang relevan dengan materi pokok yang dibelajarkan. Kegiatan membangun komunitas juga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat majemuk oleh karena itu apabila dalam pembelajaran telah dibangun keterikatan terhadap komunitas kecil (kelas), maka pada skala makro sikap dan perilaku toleransi, menghargai perbedaan, terbuka terhadap kritik, berani tampil beda, dan sikap terpuji lainnya akan dapat mengantarkan mahapeserta didik menjadi warga negara demokratis.Disini peserta didik dituntut untuk berpikir kritis melalui analisis terhadap lagu, gambar, peristiwa dan sebagainya. Kegiatan seperti ini mampu mengaktifkan intelegensi ganda (multiple intellegences) yang dimiliki peserta didik. Aktivitas yang melibatkan unsure dan prinsip dinamika kelompok secara tak langsung bertujuan membangkitkan perasaan gembira, senang penuh gairah sehingga peserta didik termotivasi. Menurut Widarti (2002) tujuan utama dari aktifitas tersebut adalah mewujudkan impian guru dalam melaksanakan prinsip” bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.

2. Kegiatan Inti, kegiatan ini sebagai pengembangan dan pengorganisasian materi pembelajaran. Adapun tahap yang dilalui sebagai berikut:
Tahap pertama guru melaksanakan kegiatan dengan menggali informasi dengan memperbanyak brain storming dan diskusi dengan melemparkan pertanyaan komplek untuk menciptakan kondisi dialog mendalam dan berpikir kritis. Pada tahap ini peserta didik dilatih sekaligus diberikan pengalaman melalui proses usaha menemukan informasi, konsep atau pengertian yang diperlukan dengan mengoptimalkan dialog mendalam dan berpikir kritis antar sesama. Setiap perbedaan pendapat, pandangan dan pemikiran merupakan hal yang patut dikomunikasikan dengan tetap menghormati eksistensi masing-masing yang sedang berdialog, sehingga dalam diri peserta didik tertanam rasa menerima dan menghomati perbedaan, tolerensi, empati, terbuka. Dalam kegiatan ini konsep dan definisi tidak diberikan oleh guru, tetapi digali oleh peserta didik melalui teknik concept attainment (CA), yakni proses kegiatan membangun ketercapain sebuah konsep sampai pada pengertian atau definisi.

Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) memotivasi dan menumbuhkan kesadaran bahwa antara guru-peserta didik sama-sama belajar. Guru hanyalah salah satu sumber, peserta didik dan sumber –sumber lain ada disamping guru; (2) memberi bukti pada peserta didik bahwa kemampuan menyusun definisi atau pengertian dari konsep yang bermutu dapat dilakukan oleh peserta didik, tidak kalah bermutunya dengan yang diberikan guru, bahkan yang ada dalam buku referensi; (3) memberi pengalaman belajar menuju ketuntatasan belajar bermakna, bukan ketuntasan materi saja.

Selanjutnya dilaksanakan cooperative learning untuk memecahkan permasalahan yang diberikan guru. Penetapan cooperative learning dapat dengan teknik pelaporan ataupun Jigsaw dan Student Teams Achievement Division (STAD).

Tahap kedua, merupakan tahap umpan balik yang selalu dilaksanakan guru, setelah peserta didik diberi waktu untuk berdialog mendalam , semua temuan dan hasil belajar yang diperoleh selama diskusi dalam situasi cooperative learning. Tahap ini apapun perolehan belajar peserta didik merupakan upaya maksimal mereka, oleh sebab itu guru harus mengakui dan memberi penghargaan. Selanjutnya dilakukan klarifikasi atau penajaman atas temuan peserta didik terarah pada kompetensi dan materi pokok yang guru belajarkan. Umpan balik guru dimaksudkan sebagai penegasan fungsi dialog mendalam yang bermuara pada peleksanaan evaluasi pemahaman peserta didik. Tahap ini sekaligus sebagai bukti bahwa guru bukan sumber yang “tahu segalanya”, namun antar peserta didik dan pendidiknya terjadi saling belajar dan saling membelajarkan, sehingga terkesan “simbiosis mutualism”

3. Kegiatan akhir, tahap ini merupakan tahap pengambilan simpulan dari semua yang saling dibelajarkan, sekaligus penghargaan atas segala aktivitas peserta didik . Tahap ini dilakukan penilaian hasil belajar dan pemajangan dan penyimpanan dalam file (bahan portofolio) peserta didik. Tahap berikutnya adalah refleksi Kegiatan ini merupakan kegiatan pembelajaran yang penting dalam pendekatan DD/CT. Kegiatan ini bukan menyimpulkan materi pembelajaran, tetapi pendapat peserta didik tentang apasaja yang dirasakan dan dialami yang dikaitkan dengan apa saja yang dirasakan, dialami dan dilakukan di masa lalu. Peserta didik menyampaikan secara bebas perasaan dan keinginan yang terkait dengan pembelajaran. Pembelajaran diakhiri dengan hening atau doa.

Melalui tahap-tahap tersebut , diharapkan peserta didik dapat menemukan konsep, memecahkan permasalahan melalui dialog mendalam dan berpikir kritis dengan guru, dengan sesama peserta didik dan narasumber lainnya. Penerapan DD/CT di kelas cukup mudah, apabila guru telah memahami kaidah-kaidahnya sebagai berikut:
1. Perubahan pandangan guru bahwa pemberdayaan peserta didik dalam pembelajaran dengan memberi kesempatan pada peserta didik, untuk mengamati, menganalisis, mendialogkan dan akhirnya mengkonstruksikan pengetahuan dan pengalaman serta ketrampilan baru

2. Untuk mengajarkan satu kompetensi dasar sebaiknya dilaksanakan dengan kegiatan menggali dan menemukan sendiri

3. Kondisikan peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat dan bertanya secara terbuka

4. Ciptakan suasana dialog mendalam “antar peserta didik” dan “antara peserta didik dengan guru” oleh karenanya upayakan untuk selalu belajar dalam kelompok

5. Pergunakan berbagai media dan sumber belajar untuk memperluas wawasan

6. Berilah peserta didik kesempatan untuk melakukan refleksi sebelum pelajaran berakhir

7. Penilaian hendaknya tidak hanya berdasarkan tes
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa pendekatan DD/CT akan mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik. Keadaan ini tidak terlepas dari gaya mengajar guru yang harus berubah dari gaya mengajar konvensional yakni yang hanya dengan ceramah bervariasi berubah gaya mengajar konstruktivisme yang dilakukan dengan menggunakan berbagai metode (multi methods), multi media (multi media).

Daftar Pustaka
Al Hakim, Suparlan, 2004, Strategi Pembelajaran Berdasarkan Deep dialoge/critical thinking (DD/CT), P3G, Dirjen Dikdasmen,

Ellison. Laura, 2000, Tujuh Langkah Deep dialogue/Dialog Mendalam Yang Diterapkan Pada Para Guru “ Pendidikan Anak Seutuhnya”, Unicef, GDI

Farris,P.J.&Cooper,S.M. 1994. Elementary Social Studies: a Whole language Approach. Iowa: Brown&Benchmark Publishers.

Sudjana .1997. Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Rosdakarya

Untari, Sri, 2002, Pendekatan Deep dialoge/critical thinking,Jakarta, Dirjendisdasmen, PPPG IPS Dan PMP Malang

Walsh,D. 1988. “Critical Thinking to Reduce Prejudice. Social Education”. (280-282).

*) Disajikan dalam seminar sehari di PGSD UNIB Desember 2008
**) Widyaiswara LPMP Bengkulu