PENELITIAN KEBIJAKAN
ABSTRAK

STRATEGI SEKOLAH DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL
MATA PELAJARAN BAHASA INDONEIA
SMP DAN SMA DI PROPINSI BENGKULU TAHUN 2007

Penelitian ini mengungkapkan Strategi Sekolah Dalam Menghadapi Ujian Nasional (Mata Pelajaran Bahasa Indonesia AMP dan SMA)Tahun 2007, Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara, studi dokumentasi dan angket. Hasil penelitian menunjukkan : 1) Sekolah telah melakukan analisis kekuatan internal sekolah, baik sekolah yang berkategori sekolah tinggi maupun sekolah berkategori rendah. Hal ini ditandai dengan 54 sekolah yang dijadikan responden hanya 1 sekolah yang tidak melakukan. 2) Sekolah telah melakukan tambahan jam pelajaran di luar jam evektif. Berkaitan dengan hal itu dari kuesioner yang diberikan kepada responden dinyatakan bahwa semua sekolah (100%) menyelenggarakan pelajaran tambahan. Pelajaran tambahan yang dimaksud yaitu membahas soal-soal ujian nasional empat tahun sebelumnya. 3) Penambahan jam pelajaran di mulai dengan penyusunan silabus mata pelajaran yang di UN-kan. Dari 47 sekolah yang dijadikan responden 5 sekolah diantaranya tidak menyusun silabus 4) Kepala sekolah memantau pelaksanaan pelajaran tambahan. Dari data yang dikumpulkan dapat dikemukakan bahwa dari 25 responden kepala sekolah yang sekolahnya berkategori baik 10 orang menyatakan tidak pernah memantau, 9 orang kadang-kadang, dan 6 orang menyatakan selalu. Sedangkan untuk sekolah yang berkategori kurang baik, dari 22 responden, 8 orang menyatakan tidak pernah memantau, 9 orang kadang-kadang dan 5 orang selalu melakukan pemantauan. 5) Sekolah yang berkategori baik semuanya merencanakan dan menyelenggarakan try out dan bahkan kegiatan ini tidak hanya dilakukan satu kali saja. Sedangkan untuk sekolah yang berkategori kurang baik, dari 22 responden, 20 sekolah menyelenggarakan try out sedangkan yang dua sekolah lagi tidak pernah menyelenggarakan. 6) Kepala sekolah peduli terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah , hal ini dibuktikan dengan jawaban semua responden (100 %) baik pada sekolah kelompok tinggi maupun sekolah kelompok rendah menyatakan kepala sekolah peduli terhadap peningkatan mutu di sekolah. 7) Guru di sekolah kelompok tinggi telah menjalankan tugasnya dengan baik, sementara pada sekolah kelompok rendah kompetensi guru perlu ditingkatkan, khususnya dalam konsep wawasan kependidikan.
Oleh: Lanjar Pramudi

ABSTRAK
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MUTU PENDIDIKAN
DI KABUPATEN BENGKULU UTARA PROPINSI BENGKULU
TAHUN 2008

Bertolak dari hasil grand tour yang peneliti lakukan dapat dikemukakan bahwa rendahnya mutu pendidikan di kabupaten Bengkulu Utara disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah: (1) kurangnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, (2) rendahnya kompetensi guru, (3) guru kurang terampil dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran, (4) guru tidak mampu meyaknkan siswa bahwa materi ajar yang diberikan sangat penting untuk bekal hidupnya, (5) proses pembelajaran yang monoton, (6) padatnya materi pembelajaran yang dibebankan kepada siswa, dan (7) guru kurang mampu mengembangkan dan menjabarkan kurikulum.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan di kabupaten Bengkulu Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan di kabupaten Bengkulu Uatara.

Pengumpulan data dilakukan dengan melalui wawancara, observasi nonpartisipan, angket dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan tekhnik analisis kuantitatif sederhana yaitu dengan persenatase dan disajikan dalam bentuk metrik serta dijelaskan dengan kata-kata deskriptif. Untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan tekhnik triangulasi, member check, dan teman sejawat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya mutu pendidikan di kabupaten Bengkulu Utara disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal terdiri dari: (1) rendahnya kompetensi guru, (2) rendahnya anggaran pendidikan, (3) rendahnya etos kerja guru, (4) Minimnya sarana dan prasarana yang ada di sekolah, (5) kurangnya perhatian orang tua siswa. Sedangkan yang termasuk faktor internal adalah rendahnya minat belajar siswa.
Oleh : Lanjar Pramudi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s