“Kemelut” Intelektual dalam Berwacana

Banyak kalangan intelektual Muslim kurang mengembangkan tradisi ilmiah. Diantaranya jarang membahas masalah serius dengan dengan persiapan matang

Oleh: Henri Shalahuddin, MA*

Rabu, 24 September 2008, Badan Litbang dan Diklat, Puslitbang Lektur Keagamaan menggelar bedah buku “Dua Wajah Islam: Moderatisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global”. Buku ini adalah terjemahan dari “The Two Faces of Islam: Saudi Fundamentalism and Its Role in Terrorism” karya Stephen Schwartz. Edisi Indonesia-nya diterbitkan atas kerjasama antara Libforall, Blantika, The Wahid Institute dan Center For Islamic Pluralism (CIP), USA.

Dalam acara bedah buku ini dihadirkan empat orang pembicara; dua orang sebagai narasumber, Prof. Dr. HM. Atho Mudzhar (kepala Badan Litbang dan Diklat) dan Prof. Dr. H. Maidir Harun (Kepala Puslitbang Lektur Keagamaan); Dr. M. Syafi’i Anwar (Direktur Indonesian Center for Islam and Pluralism, ICIP) sebagai pembedah dan Henri Shalahuddin, MA (penulis) mewakili, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) sebagai pembanding. Peserta bedah buku ini terbatas untuk para peneliti di lingkungan Departemen Agama.

Sekilas tentang Buku

Stephen Schwartz, sang penulis buku ini dalam biografinya, mengaku mengenal dan masuk Islam setelah melakukan kajian tasawuf, dan memperkenalkan dirinya sebagai murid dan pengagum Ibn Arabi.

Dalam website Center for Islamic Pluralism (CIS) dia menuturkan bahwa dia adalah penganut mazhab Hanafi sejak 1997. Saat ini dia menjabat sebagai direktur eksekutif di CIS dan menjadi analis kebijakan senior dan direktur program Islam dan Demokrasi di Yayasan Pertahanan Demokrasi (Foundation for the Defense of Democracies), sebuah lembaga pemikiran konservatif. Pria ini juga dikenal sebagai pengkritik pemerintahan Bush, namun di saat yang sama dia juga mendukung kebijakannya di Timur Tengah.

Schwartz yang berlatarbelakang jurnalis ini, lahir 1948 di Columbus Ohio dan berasal dari keturunan Yahudi dan Protestan. Setelah memeluk Islam, ia sangat vokal mengkritik apa yang dianggapnya sebagai terorisme.

Lalu dia menyimpulkan bahwa sumber terorisme di dunia Islam adalah Wahabi, oleh karena itu dia menyebut Wahabi sebagai neo-Khawarij. Dalam artikelnya bertajuk “Sebuah panduan untuk para aktifis Kampus Muslim dan Arab dan Organisasi komunitas di kawasan Amerika Utara” (An Activist’s Guide to Arab and Muslim Campus and Community Organizations in North America), Schwartz menyebut beberapa organisasi yang ia klaim sebagai bagian dari “Lobi Wahabi” di Amerika Serikat. Organisasi-organisasi tersebut di antaranya Komite Anti Diskriminasi Amerika-Arab, Institut Amerika-Arab, Asosiasi Pelajar Muslim, Yayasan Relasi Islam Amerika, Yayasan Publik Muslim, Yayasan Muslim Amerika, dan Masyarakat Islam Amerika Utara (the American-Arab Anti-Discrimination Committee, the Arab American Institute, the Muslim Student Association, the Council on American-Islamic Relations, the Muslim Public Affairs Council, the American Muslim Council, and the Islamic Society of North America).

Oleh karena itu, dia mencetuskan paham “Islam Moderat” dengan mendirikan lembaga the Center for Islamic Pluralism pada 2004 di Washington DC.

Louay Safi, tokoh Islam dan Direktur Eksekutif di Islamic Society of North America, memandang usaha Schwartz yang mengembangkan “Islam Moderat” ini dilakukan dengan cara memojokkan arus utama organisasi-organisa si Muslim Amerika. (lihat Wikipedia).

Sebagai seorang muallaf, anehnya Schwartz justru mempunyai pandangan yang kontroversial. Dia memandang kedudukan Al-Quran setara dengan Zabur dan lebih rendah dari Taurat dan Injil. Diantaranya dia menulis sebagai berikut;

“Sekalipun berisikan cerita-cerita, al-Qur’an tidaklah didasarkan pada sebuah narasi historis, sebagaimana Taurat dan Injil. Pada akhirnya, dengan tanpa maksud melukai perasaan umat Islam atau siapa pun lainnya, mungkin lebih bermanfaat membandingkan al-Qur’an dan 114 suratnya, sebagian panjang dan sebagian pendek dengan Zabur daripada dengan Taurat dan Injil. Al-Qur’an merupakan suatu jenis puisi liris yang diperluas, yang berisi seruan Tuhan kepada umat manusia”. (hal. 41)

Dia juga lebih cenderung memihak Israel dan mengutuk perlawanan bangsa Palestina serta para pemberi bantuan terhadap bangsa ini, termasuk negara Saudi yang telah memberi sumbangan kepada keluarga syuhada’ Pelestina. (hal. 368-369)

Kebenciannya terhadap golongan Wahabi membuatnya untuk tidak sungkan melemparkan fitnahan kepadanya. Di antara fitnah itu adalah: a) bahwa Wahabi telah menambahkan “rukun keenam” pada rukun Islam, yaitu kema’suman Ibn Abdul Wahhab; b) Doktrin-doktrin Ibn Abdul Wahhab secara eksplisit merendahkan Muhammad (hal. 115); c) Menyimpulkan di antara tiga esensi dakwah Ibn Abdul Wahhab adalah bahwa ibadah lebih penting daripada niat; d) Menuduh Ibn Abdil Wahhab memerintahkan agar kuburan-kuburan para wali digali dan dihancurkan, atau diubah menjadi kakus. (hal. 117); e) dia juga menyatakan bahwa Nabi tidak pernah sekalipun meramalkan umatnya terjerumus dalam kemusyrikan, sebagaimana yang dituduhkan Wahabi (hal. 117).

Di samping itu, sebagai muallaf yang minim wawasan keislaman dia justru melemparkan tuduhan-tuduhan kontroversial, seperti: a) Memandang Mazhab Hanbali sebagai pelopor teologi fundamentalis dalam Islam, hanya gara-gara mazhab ini memusuhi Mu’tazilah dan lebih menekankan penggunaan Hadis Sahih daripada analogi. (hal. 75); b) Fitnah terhadap Usman ibn ‘Affan RA dan menyatakan:

“…ia (Usman, pen) dibunuh oleh tentara yang tidak puas dengan kebijakannya dalam berbagai rekrutmen jabatan politik yang lebih berpihak kepada keluarganya sendiri… Kematiannya merupakan pertanda buruk bagi perkembangan selanjutnya: para pembunuhnya melemparkan batu pada prosesi pemakamannya. Utsman banyak memberi kontribusi pada kejayaan ummah, tetapi kekuasaannya juga telah dirusak secara serius oleh nepotismenya kepada Bani Umayyah” (hal. 63-64); c) menyatakan bahwa Imam Abu Hanifah adalah tokoh yang muncul dari kalangan Murji’ah (hal. 73-74).

Klaim dan tuduhan Schwartz ini lebih tepat dikatakan fitnah, tatkala dia tidak pernah menguatkannya dengan bukti dan rujukan data yang diperolehnya. Maka dalam acara bedah buku ini, saya menyimpulkan bahwa buku yang ditulis Schwartz tidak ilmiah dan tidak akademis. Apalagi dia tidak menjelaskan definisi istilah moderatisme dan fundamentalisme dalam Islam yang merupakan fokus utama kajian dalam bukunya ini.

MUI dan Pluralisme

Meskipun buku ini mendapat kritik dari pembanding dan beberapa peserta, namun narasumber mempunyai anggapan lain. Narasumber yang di awal presentasinya mengatakan bahwa pembagian wajah Islam hanya pada moderatisme dan fundamentalisme tersebut bermasalah, namun dia juga menampik kritik ilmiah terhadap buku ini dan tidak mempermasalahkan dari mana informasi yang ada diperoleh. Lalu dia berkomentar sebagai berikut:

“Schwartz ini, tulisan-tulisannya ya.. harus dimaklumi sebagai tulisan wartawan tadi itu. Jadi dia baik sebagai informasi yang tidak ada footnote-nya… tapi kalau mau dikaji secara ilmiah, itu sebenarnya kesalahan terletak pada orang yang mau mengkajinya itu; karena meletakkan dia sebagai karya ilmiah, ha.. ha… Tapi kalau mengkajinya diletakkan sebagai karya jurnalis, ya.. bagus, artinya prespektif itu. Maka saya kira memang emm.. jangan dipindahkan posisinya itu. Maka.. kita ini … peneliti Lalu semua apa yang kita lihat, dilihat dengan kaca mata penelitian, dengan prosedur-prosedur yang ada begitu. Meskipun orang itu sendiri sudah bilang, saya jurnalis saja. Nah, saya kira di situ, tapi itu tidak mengurangi minat kita untuk membaca lebih lanjut,” ujar salah seorang nara sumber.

Salah satu nara sumber, juga kembali mengomentari masalah haramnya fatwa pluralisme yang pernah disampaikan Mejelis Ulama Indonesia (MUI). Dia mengomentari fatwa MUI tentang haramnya Pluralisme Agama. Menurutnya, MUI hanya bermain kata-kata.

“Jadi MUI itu bermain dengan kata-kata, mestinya dia bermain-main dengan kata-kata Arab, jangan dengan kata-kata Inggris, karena nggak biasa dia.. Bermain dangan kata-kata Arab lebih bagus dia, misalnya: Ta’addudul haqiqah, aa.. Itu lebih pas, karena dia biasa bicara tentang ta’adduduz zaujah (poligami, pen).. hua..ha… Ya kan, tinggal pararel aja itu.. Ha..ha..,” ujar Prof. Dr. HM. Atho Mudzhar.

Penutup

Akhirnya, acara bedah buku “Dua Wajah Islam: Moderatisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global” merupakan salah satu bentuk kegiatan ilmiah yang semestinya mendapat perhatian serius dalam dunia keilmuan. Akan lebih bermakna, jika masing-masing pembicara yang membedah buku ini mempersiapkan makalah tertulis. Sehingga para peserta bisa melakukan kajian –yang sesungguhnya sangat serius– lebih lanjut, tidak asal-asalan dan mendapat manfaat lebih luas. Sayangnya forum ini menjadi kurang serius karena tiga dari empat pembicara, tidak menyiapkan makalahnya secara tertulis.

Kurangnya persiapan ini menunjukkan minimnya perhatian terhadap masalah keilmuan. Sehingga dikhawatirkan tradisi ilmu di kalangan umat semakin merosot dan kurang mendapatkan prioritas lebih. Hal ini mengingatkan saya pada kata-kata Abu Thalib al-Makki yang dikutip Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya sebagai berikut; “Tidak ada pekerjaan maksiat yang lebih jahat daripada kebodohan (jahl), dan kebodohan terbesar adalah tidak mengenali kebodohan (al-jahlu bil jahli).”

*Penulis adalah peneliti INSISTS

Sumber : Hidayatullah. com