<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>WIDYA WISATA</title>
	<atom:link href="http://elpramwidya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elpramwidya.wordpress.com</link>
	<description>Blog yang sederhana ini mudah-mudahan bermanfaat</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Aug 2011 15:05:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='elpramwidya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>WIDYA WISATA</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://elpramwidya.wordpress.com/osd.xml" title="WIDYA WISATA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://elpramwidya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Penilaian Kinerja Guru</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2011/08/19/penilaian-kinerja-guru/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2011/08/19/penilaian-kinerja-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 15:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[Permenegpan dan RB nomor 16 tahun 2009 mulai tahun ini akan diberlakukan bagi guru-guru yang telah bersertifikasi dan secara menyeluruh baru akan diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 2013. Inti dari Permenegpan dan RB nomor 16/2009 ini adalah mengatur tentang tata cara penilaian Kinerja Guru dan Sistem Kenaikan Pangkatnya. Sesuai dengan ketentuan yang ada guru mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=562&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-562"></span>Permenegpan dan RB nomor 16 tahun 2009 mulai tahun ini akan diberlakukan bagi guru-guru yang telah bersertifikasi dan secara menyeluruh baru akan diberlakukan <!--more-->mulai tanggal 1 Januari 2013.</p>
<p>Inti dari Permenegpan dan RB nomor 16/2009 ini adalah mengatur tentang tata cara penilaian Kinerja Guru dan Sistem Kenaikan Pangkatnya.</p>
<p>Sesuai dengan ketentuan yang ada guru mulai golongan III/a sampai dengan IV/e harus melakukan PKB dan mulai III/b guru sudah dituntut untuk melakukan publikasi karya ilmiahnya, disamping harus melakukan tugas rutinnya sebagai guru dengan kinerja yang baik.</p>
<p>Dalam rangka menyikapi hal tersebut maka mulai saat para guru harus segera mengatur strategi agar pada saatnya peraturan ini diberlakukan tidak merasa dirugikan.</p>
<p>Apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi hal tersebut? pertama guru harus mencari tempat bertugas yang dapat memenuhi jam wajib mengajarnya yaitu 24 jam tatap muka perminggu. kedua para guru harus mau dan mampu menyisihkan sebagian tunjangan sertifikasinya untuk membiayai pelaksanaan PKB. ketiga para guru harus mengetahui 14 indikator yang terhimpun dalam kompetensi guru yang menjadi acuan dalam penilaian kinerja guru atau para guru harus mau melakukan evaluasi diri terhadap kinerjanya selama ini dengan mengacu pada instrumen PK Guru,dan keempat para guru mulai saat ini harus mau menulis untuk publikasi karya ilmiahnya.</p>
<p>Semoga informasi singkat ini dapat memotivasi sobat-sobat semua dengan menunjukkan kinerja terbaiknya mulai saat ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/562/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=562&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2011/08/19/penilaian-kinerja-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMANTAPAN KINERJA KEPALA SEKOLAH</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/06/23/pemantapan-kinerja-kepala-sekolah/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/06/23/pemantapan-kinerja-kepala-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 01:26:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan ajar diklat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Bapak dan Ibu kepala sekolah yang saya banggakan di era abad ke-21 ini persaingan semakin hebat, dengan demikian sebagai kepala sekolah harus selalu meningkatkan kompetensinya, disamping itu tentunya juga harus selalu mengikuti dan siap untuk melakukan perubahan-perubahan agar kita dan anak muridkita tidak ketinggalan dari orang lain dan siap bersaing. Berikut ini saya postingkan informasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=522&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-522"></span>Bapak dan Ibu kepala sekolah yang saya banggakan di era abad ke-21 ini persaingan semakin hebat, dengan demikian sebagai kepala sekolah harus selalu meningkatkan kompetensinya, disamping itu tentunya juga harus selalu mengikuti dan siap untuk melakukan perubahan-perubahan agar kita dan anak muridkita tidak ketinggalan dari orang lain dan siap bersaing. Berikut ini saya postingkan informasi terbaru berkaitan dengan kepemimpinan pembelajaran. JIka Bapak/Ibu menginginkan silahkan mengcopy materi berikut ini dan semoga bermanfaat.  <!--more--></p>
<p>KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN<!--more--></p>
<p>Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan<br />
Kepala Sekolah</p>
<p>DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN<br />
DIREKTORAT JENDERAL<br />
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN<br />
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL<br />
2010 </p>
<p>SAMBUTAN<br />
DIREKTUR JENDERAL<br />
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN</p>
<p>Di dalam pelaksanaan program penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang merupakan agenda dari program 100 hari Mendiknas, Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK)  telah   menyusun materi untuk penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah.<br />
Di dalam pengembangan materi tersebut  telah mengacu kepada standar kepala sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 13 tahun 2007. Saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Direktorat Tenaga Kependidikan atas dihasilkannya materi penguatan kemampuan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi kepala sekolah.<br />
Materi ini diharapkan  dapat dijadikan referensi bagi individu kepala sekolah dan lembaga yang terkait dalam  penguatan kemampuan kepala sekolah di Propinsi dan Kab/Kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi terhadap program penguatan kepala sekolah dapat memperkaya dengan berbagai referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk mewujudkan kepala sekolah yang profesional dan akuntabel.<br />
Semoga semua usaha kita untuk  penguatan kemampuan kepala sekolah sesuai dengan standar kepala sekolah   sebagaimana diamanahkan dalam Permendiknas No. 13 tahun 2007 dapat diwujudkan, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang cerdas, kreatif, inovatif dan berpikir kritis.</p>
<p>Jakarta,     Januari 2010<br />
Direktur Jenderal PMPTK</p>
<p>Prof. Dr. Baedhowi, M.Si<br />
NIP. 19490828 197903 1 001</p>
<p>KATA PENGANTAR</p>
<p>Pada tahun 2007, Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK bekerjasama dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah berhasil merumuskan standar kepala sekolah/madrasah yang ditetapkan melalui Permendiknas No 13 tahun 2007. Untuk mengoperasionalkan dan mengimplementasikan Permendiknas tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun materi pelatihan sesuai dengan masing-masing komponen kompetensi kepala sekolah yang diatur dalam Permendiknas No 13 tahun 2007.<br />
Materi yang telah disusun ini merupakan bagian dari rencana pelaksanaan  program penguatan kepala sekolah, program kedua dari delapan program 100 hari Mendiknas. Program penguatan kemampuan kepala sekolah sangat penting mengingat peran strategis kepala sekolah di dalam proses peningkatan mutu pendidikan.<br />
Kepala sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong guru untuk malakukan proses pembelajaran untuk mampu menumbuhkan kemampuan kreatifitas, daya inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis dan memiliki naluri jiwa kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan. Materi ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi peningkatan kompetensi kepala sekolah sesuai yang diamanahkan Permendiknas No 13 tahun 2007.<br />
Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, namun kami perlu menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun buku ini yang telah berusaha dan berhasil mempersiapakan materi yang dapat dijadikan bahan bacaan bagi usaha peningkatan kompetensi kepala sekolah. Berbagai pihak yang terkait dengan penguatan kemampuan kepala sekolah dapat memperkaya dengan materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kompetensi kepala sekolah sesuai dengan Permendiknas No 13 tahun 2007.<br />
Semoga buku ini bermanfaat bagi usaha penguatan kemampuan kepala sekolah di seluruh Kab/Kota di Indonesia.</p>
<p>Jakarta,     Januari 2010<br />
Direktur Tenaga Kependidikan</p>
<p>Surya Dharma, MPA, Ph.D<br />
19530927 197903 1 001 </p>
<p>DAFTAR ISI</p>
<p>SAMBUTAN DIRJEN PMPTK &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..	i<br />
KATA PENGANTAR &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.	iii<br />
DAFTAR ISI &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;	v<br />
PENDAHULUAN &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.	1<br />
A.Pengantar &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.1</p>
<p>B.Kompetensi yang Diharapkan Dimiliki oleh Pembaca &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..2</p>
<p>C.Deskripsi Kegiatan Belajar &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..2</p>
<p>D.Kegunaan Materi Pelatihan &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;3</p>
<p>E.Petunjuk Penggunaan Materi Pelatihan &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..4</p>
<p>F.Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..5</p>
<p>KEGIATAN BELAJAR I<br />
Arti, Tujuan, dan Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.7<br />
A.Pengantar &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.7</p>
<p>B.Uraian Materi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;8</p>
<p>C.Studi Kasus &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..18</p>
<p>D.Rangkuman &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;20</p>
<p>E.Refleksi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..21</p>
<p>KEGIATAN BELAJAR 2<br />
Standar Kepemimpinan Pembelajaran &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..23<br />
A.Pengantar &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.23</p>
<p>B.Uraian Materi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;24</p>
<p>C.Soal Diskusi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..30</p>
<p>D.Rangkuman &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;31</p>
<p>E.Refleksi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..31</p>
<p>KEGIATAN BELAJAR 3<br />
Kompetensi Pemimpin Pembelajaran &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;33<br />
A.Pengantar &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;33</p>
<p>B.Uraian Materi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..34</p>
<p>C.Soal Diskusi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.38</p>
<p>D.Rangkuman &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.38</p>
<p>E.Refleksi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;39</p>
<p>KEGIATAN BELAJAR 4<br />
Cara Menerapkan Kepemimpinan Pembelajaran &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..41<br />
A.Pengantar &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.41</p>
<p>B.Uraian Materi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;42</p>
<p>C.Soal Diskusi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..45</p>
<p>D.Rangkuman &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..46</p>
<p>E.Refleksi &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.46</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA	</p>
<p>PENDAHULUAN<br />
A.	Pengantar<br />
Kepemimpinan merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah. Banyak model kepemimpinan yang dapat dianut dan diterapkan dalam bebagai organisasi/institusi, baik profit maupun non profit, namun model kepemimpinan yang paling cocok untuk diterapkan di sekolah adalah kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership or leadership for improved learning). Tentang penerapan kepemimpinan pembelajaran di sekolah, banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa kepala sekolah yang memfokuskan kepemimpinan pembelajaran menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik dari pada kepala sekolah yang kurang memfokuskan pada kepemimpinan pembelajaran. Ironisnya, kebanyakan sekolah tidak menerapkan model kepemimpinan pembelajaran. Hasil penelitian Stronge (1988) menunjukkan bahwa dari seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah, hanya 10 persen yang dialokasikan untuk kepemimpinan pembelajaran. Sampai sekarangpun banyak kepala sekolah yang masih menyeimbangkan perannya sebagai manager, administrator, supervisor, dan instructional leader (kepemimpinan pembelajaran). Adapun alasan yang dikemukakan antara lain kurangnya pelatihan tentang kepemimpinan pembelajaran, kurangnya waktu untuk melaksanakan kepemimpinan pembelajaran, banyaknya kegiatan administratif yang harus dilaksanakan, dan adanya harapan dari masyarakat bahwa peran kepala sekolah utamanya adalah seorang manager (Flath, 1089; Fullan, 1991).<br />
Kepemimpinan pembelajaran sangat cocok diterapkan di sekolah karena misi utama sekolah adalah mendidik semua siswa dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa yang sukses dalam menghadapi masa depan yang belum diketahui dan yang sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. Misi inilah yang kemudian menuntut sekolah sebagai organisasi harus memfokuskan pada pembelajaran (learning-focused schools), yang meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar (asesmen).<br />
Oleh karena itu, materi pelatihan ini akan membahas secara spesifik tentang kepemimpinan pembelajaran yang meliputi antara lain: arti, tujuan, dan pentingnya kepemimpinan pembelajaran; karakteristik kepemimpinan pembelajaran efektif; bidang garapan kepemimpinan pembelajaran; dan strategi pelaksanaan kepemimpinan pembelajaran. Sedang untuk mempelajari sekolah sebagai sistem, para pembaca dipersilahkan untuk mempelajarinya melalui bahan pelatihan lain yang telah dipersiapkan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan. </p>
<p>B.	Kompetensi yang Diharapkan Dimiliki oleh Pembaca<br />
Setelah mempelajari materi pelatihan ini, diharapkan para pembaca memiliki kompetensi-kompetensi sebagai berikut:<br />
1.	memahami arti dan tujuankepemimpinan pembelajaran;<br />
2.	mengidentifikasi karakteristik kepemimpinan pembelajaran efektif;<br />
3.	mengidentifikasi bidang garapan kepemimpinan pembelajaran;<br />
4.	menerapkan strategi kepemimpinan pembelajaran; dan<br />
5.	mampu menyusun rencana tindak kepemimpinan pembelajaran.</p>
<p>C.	Deskripsi Kegiatan Belajar<br />
Dalam mempelajari materi pelatihan ini, anda diajak untuk melakukan serangkaian kegiatan, yang kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan penguasaan anda terhadap kompetensi yang diharapkan dari materi pelatihan ini. Serangkaian kegiatan yang dimaksud meliputi: memahami kompetensi yang diharapkan, refleksi awal, telaah bahan bacaan, pembuatan ringkasan, pembuatan peta pikiran (mind mapping), dan atau refleksi akhir. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan secara individual, berkelompok, tutorial, dan atau seminar kecil yang dilaksanakan di MKKS/KKKS dimana anda menjadi anggotanya. Sangat dianjurkan agar anda melaksanakan semua tugas dan aktivitas belajar yang disarankan pada masing-masing kegiatan belajar.<br />
Dalam mempelajari materi pelatihan ini, ada lima kegiatan belajar yang harus anda laksanakan. Empat (4) kegiatan belajar yang dimaksud meliputi:<br />
Kegiatan Belajar 1:  Arti, tujuan, dan pentingnya kepemimpinanpembelajaran<br />
Kegiatan Belajar 2:  Standar kepemimpinan pembelajaran<br />
Kegiatan Belajar 3:  Kompetensi kepemimpinan pembelajaran<br />
Kegiatan Belajar 4:  Strategi pelaksanaan kepemimpinan pembelajaran<br />
Setiap kegiatan belajar diawali dengan paparan tentang kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pembaca, petunjuk kegiatan belajar, dan bahan atau peralatan yang dibutuhkan. Bacalah dengan seksama diskripsi kompetensi dan petunjuk tersebut dan siapkan semua peralatan atau bahan yang diperlukan sebelum anda memulai kegiatan belajar. Tiga hal penting yang harus dilakukan sebelum melaksanakan lima kegiatan belajar yang dimaksud, yaitu:<br />
1.	kuatkan komitmen untuk berkembang;<br />
2.	yakinkan diri anda bahwa belajar melalui materi pelatihan ini merupakan kebutuhan bagi setiap kepala sekolah/madrasah, bukan kegiatan rutin yang hanya ditujukan untuk memenuhi tuntutan proyek; dan<br />
3.	yakinkan diri anda bahwa hanya dengan belajar dan belajar, anda kelak tidak hanya menjadi pemimpin yang baik, namun pasti akan menjadi pemimpin yang jauh lebih baik, bahkan pemimpin yang dikagumi. Semoga!<br />
D.	Kegunaan Materi Pelatihan<br />
Materi pelatihan ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak berikut:<br />
a.	Kepala Sekolah/Madrasah. Bagi kepala sekolah/madarasah yang baru atau yang belum menguasai kompetensi yang diharapkan, materi pelatihan ini dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal pengembangan kompetensi kepemimpinan pembelajaran. Sedangkan bagi mereka yang sudah berpengalaman, materi pelatihan ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi sekaligus bahan pengayaan/pendalaman untuk menjadikan dirinya lebih mantap kompetensinya sebagai pemimpin pembelajaran.<br />
b.	Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS)/Madarasah. Beberapa kegiatan belajar yang dirancang dalam materi pelatihan ini menuntut peserta untuk saling berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang kompetensi ini. MKKS dan KKKS/Madrasah merupakan forum yang kondusif untuk melakukan diskusi-diskusi dan kegiatan berbagi pengalaman tersebut.<br />
c.	Bagi guru sekolah/madrasah yang ingin mengembangkan kariernya sampai menjadi kepala sekolah/madrasah, materi pelatihan ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan yang dapat mempersiapkan dirinya untuk menjadi kepala sekolah/madrasah.<br />
E.	Petunjuk Penggunaan Materi Pelatihan<br />
1.	Cermati kompetensi yang akan dipelajari sebelum menelaah bahan bacaan.<br />
2.	Laksanakan dengan sungguh-sungguh setiap kegiatan yang dianjurkan pada masing-masing kegiatan belajar.<br />
3.	Telaahlah secara cermat dan kritis teks atau bahan bacaan.<br />
4.	Lakukan refleksi terhadap apa yang telah anda kerjakan atau pelajari.<br />
5.	Bila mengalami kesulitan, jangan segan melakukan diskusi dengan teman sejawat di MKKS/KKKS Madrasah atau menanyakannya kepada kepala sekolah pemandu.</p>
<p>F.	Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan<br />
Materi pelatihan ini dirancang untuk dipelajari oleh kepala sekolah/madrasah dalam pelatihan. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi pelatihan ini mencakup aktivitas individual dan kelompok. Secara umum aktivitas individual meliputi: (1) membaca materi, (2) melakukan latihan/tugas, memecahkan kasus pada setiap kegiatan belajar, (3) membuat rangkuman/kesimpulan, dan (4) melakukan refleksi dan melakukan tindak lanjut. Sedangkan aktivitas kelompok meliputi: (1) mendiskusikan materi, (2) bertukar pengalaman dalam melakukan latihan/memecahkan kasus, (3) melakukan seminar/diskusi hasil latihan/tugas yang dilakukan, dan (4) bersama-sama melakukan refleksi, membuat action plan,  dan tindak lanjut.  Langkah-langkah tersebut dapat digambarkan seperti berikut.<br />
Gambar 1: Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan<br />
Dari Gambar 1 di atas tampak bahwa aktivitas kelompok selalu didahului oleh aktivitas individu. Dengan demikian, maka aktivitas individu adalah hal yang utama. Sedangkan aktivitas kelompok lebih merupakan forum untuk berbagi, memberikan pengayaan, dan penguatan terhadap kegiatan belajar yang telah dilakukan individu masing-masing.<br />
Dengan mengikuti langkah-langkah  di atas, diharapkan peserta pelatihan baik secara individu maupun bersama-sama dapat meningkatkan kompetensinya, yang pada gilirannya diharapkan berdampak pada peningkatan kompetensi guru yang dibinanya dan akhirnya mampu menghasilkan siswa yang kreatif, inovatif, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan.</p>
<p>KEGIATAN BELAJAR I<br />
Arti, Tujuan, dan Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran</p>
<p>A.	Pengantar<br />
Pengaruh kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terhadap peningkatan hasil belajar siswa sudah tidak diragukan lagi. Sejumlah ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang pengaruh kepemimpinan pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar. Mereka menyimpulkan bahwa:<br />
If our schools are to improve, we must redefine the principal’s role<br />
and move instructional leadership to the forefront (Buffie, 1989).</p>
<p>If a school is to be an effective one, it will be because of the instructional leadership of the principal …. (Findley,1992).  </p>
<p>Effective principals are expected to be effective instructional leaders &#8230;&#8230; the principal must be knowledgable about curriculum development, teachers and instructional effectiveness, clinical supervision, staff development, and teacher evaluation (Hanny, 1987).</p>
<p>Dari kutipan-kutipan tersebut diatas dapat disarikan bahwa peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan pembelajaran. Artinya, jika hasil belajar siswa ingin dinaikkan, maka kepemimpinan yang menekankan pada pembelajaran harus diterapkan. Untuk lebih jelasnya, berikut dibahas tentang arti, tujuan, pentingnya kepemimpinan pembelajaran, butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran, dan kontribusi kepemimpinan pembelajaran terhadap hasil belajar<br />
B.	Uraian Materi </p>
<p>1.	Arti Kepemimpinan Pembelajaran<br />
Walaupun telah banyak rumusan tentang arti kepemimpinan pembelajaran, tetapi fokus dan ketajamannya masih berbeda-beda. Misalnya, Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik, yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. Definisi ini kurang komprehensif, karena hanya memfokuskan pada guru. Ahli lain, Petterson (1993), mendefinikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut:<br />
a.	Kepala sekolah mensosialisasikan dan menamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya, dan dia selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah hidup subur dalam implementasinya;<br />
b.	Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas yuridiksi yang berlaku.<br />
c.	Kepala sekolah memberikan dukungan  terhadap pembelajaran, misalnya dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar siswa harus menjadi prioritas.<br />
d.	Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah.<br />
e.	Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.<br />
Definisi inipun masih parsial karena pembelajaran mencakup banyak hal yang sebagian belum tercakup didalamnya.<br />
Melengkapi definisi-definisi tersebut diatas, berikut disampaikan arti kepemimpinan pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponen-komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen (penilaian hasil belajar), penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Berdasarkan pengertian kepemimpinan pembelajaran tersebut, pertanyaannya adalah apa tujuan yang akan dicapai oleh kepemimpinan pembelajaran? Berikut akan diuraikan seperlunya tentang tujuan yang akan dicapai oleh penerapan kepemimpinan pembelajaran.<br />
Kurikulum (apa yang diajarkan) mencakup  pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang meliputi kegiatan perumusan visi, misi, dan tujuan sekolah; pengembangan struktur dan muatan kurikulum; dan pembuatan kalender. Proses belajar mengajar meliputi penyusunan silabus, pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, pengembangan bahan ajar, pemilihan buku pelajaran, pemilihan metode mengajar dan metode belajar, penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar lainnya, pengelolaan kelas, dan pemotivasian siswa. Asesmen (evaluasi hasil belajar) meliputi aspek yang di evaluasi, metode evaluasi, dan pelaporan. Penilaian kinerja guru dan pengembangan profesinya juga merupakan prioritas kepemimpinan pembelajaran, dan tidak kalah penting, kepemimpinan pembelajaran mengutamakan layanan prima terhadap pembelajaran siswa serta membangun warga sekolahnya menjadi komunitas pembelajaran. Upaya-upaya ini memerlukan dukungan sumberdaya pendidikan, baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan, perlengkapan, perbekalan, bahan, dan uang.<br />
2. Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran<br />
Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. Menurut Slamet PH (2001), kualitas dasar meliputi kualitas daya pikir, daya hati, dan daya pisik/raga. Daya pikir meliputi cara-cara berpikir induktif, deduktif, ilmiah, kritis, kreatif, inovatif, lateral, dan berpikir sistem. Daya hati (qolbu) meliputi kasih sayang, empati, kesopan santunan, kejujuran, integritas, kedisiplinan, kerjasama, demokrasi, kerendahan hati, perdamaian, repek kepada orang lain, tanggungjawab, toleransi, dan kesatuan serta persatuan (terlalu banyak untuk disebut semuanya). Daya pisik meliputi kesehatan, kestaminaan, ketahanan, dan keterampilan. Kualitas instrumental meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. Ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan lunak (sosiologi, politik, ekonomi, pendidikan, antroplogi, dan yang sejenis). Ilmu pengetahuan keras meliputi metematika, fisika, kimia, biologi, dan astronomi. Teknologi meliputi teknologi konstruksi, manufaktur, transportasi, telekomunikasi, energi, bio, dan bahan. Seni terdiri dari seni suara, musik, tari, kriya, dan rupa.<br />
        Dengan kata-kata lain, tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya, meningkat kepuasan belajarnya, meningkat motivasi belajarnya, meningkat keingintahuannya, kreativitasnya, inovasinya, jiwa kewirausahaannya, dan meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat.<br />
3.  Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran<br />
Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena seperti disebut sebelumnya bahwa kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Kepemimpinan pembelajaran mampu memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. Kepemimpinan pembelajaran juga mampu memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah. Kepemimpinan pembelajaran penting diterapkan di sekolah karena kemampuannya dalam membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school).<br />
Sekolah belajar (learning school) memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin, memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang, mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya, mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang (kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa), mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa, mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem, mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus.<br />
Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan secara bersama, antara lain mencakup educator, manager, administrator, supervisor, motivator, enterpreneur, dan leader. Peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dan spesifiknya sebagai instructional leader, kurang memperoleh porsi yang selayaknya. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif, pertemuan-pertemuan, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkanperhatian. Padahal, ketiga hal yang terakhir sangat erat kaitannya dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar, yang pada gilirannya, mutu proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas siswa dan kualitas sekolah secara keseluruhan. Untuk itu, sudah selayaknya peran kepemimpinan pembelajaran memperoleh porsi waktu yang lebih besar dibanding dengan peran-peran yang lain. Peran-peran yang yang lain bukan tidak penting, akan tetapi peran kepemimpinan pembelajaran harus yang terpenting.</p>
<p>4.  Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran<br />
        Butir-butir penting kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat dituliskan sebagai berikut:<br />
a.	Memahami peran kepala sekolah yang perlu dikembangkan:<br />
1).  mengelola adalah sebagian dari kepemimpinan,<br />
2). menerapkan peran kepemimpinan sekolah lebih cenderung sebagai pelayan  dari pada sebagai penguasa/bos, dan<br />
3)	mengembangkan gaya kepemimpinan yang luwes dan gaya bicara yang enak, dan menghindari gaya kepemimpinan yang kaku.<br />
b.	Melaksanakan tanggung jawab secara akuntabel:<br />
1).  membangun komunitas belajar di sekolah untuk kesuksesan siswa,<br />
2)	mendorong tanggung jawab seluruh mitra kerja atau pemangku kepentingan,<br />
3)	menggalang sumber daya masyarakat untuk kepentingan siswa,<br />
4)	membantu siswa agar sukses dalam belajarnya, dan<br />
5)	menghindari mencari kambing hitam atas ketidaksuksesan, berpikir dan berperilaku positif untuk maju. </p>
<p>c.	Mengerjakan sesuatu dengan professional:<br />
1).  selalu membaca diri dan melakukan refleksi,<br />
2)	mencari cara-cara untuk mengembangkan diri sendiri, membimbing orang lain dan memberi kontribusi terhadap orang lain berdasarkan profesi yang dimiliki,<br />
3)	merangkul perubahan sebagai teman, dia akan membuat anda tetap aktif, mawas diri dan berkembang,<br />
4)	menjadi orang nomor satu sebagai model pembelajar sepanjang hayat dengan membangun masyarakat pembelajar disekolah,<br />
5)	selalu mengasah peran anda sebagai kepemimimpinan pembelajaran<br />
6)	menyediakan waktu untuk rajin mengunjungi kelas,<br />
7)	mengkomunikasikan keinginan kuat anda untuk berhasil kepada guru dan siswa dalam bentuk kata-kata dan tindakan,<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> menerjemahkan visi sekolah ke dalam kegiatan harian, dan<br />
9)	memfasilitasi kelompok kerja berdasarkan kepemimpinan pembelajaran.<br />
d.	Selalu mempertahankan:<br />
1). menjadi pengarah terhadap tercapainya tujuan sekolah,<br />
2)	menjadi pendukung yang jelas,<br />
3)	memandang kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar, dan<br />
4)	gembira dalam bekerja.</p>
<p>Pengukuran tingkat keberhasilan visi kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan. Untuk itu, para pembaca sangat disarankan untuk melakukan refleksi dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan berikut untuk mengetahui tingkat kesiapan anda sebagai pemimpin pembelajaran. Dengan menjawab sejumlah pertanyaan berikut, anda akan terbantu dalam memfokuskan pikiran  dan pengambilan keputusan tentang pembelajaran yang seharusnya anda dukung. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga akan membantu anda dalam mengembangkan visi pembelajaran yang lebih baik agar kepemimpinan pembelajaran yang anda terapkan benar-benar berdampak positif terhadap pembelajaran.<br />
Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang seyogyanya anda pikirkan sebagai pemimpin pembelajaran. Jika sekolah ingin menjadi sekolah yang efektif pembelajarannya, maka sejumlah pertanyaan berikut harus dijawab dengan tepat:<br />
a.	apa yang harus, seharusnya, dan dapat dipelajari oleh siswa,<br />
b.	bagaimana caranya siswa itu belajar,<br />
c.	bagaimana iklim sekolah merefleksikan pentingnya proses pembelajaran,<br />
d.	bagaimana dan siapa yang membuat keputusan tentang kurikulum dan pengajaran,<br />
e.	seperti apa proses pembelajaran berjalan (diskripsikan sesuatu yang anda impikan dalam sebuah sekolah dimana proses belajar mengajar terjadi secara ideal),<br />
f.	apa keyakinan guru-guru tentang peserta didik dan kegiatan belajar,<br />
g.	bagaimana partisipasi orangtua dalam kegiatan belajar siswa,<br />
h.	dimana kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan apa yang dilakukannya di tempat itu,<br />
i.	dimana wakil kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya dan apa yang dilakukannya,<br />
j.	siapa yang melakukan penilaian keberhasilan siswa dan bagaimana caranya,<br />
k.	apa saja agenda utama rapat sekolah yang berhubungan dengan pembelajaran,<br />
l.	bagaimana cara menyelenggarakn rapat yang berhubungan dengan pembelajaran,<br />
m.	bagaimana menentukan isi dan hakekat pengembangan staf oleh siapa, untuk siapa  dan bagaimana cara menilainya,<br />
n.	 bagaimana caranya kinerja guru dievaluasi dan apa saja yang dinilai,<br />
o.	kriteria penilaian guru ditentukan oleh siapa,<br />
p.	siapa penyelenggara evaluasi guru,<br />
q.	apa tujuan utama penelaian guru tersebut,<br />
r.	keberhasilan peserta didik sangat erat hubungannya dengan evaluasi terhadap guru, bagaimana pendapat anda,<br />
s.	bagaimana bentuk jadwal dan organisasi sekolah agar merefleksikan optimalisasi belajar siswa,<br />
t.	apa proses yang digunakan untuk menentukan jadwal dan organisai sekolah,<br />
u.	siapa yang memutuskan penerapan program baru, melaksanakannya, atau memperbaharui dan merevisi program tersebut, dan<br />
v.	jika tujuan utama sekolah adalah menciptakan pembelajaran yang efektif, maka tentukan apa kebutuhan siswa, apa yang harus diajarkan, bagaimana cara mengajarnya, dengan apa mengajarnya, kapan seharusnya diajarkan, dan apakah tujuan pengajaran sudah tercapai atau belum (Elaine Mc Evan (2001).<br />
        Untuk menjawab 22 pertanyaan tersebut di atas, gunakanlah indikator kunci dari keefektifan kepala sekolah dalam membangun dan menerapkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagai berikut:<br />
a.	lakukanlah komunikasi dengan staf sehubungan dengan pencapaian standar dan peningkatan tujuan sekolah<br />
b.	rujuklah standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program-program pengajaran di sekolah<br />
c.	yakinkanlah kegiatan-kegiatan kelas secara individu dan sekolah selalu konsisten dengan standar yang telah ditetapkan oleh pusat dan daerah<br />
d.	gunakan bermacam-macam sumber data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk mengevaluasi kemajuandan merencakan peningkatan lebih lanjut<br />
Jika pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa, maka prestasi belajar siswa akan meningkat secara signifikan. Hal ini dapat dilakukan secara pribadi oleh masing-masing guru melalui jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut:<br />
a.	apakah standar kompetensi dapat dicapai dengan baik oleh siswa, untuk itu bagaimana cara mengajarkannya dan bagaimana pula mengurutkan materinya secara hirarkis?<br />
b.	penekanan-penekanan apakah yang dituntut oleh kurikulum?<br />
c.	strategi, materi, dan sumber-sumber apa saja yang harus diterapkan pada pembelajaran tersebut?<br />
d.	berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengajarkan standar kompetensi yang dimaksud?<br />
Pembelajaran dan pencapaian keberhasilan siswa hendaknya selalu dianalisis secara berkelanjutan dan direfleksikan serta dikembangakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. Kegiatan semacam ini harus dibudayakan di sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Glathhorn (1993), ditemukan lima hal yang dianggap penting dalam membentuk budaya sekolah yang dapat melatih siswa dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga iklim sekolah yang sehat. Lima hal penting yang dimaksud meliputi:<br />
a.	sekolah sebagai komunitas kolaboratif dan komunitas belajar,<br />
b.	ada keyakinan bersama untuk mencapai tujuan,<br />
c.	peningkatan sekolah dicapai melalui proses pemecahan masalah,<br />
d.	seluruh warga sekolah apakah itu kepala sekolah, guru dan siswa diyakinkan dapat mencapainya, dan<br />
e.	pembelajaran merupakan prioritas utama.<br />
        Sehubungan dengan fungsi iklim sekolah, perilaku kepala sekolah berikut paling banyak diidentifikasi oleh guru-guru dari sekolah yang mempunyai pencapaian prestasi akademik tinggi:<br />
a.	mengkomunikasikan kepada staf tentang harapan yang tinggi terhadap  pencapaian hasil belajar siswa,<br />
b.	mencegah sekolah terhadap tekanan beban yang tidak perlu, dan menjadikan pembelajaran sebagai fokus utama kegiatan sekolah,<br />
c.	mengenal secara pribadi tentang tingkat profesionalisme masing-masing guru sebagai dasar untuk mencapai tujuan utama sekolah,<br />
d.	menilai moral dan komitmen warga sekolah, dan<br />
e.	membangun lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan disiplin. </p>
<p>5. Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar<br />
        Pada tahun 1995, melalui penelitiannya, laboratorium pendidikan wilayah North West USA memperbaharui keefektifan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi rujukan luas dari hasil penelitian tersebut. Penelitian tersebut menghasilkan daftar perilaku kepala sekolah yang terbaik dalam mengarahkan dan membimbing program pembelajaran di sekolah (Cotton, 1995). Menurut sintesis penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran), guru, dan staf memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah, yang meliputi hal-hal berikut:<br />
a.	meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua siswa dapat belajar dan sekolah membuat perbedaan antara yang berhasil dan yang gagal,<br />
b.	menegaskan bahwa belajar sebagai alasan utama terhadap keberadaan seseorang disekolah, termasuk penekanan terhadap penting dan berharganya pencapaian yang tinggi terhadap kemampuan berbicara dan menulis,<br />
c.	memiliki pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi sekolah dan mampu menyatakannya secara langsung, dalam ungkapan yang konkrit, membangun dan memfokuskan pembelajaran sebagai sumber penyatuan berpikir, sikap, dan tindakan warga sekolah,<br />
d.	mencari, merekrut, dan menggaji anggota staf yang mendukung visi dan misi sekolah dan berkontribusi terhadap keefektifannya,<br />
e.	mengetahui dan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik,<br />
f.	menyebarluaskan praktik-praktik proses belajar mengajar yang efektif terhadap guru-guru lain,<br />
g.	mengetahui tentang penelitian pendidikan, menekankan pentingnya penelitian bagi perbaikan sekolah, urun rembuk, dan menerapkannya dalam pemecahan masalah,<br />
h.	mencari program-program yang inovatif, amati, dan libatkan staf untuk berpartisipasi dalam mengadopsi dam mengadaptasi program tersebut,<br />
i.	tetapkan harapan atau target kualitas kurikulum melalui penggunaan standar dan petunjuk-petunjuk yang diberikan, cek secara berkala kesesuaian, kurikulum dengan pembelajaran dan penilaian, tetapkan kegiatan kurikulum yang diprioritaskan, dan monitor pelaksanaan kurikulum,<br />
j.	cek kemajuan siswa secara berkala berdasarkan data kinerja yang ada, dan publikasikan kepada para guru agar mereka dapat melihat kesenjangan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja yang dicapai oleh siswa,<br />
k.	milikilah harapan yang tinggi terhadap seluruh guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan standar yang tinggi melalui kesepakatan model yang dibuat bersama oleh guru, lakukan kunjungan kelas untuk mengamati pembelajaran, fokuskan kegiatan supervisi untuk meningkatkan pembelajaran, dan persiapkan serta monitor kegiatan-kegiatan pengembangan guru, dan<br />
l.	komunikasikan harapan anda bahwa program pembelajaran yang telah disepakati sesuai dengan rencana, strategi peningkatan yang sistematis, prioritas kegiatan yang jelas, dan pendekatan-pendekatan baru, harus dilaksanakan dengan baik.</p>
<p>C.	Studi Kasus<br />
Beth memulai profesi pendidik sebagai guru ilmu pengetahuan alam di sebuah SMP. Setelah mengajar selama beberapa tahun, Beth dipercaya menjadi seorang kepala sekolah. Beth juga aktif dalam KKG dan juga kuliah di sebuah universitas dalam pasca sarjana pendidikan pada malam hari untuk meningkatkan kompentensinya sebagai pendidik.<br />
Berawal dari seorang guru yang kompeten, maka Beth mendesain posisi kepala sekolah yang diembannya berdasarkan kekuatan yang dimiliki. Keahlian dalam bidang instruksional dan pengetahuan dalam bidang kurikulum adalah pondasi yang kuat dalam melakukan penerapan instructional leadership dalam sekolahnya.<br />
Rencana dalam penerapan konsep instruksional leadership melibatkan diri sendiri terlebih dahulu. Dimana dalam perencanaan Beth melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah yang dihadapi pada saat itu. Perencanaan dilakukan secara detail berdasarkan format dan ceklist yang sudah ada. Sehingga dapat dilihat bahwa dinding kantor Beth seperti pusat startegi  komando  yang penuh dengan data pencapaian murid dan data performa guru dan grafik kurikulum. Sebagai patokan dalam penerapan instructional leadership.<br />
Beliau melakukan observasi kelas secara reguler untuk mengetahui proses belajar mengajar, sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan setiap kelas. Berkolaborasi secara regular dengan wakil kepala sekolah dan koordinator guru untuk memonitor kebutuhan murid dan menentukan strategi dan bahan ajar yang tepat dalam rangka mengoptimalkan potensi guru dan murid. Beliau berdiskusi bersama murid- murid dan guru tentang tujuan belajar. Tujuan yang hendak dicapai adalah setiap murid dan guru mendapatkan pengalaman pendidikan yang positif dan optimal di sekolah.</p>
<p>Pertanyaan:<br />
1.   Menurut anda, Beth melakukan fungsi manager atau instructional leadership? Mengapa?<br />
2.   Apa yang Beth lakukan untuk meningkatkan kualitas sekolah?</p>
<p>D.	Rangkuman<br />
1.	Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang unsur-unsurnya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen (penilaian hasil belajar), penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.<br />
2.	Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen.<br />
3.	Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.<br />
4.	Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur (kepala sekolah) yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran, (b) kultur pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah, dan (c) sistem (struktur) yang utuh dan benar.<br />
5.	Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran), guru, dan karyawan berkontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah.</p>
<p>E.	Refleksi<br />
Mohon untuk mengisi lembar refleksi di bawah ini berdasarkan materi yang Bapak/Ibu sudah pelajari.  </p>
<p>Nama: _____________________		Tanggal: _______________</p>
<p>•	Apa saja yang telah saya lakukan berkaitan dengan materi kegiatan belajar ini?</p>
<p>•	Bagaimana pikiran/perasaan saya tentang materi kegiatan belajar ini?</p>
<p>•	 Apa saja yang telah saya lakukan yang ada hubungannya dengan materi kegiatan ini tetapi belum ditulis di materi ini?</p>
<p>•	Materi apa yang ingin saya tambahkan? </p>
<p>•	Bagaimana kelebihan dan kekurangan materi materi kegiatan ini?</p>
<p>•	Manfaat apa saja yang saya dapatkan dari materi kegiatan ini?</p>
<p>•	Berapa persen kira-kira materi kegiatan ini dapat saya kuasai?</p>
<p>•	Apa yang akan saya lakukan?</p>
<p>Selamat karena Bapak/Ibu telah selesai mempelajari kegiatan belajar ini. Selanjutnya, selamat melakukan rencana tindak lanjut. Untuk menambah pengetahuan, Bapak/Ibu dimohon untuk mempelajari kegiatan belajar berikutnya.</p>
<p>KEGIATAN BELAJAR 2<br />
Standar Kepemimpinan Pembelajaran</p>
<p>A.	Pengantar<br />
        Mengingat pentingnya peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar, maka perlu diidentifikasi kriteria atau standar kepemimpinan pembelajaran berdasarkan hasil-hasil penelitian maupun hasil-hasil kesepakatan para akademisi dan para praktisi kepemimpinan pembelajaran. Sebelum memaparkan standar kepemimpinan pembelajaran, kita diingatkan oleh seorang peneliti kepemimpinan pembelajaran (May Jo, 2007) bahwa seorang kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus melaksanakan tugas dan fungsi sebagai berikut:<br />
1.	memanfaatkan sebagian besar waktunya untuk memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi di ruang kelas, melakukan pengamatan proses pembelajaran, dan mendorong peningkatan kinerja guru dan siswa untuk mencapai hasil belajar maksimal,<br />
2.	menelusuri hasil-hasil tes siswa dan indikator-indikator lainnya untuk membantu guru dalam memfokuskan perhatiannya terhadap siswa yang mengalami kesulitan dan yang memerlukan bantuan guru untuk mengatasinya,<br />
3.	memfokuskan sebagian besar waktunya untuk meningkatkan mutu guru dan pemanfaatannya secara optimal dalam pembelajaran,<br />
4.	memberikan tantangan baru kepada guru untuk meneliti tentang dirinya sendiri apakah yang bersangkutan masih tergolong guru tradisional (out of date) atau guru moderen (update), dan<br />
5.	memberikan kesempatan kepada para guru untuk berbagi informasi dan bekerja sama untuk mengembangkan kurikulum dan pembelajarannya.<br />
Tentu saja tugas dan fungsi yang harus dilaksanakan oleh pemimpin pembelajaran bukanlah semata-mata hanya lima butir tersebut diatas. Butir-butir lain dapat ditambahkan dan uraian materi berikut (standar kepemimpinan pembelajaran) akan berimplikasi terhadap pengayaan tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. </p>
<p>B.	Uraian Materi</p>
<p>        Berikut disampaikan standar kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran yang perlu dipelajari oleh para pembaca. Standar inilah yang selanjutnya digunakan oleh kepala sekolah sebagai acuan dalam melaksanakan kepemimpinan pembelajaran. Standar ini dikembangkan oleh para akademisi dan praktisi kepemimpinan pembelajaran yang tergabung dalam Komisi Redesain Kepemimpinan Pembelajaran Kepala Sekolah di Tennesee, USA pada tahun 2007 yang diketuai oleh Mary Jo.</p>
<p>Standar A: Peningkatan secara berkelanjutan<br />
Melaksanakan pendekatan yang sistematik dan koheren untuk menuju peningkatan secara berkelanjutan dalam prestasi akademik seluruh siswa.</p>
<p>Indikator:<br />
1.	melibatkan pemangku kepentingan pendidikan dalam mengembangkan visi, misi dan tujuan sekolah yang menekankan pada kegiatan pembelajaran bagi seluruh siswa and konsisten dengan apa yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/kota,<br />
2.	memfasilitasi pelaksanaan strategi yang jelas untuk mencapai visi, misi, dan tujuan yang menekankan pada kegiatan pembelajaran bagi seluruh siswa dan mengedepankan  layanan pembelajaran siswa,<br />
3.	menciptakan struktur organisasi yang kondusif untuk mendukung pencapaian visi, misi dan tujuan sekolah yang menekankan pada kegiatan pembelajaran bagi seluruh siswa,<br />
4.	memfasilitasi pengembangan, implementasi, evaluasi, dan revisi data yang menginformasikan rencana peningkatan sekolah secara luas untuk kepentingan peningkatan sekolah secara berkelanjutan,<br />
5.	mengembangkan kerjasama antara kepala sekolah, guru, orangtua siswa, dan masyarakat sekitar dalam rangka peningkatan secara berkelanjutan,<br />
6.	mengkomunikasikan dan menyelenggarakan sekolah berdasarkan keyakinan yang kuat bahwa seluruh siswa dapat mencapai kesuksesan akademik, dan<br />
7.	menggunakan data untuk merencanakan pengembangan sekolah secara berkelanjutan.</p>
<p>Standar B: Kultur Pembelajaran<br />
        Menciptakan kultur pembelajaran yang progresif/kondusif di sekolahnya agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan setinggi-tingginya.</p>
<p>Indikator:<br />
1.	mengembangkan kultur sekolah secara berkelanjutan berdasarkan pada etika, perbedaan, persamaan, dan nilai solidaritas,<br />
2.	mendampingi, melatih, dan memimpin dalam pengembangan kultur sekolah agar kondusif untuk belajar siswa,<br />
3.	mengembangkan dan memelihara lingkungan yang disiplin belajar dengan aman, tertib, tenteram, dan nyaman,<br />
4.	memimpin seluruh staf (guru dan karyawan) dan siswa dalam mengembang-kan disiplin diri dan setia dalam menjalankan tugas dan fungsinya,<br />
5.	memimpin dan memelihara kultur sekolah yang dapat memaksimalkan waktu untuk belajar,<br />
6.	mengembangkan kepemimpinan kelompok, yang dirancang untuk tanggungjawab dan kepemilikan bersama untuk mencapai misi sekolah,<br />
7.	memimpin warga sekolah dalam membangun hubungan erat antar warganya agar menghasilkan lingkungan belajar yang produktif,<br />
8.	mendorong dan memimpin perubahan yang menantang berdasarkan hasil penelitian,<br />
9.	membangun dan memelihara hubungan kekeluargaan yang kuat dan mendukung,<br />
10.	mengenali dan merayakan keberhasilan sekolah dan mencegah kegagalan, dan<br />
11.	menjalin tali komunikasi yang kuat dengan guru, orangtua, siswa dan pemangku kepentingan.</p>
<p>Standar C: Kepemimpinan Pembelajaran dan Penilaian Hasil Belajar (Asesmen)<br />
Memfasilitasi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya berdasarkan hasil evaluasi dan dilakukan secara terus menerus dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa seoptimal mungkin.</p>
<p>Indikator:<br />
1.	memimpin proses penilaian siswa secara sistematis dan evaluasi program yang menggunakan data kualitatif dan kuantitatif,<br />
2.	memimpin komunitas belajar profesional dalam menganalisis dan meningkatkan mutu kurikulum dan mutu pembelajaran,<br />
3.	menjamin aksesibilitas terhadap kurikulum dan dukungan yang diperlukan oleh siswa untuk mencapai hasil maksimum yang diharapkan,<br />
4.	memiliki keterampilan hitungan sederhana yang terkait dengan penilaian hasil belajar (asesmen) dalam memfasilitasi peningkatan mutu pembelajaran terutama guru, dan<br />
5.	menggunakan praktek-praktek yang baik (best practice) berdasarkan hasil penelitian dalam mengembangkan, merencanakan, dan melaksanakan kurikulum, pembelajaran, dan penilaian hasil belajar.</p>
<p>Standar D: Pengembangan Profesionalisme Guru secara Terus Menerus<br />
Melakukan pengembangan profesionalisme warga sekolahnya terutama guru yang dilakukan secara terus-menerus dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa seoptimal mungkin. </p>
<p>Indikator:<br />
1.	menyelia dan mengevaluasi secara sistematis mata pelajaran dan guru,<br />
2.	mendorong, memfasilitasi, dan mengevaluasi pengembangan profesionalisme guru,<br />
3.	mengembangkan model pembelajaran yang berkesinambungan dan melibatkan diri dalam pengembangan profesionalisme guru,<br />
4.	memberikan kesempatan kepemimpinan kepada komunitas belajar profesional dan mendorong serta memfasilitasi terciptanya kepemimpinan aspiratif,<br />
5.	bekerja bersama-sama dengan warga sekolah untuk merencanakan dan melaksanakan pengembangan kualitas profesional yang tinggi dan yang dievaluasi dengan dampak belajar siswa, dan<br />
6.	menyediakan sumberdaya yang diperlukan oleh guru dan karyawan sekolah agar mereka dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan berhasil dengan sukses.</p>
<p>Standar E: Manajemen Sekolah<br />
Memfasilitasi warga sekolah (guru, siswa, karyawan) agar menjadi pebelajar yang baik dan mengembangkan pembelajaran yang efektif melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang tersedia dan yang perlu disediakan jika belum ada.</p>
<p>Indikator:<br />
1.	mengembangkan seperangkat standar prosedur operasi (SOP) dan prosedur standar pekerjaan rutin yang dipahami dan diikuti oleh semua guru dan karyawan sekolah,<br />
2.	memfokuskan kegiatan sehari-hari sekolah yang diarahkan pada pencapaian prestasi akademik seluruh siswa,<br />
3.	mengalokasikan sumberdaya pendidikan (guru, karyawan, peralatan, perlengkapan, bahan, dan uang) dalam rangka untuk mencapai visi, misi, dan tujuan sekolah yang telah disepakati,<br />
4.	menyelenggarakan proses pendidikan yang efisien dan menggunakan anggaran pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan melibatkan warga sekolah secara efektif berdasarkan kemampuan, relevansi, dan batas-batas yurisdiksi yang berlaku,<br />
5.	menggalang sumberdaya-sumberdaya yang tersedia di masyarakat untuk mendukung pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah,<br />
6.	mengidentifikasi permasalahan potensial dan strategis dan menanggapinya dengan perencanaan yang proaktif, dan<br />
7.	melaksanakan program pengembangan guru dan karyawan serta pengembangan pembelajaran berdasarkan aturan main yang menjamin kesetaraan, keadilan, etika, dan integritas.</p>
<p>Standar F: Etika<br />
Memfasilitasi peningkatan secara berkelanjutan dalam meningkatkan keberhasilan belajar siswa melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan standar etika paling tinggi dan mendorong pendampingan berupa tindakan politis apabila diperlukan.</p>
<p>Indikator:<br />
1.	melaksanakan pertanggungjawaban secara profesional dengan menjunjung tinggi asas integritas dan keadilan,<br />
2.	menjadi contoh dan memberikan dukungan profesional dalam menerapkan kode etik profesional dan nilai-nilai yang menjadi acuannya,<br />
3.	membuat keputusan dalam konteks etika dan menghormati harga diri semua pihak,<br />
4.	mendampingi warga sekolah (jika diperlukan) ketika terjadi perubahan- perubahan kebijakan pendidikan, sosial, atau politik dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa,<br />
5.	membuat keputusan yang mendukung peningkatan mutu pembelajaran siswa dan yang sejalan dengan visi, misi, dan tujuan sekolah,<br />
6.	mempertimbangkan aspek yuridis, moral, dan etika ketika membuat keputusan, dan<br />
7.	bertindak dengan tidak menyalahi peraturan perundang-undangan, standar, kriteria, dan prosedur yang berlaku beserta peraturan-peraturan pelaksanaannya. </p>
<p>Standar G: Pebedaan<br />
Memfasilitasi toleransi terhadap perbedaan latar belakang siswa, baik dari suku, agama, ras, jenis kelamin, dan asal usul.<br />
1.	Menghargai perbedaan latar belakang setiap siswa dan berkomitmen tinggi untuk meningkatkan prestasi belajarnya berdasarkan atas perbedaan kebutuhan setiap siswa, yang dilaksanakan melalui berbagai upaya, baik secara personal, sosial, ekonomi, yuridis, dan/atau kultural dan yang disampaikan secara umum baik di kelas, sekolah, maupun di masyarakat setempat.<br />
2.	Merekrut, menyeleksi, dan mengangkat guru dan karyawan yang mampu melayani kebutuhan siswa atas dasar kebinekaan/perbedaan individu,<br />
3.	memahami dan menanggapi secara efektif terhadap keanekaragaman budaya dan etnik siswa melalui kebersamaanantara sekolah dan masyarakat,<br />
4.	berinteraksi secara efektif terhadap perbedaan individu dan kelompok dengan menggunakan kecakapan komunikasi interpersonal yang variatif sesuai dengan situasi yang dihadapi,<br />
5.	mengenal dan mengidentifikasi perbedaan-perbedaan latar belakang siswa termasuk kepribadian dan kemampuannya sebagai dasar untuk pembuatan keputusan, terutama yang bersifat akademis, dan<br />
6.	membangun komunitas kekeluargaan yang mencakup guru, karyawan, dan orangtua siswa dalam rangka untuk mempererat pergaulan dan meningkatkan mutu pendidikan anak-anaknya. </p>
<p>F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee Standards for Instructional Leaders Packet.doc vlb 3/21/07</p>
<p>C.	Soal Diskusi<br />
1.	Setujukah anda dengan 7 standar kepala sekolah (A s/d G) sebagai pemimpin yang ditulis yang telah ditulis pada uraian materi tersebut diatas. Berikan alasannya kalau setuju dankalau tidak setuju!<br />
2.	Menurut anda, sudah lengkapkah 7 standar kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran (A s/d G) seperti yang ditulis pada uraian materi tersebut? Jika menurut anda sudah lengkap, berikan alasan! Jika belum lengkap, tambahkan untuk melengkapinya!<br />
D.	Rangkuman<br />
Kepala sekolah yang efektif harus melaksanakan sejumlah standar yang telah disampaikan sebelumnya. Selain itu, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus juga mampu membangun kebersamaan warga sekolahnya dan meyakinkan mereka bahwa kebersamaan inilah yang akan membawa keberhasilan sekolah, yaitu mencapai hasil belajar yang diharapkan. Kepala  sekolah yang efektif juga mampu meyakinkan warga sekolahnya bahwa program-program, kegiatan-kegiatan, aturan main, dsb. yang difokuskan pada siswa dan pembelajaran akan mampu mengangkat hasil belajar siswa, baik akademik maupun non akademik.<br />
E.	Refleksi<br />
Mohon untuk mengisi lembar refleksi di bawah ini berdasarkan materi yang Bapak/Ibu sudah pelajari.  </p>
<p>Nama: _____________________		Tanggal: _______________</p>
<p>•	Apa saja yang telah saya lakukan berkaitan dengan materi kegiatan belajar ini?</p>
<p>•	Bagaimana pikiran/perasaan saya tentang materi kegiatan belajar ini?</p>
<p>•	Apa saja yang telah saya lakukan yang ada hubungannya dengan materi kegiatan ini tetapi belum ditulis di materi ini?</p>
<p>•	Materi apa yang ingin saya tambahkan? </p>
<p>•	Bagaimana kelebihan dan kekurangan materi materi kegiatan ini?</p>
<p>•	Manfaat apa saja yang saya dapatkan dari materi kegiatan ini?</p>
<p>•	Berapa persen kira-kira materi kegiatan ini dapat saya kuasai?</p>
<p>•	Apa yang akan saya lakukan?</p>
<p>Selamat karena Bapak/Ibu telah selesai mempelajari kegiatan belajar ini. Selanjutnya, selamat melakukan rencana tindak lanjut. Untuk menambah pengetahuan, Bapak/Ibu dimohon untuk mempelajari kegiatan belajar berikutnya.</p>
<p>KEGIATAN BELAJAR 3<br />
Kompetensi Pemimpin Pembelajaran</p>
<p>A.	Pengantar<br />
Jika sekolah dianggap sebagai sistem, maka kepemimpinan sekolah merupakan salah satu komponennya dan kepemimpinan pembelajaran merupakan salah satu sub komponen kepemimpinan sekolah. Meskipun kepemimpinan pembelajaran merupakan salah satu sub komponen kepemimpinan sekolah, namun kepemimpinan pembelajaran memiliki tingkat kepentingan tertinggi, sedang sub-sub kepemimpinan lainnya memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dan bahkan dua, tiga, dan empat tingkat lebih rendah dari pada kepemimpinan pembelajaran. Mengapa demikian? Jawabannya jelas, karena kegiatan utama di sekolah adalah pembelajaran dan kegiatan-kegiatan lainnya hanya sebagai pendukung. Untuk itu diperlukan kepala sekolah yang benar-benar memiliki kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran.<br />
Seperti telah didefinisikan pada kegiatan belajar 1 bahwa kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponen-komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen (penilaian hasil belajar), penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Disamping itu, sejumlah standar kepemimpinan pembelajaran telah disajikan secara rinci berdasarkan hasil rumusan Tim Redesain Kepemimpinan Pembelajaran yang dipimpin oleh Mary Jo dari Tennesee, USA. Agar kepala sekolah mampu mengelola komponen-komponen kepemimpinan pembelajaran, yang bersangkutan harus memiliki sejumlah kompetensi kepemimpinan pembelajaran yang memadai. Uraian-uraian pada bagian berikut akan difokuskan pada seperangkat kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.<br />
B.	Uraian Materi<br />
Kompetensi adalah kemampuan melakukan sesuatu yang dimensi-dimensinya meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Seperangkat kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran adalah sebagai berikut. </p>
<p>1.	Merumuskan dan mengartikulasikan tujuan pembelajaran<br />
      Secara bersama-sama, kepala sekolah dan guru merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Disamping itu, kepala sekolah dan guru menyepakati cara-cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran dan melaksanakannya secara konsisten untuk mencapai tujuan pembelajaran.</p>
<p>2.	Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum<br />
      Kepala sekolah mengarahkan dan membimbing para guru dalam mengembangkan kurikulum, mulai dari: perumusan visi, misi, dan tujuan sekolah; pengembangan struktur dan muatan kurikulum; dan pembuatan kalender sekolah. Pelaksanaan pengembangan kurikulum menggunakan prinsip-prinsip relevansi, kemutakhiran terhadap perkembangan IPTEKS, berpusat pada potensi siswa, terpadu, dan selaras dengan kebutuhan siswa dan kebutuhan lingkungan (berbagai sektor pembangunan).</p>
<p>3.	Membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar (PBM)<br />
      Kepala sekolah memiliki kemampuan dalam membimbing dan memfasilitasi perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas. Dalam perencanaan PBM, kepala sekolah memiliki kemampuan membimbing para guru dalam: (a) mengidentifikasi kebutuhan, minat, bakat, dan kemampuan siswa, (b) menyusun tujuan pelajaran, (c) mengembangkan silabus, (d) mengembang-kan rencana pelaksanaan pembelajaran, (e) memilih bahan ajar, (f) memilih metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik mata pelajaran, dan (g) memilih media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik mata pelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran, kepala sekolah membimbing dan memfasilitasi para guru dalam mengembangkan dan menggunakan berbagai metode mengajar misalnya pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), pengajaran dan pembelajaran kontekstual (contextual teaching learning), Lessons Study, simulasi, curah pendapat, kerja kelompok, diskusi kelompok, metode proyek, dsb. Dalam evaluasi pembelajaran, kepala sekolah membimbing dan memfasilitasi para guru dalam menyusun kriteria kinerja siswa, menyusun alat tes, menganalisis hasil tes, menentukan ketuntasan belajar, dan menilai efektivitas pembelajaran. Sedang dalam manajemen kelas, kepala sekolah membimbing dan memfasilitasi para guru dalam  mengelola siswa, mengelola peralatan, mengorganisasi kelas/laboratorium, mendisiplinkan siswa, menjaga kebersihan kelas, dsb.</p>
<p>4.	Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya<br />
      Secara periodik, kepala sekolah melakukan evaluasi kinerja guru untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kinerja guru serta mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan keprofesian guru. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja guru, kepala sekolah memfasilitasi guru dalam memperbaiki kinerjanya dan memfasilitasi guru dalam mengembangkan keprofesiannya. Pengembangan keprofesian guru dilaksanakan dengan berpegang teguh pada prinsip pengembangan keprofesian secara berkelanjutan (continuing professional development/CPD) yang diupayakan oleh guru secara sendiri atau yang difasilitasi oleh sekolah/dinas pendidikan kabupaten/kota.</p>
<p>5.	Membangun komunitas pembelajaran<br />
      Komunitas pembelajaran adalah suatu komunitas (warga sekolah) yang memiliki kesamaan nilai-nilai pembelajaran yang dianut sebagai sumber penggalangan konformisme sikap dan perilaku bagi warga sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sense of learning telah terjadi secara merata di sekolah. Jadi, di sekolah telah terjadi kebersamaan (teamwork) yang kuat, keterlibatan dan partisipasi total, dedikasi, motivasi, dan cara-cara kerja yang efektif dalam menyelenggarakan pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran akan efektif apabila didukung oleh komunitas warga sekolah yang mampu membangun dirinya sebagai komunitas pembelajaran. Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki kemampuan membangun komunitas pembelajaran di sekolahnya.  </p>
<p>6.	Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional<br />
      Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional sekaligus. Kepemimpinan visioner adalah kepemimpinan yang mendasarkan pada visi yang ingin dicapai di masa depan, sedang kepimpinan situasional adalah kepemimpinan yang mempertimbangkan situasi yang sedang dihadapi. Kombinasi dari kedua jenis kepemimpinan tersebut akan mampu memberi inspirasi dan mendorong terjadinya pembelajaran yang futuristik dan kontekstual sekaligus.</p>
<p>7.	Melayani siswa dengan prima<br />
      Harus disadari sepenuhnya bahwa keberadaan kepala sekolah, guru, dan karyawan di sekolah adalah hanya karena ada siswa. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu mengajak guru dan karyawan untuk memberikan layanan pembelajaran kepada siswa secara prima dan siswa merupakan pelanggan utama sekolah yang harus menjadi fokus perhatian warga sekolah.</p>
<p>8.	Melakukan perbaikan secara terus menerus<br />
      Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan secara terus menerus, yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi, dan revisi terhadap perencanaan berikutnya, dan siklusnya diulang-ulang bterus. Hal ini perlu dilakukan karena banyak perubahan diluar sekolah yang harus diinternalisasikan ke sekolah.</p>
<p>9.	Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif<br />
      Pemimpin pembelajaran harus selalu menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah efektif melakukan hal-hal berikut: luwes dalam pengendalian, membangun teamwork di sekolahnya, komitmen kuat terhadap pencapaian visi dan misi sekolah, menghargai guru dan karyawan atas dedikasinya, memecahkan masalah secara kolaboratif, melakukan delegasi secara efektif, dan fokus pada proses belajar mengajar (pembelajaran).</p>
<p>10.	Membangun Warga Sekolah agar Pro-perubahan<br />
      Salah satu ciri utama seorang pemimpin pembelajaran adalah memiliki visi dan misi yang jelas dan memiliki cara-cara untuk menggerakkan warga sekolahnya untuk mencapainya. Untuk itu, dia harus mampu mengarahkan, membimbing, memotivasi, mempengaruhi, memberi insprirasi, dan mendukung prakarsa-prakarsa baru, kreativitas, inovasi, dan inisiasi dalam pengembangan pembelajaran.</p>
<p>11.	Membangun teamwork yang kompak<br />
        Keberhasilan upaya sekolah akan maksimal apabila dilakukan secara kolaboratif oleh warga sekolah Oleh karena itu, pemimpin pembelajaran harus mampu membangun teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Pelibatan, partisipasi, dan dedikasi warga sekolah sangat diperlukan dalam rangka membangun teamwork yang dimaksud. </p>
<p>12.	Memberi contoh dan menginspirasi warga sekolah<br />
      Memimpin dengan contoh sudah terbukti ampuh dalam organisasi apapun termasuk sekolah. Memberi contoh dalam berbagai hal misalnya komitmen, disiplin, nyaman terhadap perubahan, kasih sayang terhadap siswa, semangat kerja, dsb. adalah merupakan bagian penting dari karakteristik seorang pemimpin pembelajaran. Tidak kalah penting, seorang pemimpin pembelajaran selalu memberi inspirasi kepada guru, karyawan, dan terutama siswanya untuk mempelajari dan menikmati hal-hal yang belum diketahui, dan mampu membangun kondisi rasa keingintahuan dari seluruh warga sekolahnya.<br />
C.	Soal Diskusi<br />
Dari 12 kompetensi kepemimpinan pembelajaran tersebut diatas, masih adakah kompetensi yang perlu ditambahkan? Jika tidak, berikan alasan! Jika perlu ditambah, mohon  ditambahkan dan berikan alasannya!<br />
D.	Rangkuman<br />
Siapapun yang ingin menjadi pemimpin pembelajaran harus memiliki 12 kompetensi sebagai berikut: (1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (6) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (8) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi, dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh. Berikut akan diuraikan secukupnya dari masing-masing kompetensi tersebut.   </p>
<p>E.	Refleksi<br />
Mohon untuk mengisi lembar refleksi di bawah ini berdasarkan materi yang Bapak/Ibu sudah pelajari.  </p>
<p>Nama: _____________________		Tanggal: _______________</p>
<p>•	Apa saja yang telah saya lakukan berkaitan dengan materi kegiatan belajar ini?</p>
<p>•	Bagaimana pikiran/perasaan saya tentang materi kegiatan belajar ini?</p>
<p>•	Apa saja yang telah saya lakukan yang ada hubungannya dengan materi kegiatan ini tetapi belum ditulis di materi ini?</p>
<p>•	Materi apa yang ingin saya tambahkan? </p>
<p>•	Bagaimana kelebihan dan kekurangan materi materi kegiatan ini?</p>
<p>•	Manfaat apa saja yang saya dapatkan dari materi kegiatan ini?</p>
<p>•	Berapa persen kira-kira materi kegiatan ini dapat saya kuasai?</p>
<p>•	Apa yang akan saya lakukan?</p>
<p>Selamat karena Bapak/Ibu telah selesai mempelajari kegiatan belajar ini. Selanjutnya, selamat melakukan rencana tindak lanjut. Untuk menambah pengetahuan,  Bapak/Ibu dimohon untuk mempelajari kegiatan belajar berikutnya.<br />
KEGIATAN BELAJAR 4<br />
Cara Menerapkan Kepemimpinan Pembelajaran</p>
<p>A.	Pengantar</p>
<p>Dalam kegiatan pembelajaran ke 4 ini akan disampaikan cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah. Cara-cara berikut merupakan tip yang luwes diikuti, dalam arti, tergantung dari kondisi kepemimpinan pembelajaran sekolah masing-masing. Bagi sekolah yang telah menerapkan kepemimpinan pembelajaran dengan baik, tip berikut dapat diikuti sekiranya masih diperlukan dan tidak perlu diikuti sekiranya tidak diperlukan. Bagi sekolah yang baru setengah-setengah dalam menerapkan kepemimpinan pembelajaran dan bahkan masih sangat lemah dalam menerapkan kepemimpinan pembelajaran, maka tip berikut seyogyanya diikuti secara secara keseluruhan dengan seksama.<br />
Gaya kepemimpinan pembelajaran yang akan dapat diterapkan di masing-masing sekolahpun seyogyanya juga tidak harus seragam, sangat tergantung pada tingkat kemampuan dan kesanggupan warga sekolahnya, terutama guru-gurunya. Jika warga sekolah, terutama guru, telah memiliki tingkat kemampuan dan kesanggupan yang tinggi, maka gaya kepemimpinan pembelajaran yang bersifat delegatif lebih cocok. Sebaliknya jika tingkat kemampuan dan kesanggupan sangat rendah, maka gaya kepemimpinan pembelajaran yang bersifat direktif sangat sesuai. Jika tingkat kemampuan dan kesanggupan warga sekolah, terutama guru, masih setengah-setengah, maka gaya kepemimpinan pembelajaran yang bersifat kocing dan supportif lebih pas.<br />
Marilah kita simak uraian materi berikut tentang cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah.  </p>
<p>B.	Uraian Materi</p>
<p>Secara umum, cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah dapat dipilahkan menjadi 11 butir (tip) sebagai berikut.</p>
<p>1.	Memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran<br />
      Tahap pertama yang harus dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran adalah memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh masing-masing mata pelajaran dan penyusunan standar pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran melibatkan guru dan menggunakan standar kompetensi lulusan dan standar isi (kurikulum nasional sebagai rujukannya. Dalam pelaksanaannya, sekolah dan kelas harus konsisten terhadap tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran yang telah disusun.</p>
<p>2.	Melakukan sosialisasi tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran<br />
      Setelah perumusan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran selesai, dilakukan sosialisasi kepada para guru, siswa, karyawan, dan orangtua siswa tentang kedua hal tersebut dan juga upaya-upaya kolaboratif yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sosialisasi dimaksudkan agar para guru, siswa, dan orangtua siswa memahami dan menyadari tentang pentingnya tujuan dan standar pembelajaran sehingga mereka mau melakukan upaya-upaya konkret untuk mencapainya.</p>
<p>3.	Memfasilitasi pembentukan  kelompok kerja guru<br />
      Kepala sekolah memfasilitasi guru membentuk kelompok kerja untuk melakukan pembaruan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, efektif, menyenangkan, berpusat pada siswa, dan kontekstual terhadap kondisi peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan lingkungannya. Hasil kelompok kerja guru ini adalah model-model proses belajar mengajar yang lebih baik dan yang dilaksanakan secara konsisten di kelas masing-masing.</p>
<p>4.	Menerapkan ekspektasi yang tinggi<br />
      Kepala sekolah bersama-sama guru, siswa, dan orangtua siswa menerapkan ekspektasi yang tinggi terhadap proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa. Proses belajar mengajar harus berkualitas tinggi dan hasil belajar siswa juga berkualitas tinggi dilihat dari prestasinya. Ini berarti menuntut guru, siswa, dan orangtua siswa memiliki motivasi yang tinggi dan usaha maksimal. </p>
<p>5.	Melakukan evaluasi kinerja guru dan tindak lanjut pengembangannya<br />
      Kepala sekolah secara reguler melakukan evaluasi kinerja guru untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Hasil evaluasi kinerja dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu diatas standar, sesuai standar, atau dibawah standar. Bagi yang hasil evaluasi kinerjanya diatas standar perlu diberi pujian dan diberi dukungan untuk mengembangkan dirinya. Bagi yang hasil evaluasi kinerjanya sudah sesuai dengan standar dan yang masih dibawah standar, perlu diciptakan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka dan didukung oleh kepala sekolah dan dinas dalam pembiayaannya.</p>
<p>6.	Membentuk kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran<br />
      Kepala sekolah menanamkan nilai-nilai, keyakinan, dan norma-norma yang kondusif bagi pengembangan pembelajaran peserta didik. Untuk itu kepala sekolah perlu menciptakan suasana/iklim akademik yang dibangun melalui kebijakan-kebijakan dan program-program sekolah untuk memajukan siswa berdasarkan hasil belajar siswa, misalnya pengayaan, pendalaman, remedial, pekerjaan rumah, dan tugas-tugas mandiri maupun kelompok. Disamping itu, kepala sekolah membangun kondisi kelas yang kondusif, menyediakan waktu ekstra bagi siswa yang memerlukan bimbingan tambahan, dan melakukan obervasi kelas secara rutin dan memuji perilaku positif guru dan siswa.</p>
<p>7.	Membangun learning person dan learning school<br />
      Kepala sekolah tak jemu-jemunya mengajak warganya untuk menjadi pebelajar yang selalu belajar terus karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, dan regulasi mengalami perubahan yang sangat turbulen. Disamping itu, sekolahnyapun harus pro-perubahan sehingga kepala sekolah berkewajiban memfasilitasi wargannya untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap sekolahnya agar menjadi sekolah pembelajaran (learning school). </p>
<p>8.	Menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran dan selalu mempunyai waktu untuk guru dan siswanya<br />
      Kepala sekolah menyediakan sebagian besar waktunya untuk pembelajaran dan selalu mempunyai waktu untuk guru dan siswanya. Harus disadari sepenuhnya bahwa kegiatan utama sekolah adalah pembelajaran sehingga sudah semestinya kalau kepala sekolah mengalokasikan sebagian besar waktunya untuk pembelajaran dan untuk guru serta siswanya. Ini penting digarisbawahi karena dalam kenyataannya, kepala sekolah hanya sedikit mengalokasikan waktunya untuk pembelajaran dan untuk guru serta siswanya, dan sebagian besar waktunya digunakan untuk pekerjaan administratif, pertemuan, dsb.</p>
<p>9.	Melayani dengan prima kepada guru, siswa, dan orang tua siswa<br />
      Kepala sekolah pembelajaran harus memahami dan menyadari sepenuhnya bahwa melayani dengan prima kepada guru, siswa, dan orangtua siswa merupakan prioritas karena urusan utamanya adalah pembelajaran yang melibatkan ketiga unsur tersebut. Jadi, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran lebih menekankan pada pelayanan prima dari pada menggunakan kekuasaannya.</p>
<p>10.	Melakukan koordinasi terhadap guru, siswa, dan orangtua siswa<br />
       Kegiatan pembelajaran melibatkan guru, siswa, dan orangtua siswa dan kalau tidak dikoordinasikan dengan baik, tidak akan terjadi kekuatan yang tangguh untuk mensukseskan hasil belajar siswa. Koordinasi mengandung dua hal yaitu integrasi permasalahan yang dapat ditampung dalam perencanaan pembelajaran, dan yang kedua adalah sinkronisasi ketatalaksanaan yang dilakukan sewaktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran.</p>
<p>11.	Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran akibat penerapan kepemimpinan pembelajaran.<br />
      Untuk mengetahui tingkat keberhasilan (kemajuan) hasil belajar, hambatan, dan tantangan yang dihadapinya perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara cermat. Tanpa monitoring dan evaluasi yang cermat, tidak ada hak untuk mengatakan apakah ada kemajuan hasil belajar atau tidak. Dengan kata lain, monitoring dan evaluasi akan memberi informasi apakah hasil nyata pembelajaran telah sesuai dengan hasil yang diharapkan dari pembelajaran.</p>
<p>C.	Soal Diskusi      </p>
<p>Buatlah suatu kasus tentang permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh suatu sekolah (SD, SMP, SMA, atau SMK). Sebagai kepala sekolah yang menerapkan kepemimpinan pembelajaran, bagaimana solusinya terhadap permasalahan pembelajaran yang telah anda buat tersebut?</p>
<p>D.	Rangkuman</p>
<p>Secara umum, cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah dapat dipilahkan menjadi 11 butir (11 tip): (1) memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran, (2) melakukan sosialisasi tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran, (3) memfasilitasi pembentukan  kelompok kerja guru, (4) menerapkan ekspektasi yang tinggi, (5) melakukan evaluasi kinerja guru dan tindak lanjut pengembangannya, (6) membentuk kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran, (7) membangun learning person dan learning school, (8) menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran dan selalu mempunyai waktu untuk guru dan siswanya, (9) memberi layanan prima terhadap guru, siswa, dan orang tua siswa, (10) melakukan koordinasi terhadap guru, siswa, dan orangtua siswa, dan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran akibat penerapan kepemimpinan pembelajaran.</p>
<p>E.	Refleksi</p>
<p>Mohon untuk mengisi lembar refleksi di bawah ini berdasarkan materi yang Bapak/Ibu sudah pelajari.  </p>
<p>Nama: _____________________		Tanggal: _______________</p>
<p>•	Apa saja yang telah saya lakukan berkaitan dengan materi kegiatan belajar ini?</p>
<p>•	Bagaimana pikiran/perasaan saya tentang materi kegiatan belajar ini?</p>
<p>•	Apa saja yang telah saya lakukan yang ada hubungannya dengan materi kegiatan ini tetapi belum ditulis di materi ini?</p>
<p>•	Materi apa yang ingin saya tambahkan? </p>
<p>•	Bagaimana kelebihan dan kekurangan materi materi kegiatan ini?</p>
<p>•	Manfaat apa saja yang saya dapatkan dari materi kegiatan ini?</p>
<p>•	Berapa persen kira-kira materi kegiatan ini dapat saya kuasai?</p>
<p>•	Apa yang akan saya lakukan?</p>
<p>Selamat karena Bapak/Ibu telah selesai mempelajari kegiatan belajar ini. Selanjutnya, selamat melakukan rencana tindak lanjut. Untuk menambah pengetahuan,  Bapak/Ibu dimohon untuk mempelajari kegiatan belajar berikutnya.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Daresh, John C.,Playko, Marshal A. 1995. Supervision as a Proactive Process, Waveland press.</p>
<p>Deal, T.E. and Peterson, K.D. 1998. Shaping School Culture: The Heart of Leadership. San Fransisco, CA. Jossey Bass Publishers.</p>
<p>F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee Standards for Instructional Leaders Packet.doc vlb 3/21/07</p>
<p>Fink, Elaine and B. Resnicl, Lauren (2003). Developing Principals as Instructional Leaders.</p>
<p>Guston, Sandra Lee. 2002. The Instructional Leadership toolbox: A  Handbook for Improving Practice. California: Sage Publication.</p>
<p>Glatthorn, A.A.1993. OBE Reform and the Curriculum Process. Journal of Curriculum and Supervision, 8, 4, pp. 354-363</p>
<p>Hoyle, J.R., English, F.W., &amp; Steffy, B.E. 199. Skills for Successful Leaders (2nd Edition). Arlington, VA. American association of School Administrators.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/522/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=522&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/06/23/pemantapan-kinerja-kepala-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KECAKAPAN UTAMA SEORANG GURU DI ABAD 21</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/03/15/kecakapan-utama-seorang-guru-di-abad-21/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/03/15/kecakapan-utama-seorang-guru-di-abad-21/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 11:37:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/2010/03/15/kecakapan-utama-seorang-guru-di-abad-21/</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai dengan Undang-udang, guru dan dosen harus mempunyai berbagai kompetensi, diantaranya adalah kompetensi paedagogik, kompetensi akademik, kompetensi social, dan kompetensi kepribadian. Disamping empat kompetensi tersebut dalam membantu para siswa beradaptasi terhadap perubahan sosial dan teknologi di abad ke 21 ini guru juga harus mempunyai kecakapan utama yang meliputi: 1. Akuntabilitas dan Kemampuan beradaptasi — Sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=519&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesuai dengan Undang-udang, guru dan dosen harus mempunyai berbagai kompetensi, diantaranya adalah kompetensi paedagogik, kompetensi akademik, kompetensi social, dan kompetensi kepribadian. Disamping empat kompetensi tersebut dalam membantu para siswa beradaptasi terhadap perubahan sosial dan teknologi di abad ke 21 ini guru juga harus mempunyai kecakapan utama yang meliputi:<span id="more-519"></span><br />
1.	Akuntabilitas dan Kemampuan beradaptasi — Sebagai seorang yang dapat digugu dan ditiru apapun yang dikerjakan dan diucapkan harus dapat dipercaya oleh orang lain. Dalam menjalankan tanggung jawab pribadi mempunyai fleksibilitas secara pribadi, pada tempat kerja, maupun dalam hubungan dengan masyarakat sekitarnya. Disamping itu guru harus mampu menetapkan dalam mencapai standar dan tujuan yang tinggi baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, dan yang tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu memaklumi kerancuan yang dilakukan oleh anak didiknya.</p>
<p>2.	Kecakapan Berkomunikasi —  Kecakapan yang ke dua ini sangat penting bagi guru, betapapun pintarnya seorang guru jika tidak mempunyai kecakapan ini maka tidak akan mampu mentransfer ilmu kepada anak didiknya. Kecakapan ini meliputi: memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi baik secara lisan, tulisan, maupun menggunakan multimedia. </p>
<p>3.	Kreatifitas dan Keingintahuan Intelektual — Pembelajaran yang dilakukan guru berlangsung monoton selama ini salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kreatifitas dan keingintahuan intelektual guru. Dia mengajar hanya bermodalkan teori keguruan yangia peroleh sekian puluh tahun yang lalu. Kecakapan kreatifitas dan keingintahuan intelektual tersebut mencakup: mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersi-kap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda. </p>
<p>4.	Berpikir Kritis dan Berpikir dalam Sistem — Kecakapan berpikir kritis merupakan proses berpikir danbertindak berdasarkan fakta yang telah ada, apapun yang akan dilakukan dimulai dari identifikasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul dari suatu perbuatan tersebut, berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit serta selalu memahami dan menjalin interkoneksi antara sistem. </p>
<p>5.	Kecakapan Melek Informasi dan Media — Agar proses pembelajaran yang dilakukan guru dikelas menarik dan menantang maka, di era globalisasi dan tanpa batas seperti sekarang ini guru harus mampu menganalisa, mengakses, mengelola, mengintegrasi, mengevaluasi, dan menciptakan informasi dalam berbagai bentuk dan media. </p>
<p>6.	Kecakapan Hubungan Antar Pribadi dan Kerjasama — Sebagaimakhluk social yanghidup di tengah-tengah masyarakat guru juga dituntut harus mampu menunjukkan kerjasama berkelompok dan kepemimpinan, mampu beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, mampu bekerja secara produktif dengan yang lain, mampu menempatkan empati pada tempatnya, serta mampu menghormati perspektif yang berbeda dengan pendiriannya. </p>
<p>7.	Identifikasi masalah, Penjabaran, dan Solusi — Dalam menghadapi masalah sekecil apapun guru tidak boleh ceroboh dalam menanggapinya, oleh sebab itu guru dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam menyusun, mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah dengan baik. </p>
<p>8.	Pengarahan Pribadi — Sebagai guru tentu setiap harinya menghadapi siswa yang prilakunya bermacam-macam,oleh karena itu guru dituntut kemampuan dalam memonitor pemahaman diri dan mempelajari kebutuhan yang diperlukan dalam pembelajaran, menemukan sumber-sumber belajar yang tepat, serta mentransfer pembelajaran dari satu bidang ke bidang lainnya. </p>
<p>9.	Tanggung Jawab Sosial — Orang tua/masyarakat menyekolahkan anaknya di suatu sekolah mempunyai harapan agar anaknya berubah, baik dari segi prilaku maupun kecakapan kompetensinya. Oleh sebab itu sebagai seorang yang dituntut mempunyai kompetensi sosial, maka tanggung jawab dalam bertindak guru harus mengutamakan kepentingan masyarakat yang lebih besar, menunjukkan perilaku etis secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan antar masyarakat. </p>
<p>Sumber:  (www. 21stcenturyskills. org). Dipergunakan dengan ijin. ••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=519&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/03/15/kecakapan-utama-seorang-guru-di-abad-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diklat Getting Started  Menuju Pembelajaran Abad ke-21</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/01/27/diklat-getting-started-menuju-pembelajaran-abad-ke-21/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/01/27/diklat-getting-started-menuju-pembelajaran-abad-ke-21/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 06:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Diklat Getting Started Menuju Pembelajaran Abad ke-21 Lanjar Pramudi* Arus globalisasi yang ditopang oleh teknologi informasi menyebabkan arus informasi begitu cepat dan tidak terbendung. Dan arus ini sebenarnya tidak hanya membawa pengetahuan tetapi juga nilai-nilai. Apakah nilai-nilai ini dapat bersifat negatif atau positif?, dapat diterima atau tidak dapat diterima?, akan bergantung pada nilai-nilai yang dihayati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=517&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diklat Getting Started<br />
Menuju Pembelajaran Abad ke-21<br />
Lanjar Pramudi*</p>
<p>Arus globalisasi yang ditopang oleh teknologi informasi menyebabkan arus informasi begitu cepat dan tidak terbendung. Dan arus ini sebenarnya tidak hanya membawa pengetahuan tetapi juga nilai-nilai. Apakah nilai-nilai ini dapat bersifat negatif atau positif?, dapat diterima atau tidak dapat diterima?, akan bergantung pada nilai-nilai yang dihayati dalam suatu bangsa. Barangkali semakin berkembangnya kebiasaan menglobal dalam hal gaya hidup seperti pola berpakaian, kebiasaan makan, rekreasi tidak banyak merugikan. Namun demikian secara tidak langsung sebagian kebiasaan ini beriplikasi pada nilai moral. Misal kebiasaan konsumtif mengunjungi rumah makan fast food, dan yang lebih serius implikasi menyebarnya nilai-nilai materialisme, konsumerisme, hedonisme, jelas dapat merusak moral suatu bangsa.<span id="more-517"></span><br />
Permasalahan ini menjadi perbincangan yang sangat menarik, karena informasi ini jelas tidak bisa kita bendung, kita tidak bisa melawan globalisasi. Bagaimanapun juga kita tidak dapat bersikap apriori menolak apa saja terhadap budaya barat yang serta merta kita nilai bertentang dengan budaya kita, sebagian nilai-nilai yang dibawanya juga bersifat positif. Sehingga jika perlu kita mengubah budaya kita, tidak semuanya harus sesuai dengan budaya bangsa yang tidak semuanya bersifat positif juga. Budaya dan kepribadian bersifat dinamis, tidak statis. Yang perlu kita siapkan adalah penanaman nilai untuk menangkis pengaruh nilai-nilai negatif yang masuk bersamaan dengan arus informasi.<br />
Kualitas manusia seperti apa yang bisa survive dalam mainstream perubahan di atas?. Secara umum dapat diidentifikasi ada tujuh keahlian yang harus dimiliki agar tetap survive di era pengetahuan yaitu, 1) Kemampuan berpikir kritis dan kemauan bekerja keras, 2) kreativitas, 3) Kolaborasi, 4) pemahaman antar budaya (cross cultural undestanding), 5) komunikasi, 6) mengoperasikan komputer, 7) career dan kemampuan belajar secara mandiri.<br />
Manusia abad 21 harus mampu berpikir kritis dan kemauan kerja keras, mereka dituntut mampu mendefinisikan permasalahan kompleks yang tumpang tindih, tidak jelas domainnya; menggunakan keahlian dan perangkat yang tersedia baik manusia maupun elektronik untuk analisis dan riset; mendesain jenis tindakan dan solusi: mengatur implementasi solusi tersebut; menilai hasil; kemudian secara terus-menerus meningkatkan variasi solusi ketika kondisi berubah. Manusia pada abad 21 harus kreatif, mampu menciptakan solusi baru untuk permasalahan lama, menemukan prinsip baru dan penemuan baru, menciptakan cara baru untuk mengkomunikasikan gagasan baru, menemukan cara kreatif untuk mengatur proses kompleks. Manusia abad 21 harus mampu kerjasama kelompok untuk memecahkan masalah yang rumit atau untuk menciptakan perangkat kompleks, menghasilkan jasa, dan produk-produk.<br />
Hidup di era informasi, dimana tidak ada sekat antar negera maka diperlukan kemampuan memahami budaya antar negara tanpa kehilangan akar budayanya sendiri (karakter kebangsaan). Sebagai suatu perluasan kerjasama kelompok, manusia abad 21 harus menjembatani perbedaan etnik, sosial, organisasi, politik, dan isi kultur pengetahuan dalam rangka melakukan pekerjaan mereka. Peningkatan multikultural masyarakat yang terus-menerus, pertumbuhan ekonomi global, peningkatan dunia teknik, dan model organisasi &#8220;jaringan&#8221;, keterampilan lintas budaya tanpa kehilangan identitas asli ‘budayanya’’ akan menjadi semakin berharga.<br />
Untuk bisa bersaing di abad 21 memerlukan kemampuan untuk berkomunikasi efektif di dalam berbagai media dengan berbagai pendengar. Dengan memberikan sejumlah pilihan komunikasi misalnya; laporan tercetak, dokumen elektronik, majalah artikel, e-article , buku, e-book, cetakan iklan, iklan TV, iklan jaringan, telepon, telepon sel, telepon internet, surat suara, telemarketing, fax, pager, web, e-mail, selebaran, simulasi, basis data, multimedia presentasi, slides, disket, tape, video, CD, DVD, radio, TV, TV jaringan, teleconferens. Dan yang menjadi keharusan manusia abad 21 semua orang harus mampu menguasai komputer dasar sampai kepada suatu tingkat yang lebih tinggi untuk kelancaran ‘digital’ dan mampu menggunakan berbagai perangkat (softwere) berbasis komputer untuk melaksanakan tugas hidup sehari-hari. Di abad 21 banyak pekerjaan dan permasalahan hiduo menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi, terkait dengan hal ini menjadi hal yang mustahil hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah, manusia abad 21 dituntut menjadi pebelajar mandiri.</p>
<p>Sebagai guru apa yang harus kita lakukan? </p>
<p>Tuntutan perubahan mindset manusia abad 21 yang telah disebutkan di atas menuntut pula suatu perubahan yang sangat besar dalam pendidikan nasional, yang kita ketahui pendidikan kita adalah warisan dari sistem pendidikan lama yang isinya menghafal fakta tanpa makna. Merubah sistem pendidikan indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. Sistem pendidikan Indonesai merupakan salah satu sistem pendidikan terbesar didunia yang meliputi sekitar 30 juta peserta didik, 200 ribu lembaga pendidikan, dan 4 juta tenaga pendidik, tersebar dalam area yang hampir seluas benua Eropa. Namun perubahan ini merupakan sebuah keharusan jika kita tidak ingin terlindas oleh perubahan jaman global.<br />
Terkait dengan hal ini Tilaar, menyarankan agar pendidikan sains dan bahasa siswa perlu diperkuat dengan penguasaan matematika, karena matematika merupakan cara berpikir sains, selain itu perlu juga sekolah dilengkapi laboratorium sains dan laboratorium bahasa yang memadai untuk menunjang pembelajaran.<br />
Hal yang lain adalah pendidikan kreativitas. Adanya informasi yang tidak terbatas memungkinkan seseorang untuk menciptkan hal baru, namun juga menyebabkan seseorang tenggelam dalam timbunan informasi yang membingungkan sehingga seseorang tidak dapat mengambil keputusan. Oleh sebab itu, salah satu sikap yang perlu dikembangkan dalam era ini adalah mengembangkan sikap kreatifitas. Perlu juga dikembangkan pendidikan digital dimana setiap satuan pendidikan terkoneksi dalam jaringan digital untuk saling tukar informasi, dan lain-lain. Terkait dengan pendidikan tinggi, perguruan tinggi perlu meletakan hubungan partisipatif dengan dunia usaha dan lembaga-lembaga penelitian. Dimana selama ini hanya terkesan bersifat formal dan seremonial dan bahkan keduanya terkesan menjaga jarak dengan keangkuhanya masing-masing. Dan yang tidak kalah penting adalah pendidikan nilai sebagai pelestari ‘budaya’ bangsa.<br />
Terkait dengan pembelajaran, tuntutan abad 21 menuntut perubahan reorientasi dalam pembelajaran yaitu dari; (1) menggeser paradigma pembelajaran dari ‘asumsi tersembunyi’ bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari ‘otak/pikiran’ guru ke ‘otak/pikiran’ siswa, menuju pembelajaran yang lebih ‘memberdayakan’ seluruh aspek kemampuan siswa. (2) menggeser paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru (teacher centred learning) menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centred learning), self directed learning (belajar mandiri), dan pemahaman diri (metakognisi) karena pembelajaran ini dirasa lebih memberdayakan siswa dalam segala aspek. (3) menggeser dari belajar ‘menghafal’ konsep menuju belajar ‘menemukan’ dan ‘membangun’ (mengkonstruksi) sendiri konsep, yang terbukti mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi, kritis, kreatif dan terampil memecahkan masalah, (4) menggeser dari belajar individual klasikal menuju pembelajaran kelompok kooperatif yang tidak hanya mengajari ketrampilan berpikir saja namun juga mampu mengajari siswa ketrampilan-ketrampilan lainnya (keterampilan sosial).<br />
Kurikulum yang dikembangkan saat ini oleh sekolah dituntut untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skils). Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh siswa apabila guru mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.<br />
Selain pendekatan pembelajaran, siswa pun harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi &#8211; khususnya komputer. Literasi ICT adalah suatu kemampuan untuk menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran untuk mencapai kecakapan berpikir dan belajar siswa. Kegiatan-kegiatan yang harus disiapkan oleh guru adalah kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan teknologi komputer untuk melatih keterampilan berpikir kritisnya dalam memecahkan masalah melalui kolaborasi dan komunikasi dengan teman sejawat, guru-guru, ahli atau orang lain yang memiliki minat yang sama.<br />
Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah Assessment. Guru harus mampu merancang sistem assessment yang bersifat kontinu &#8211; ongoing assessmen &#8211; sejak siswa melakukan kegiatan, sedang dan setelah selesai melaksanakan kegiatannya. Assessmen bisa diberikan diantara siswa sebagai feedback, oleh guru dengan rubric yang telah disiapkan atau berdasarkan kinerja serta produk yang mereka hasilkan.<br />
Untuk mencapai tujuan di atas, pendekatan pembelajaran yang cukup menantang bagi guru adalah pendekatan pembelajaran berbasis proyek (Project-based learning atau PBL).Di dalam mengembangkan PBL, guru dituntut untuk menyiapkan unit plan, sebagai portfolio guru dalam proses pembelajarannya. Di dalam unit plan, guru harus mengarahkan rencana proyeknya dalam sebuah Kerangka Pertanyaan berdasarkan SK/KD yang ada dalam kurikulum. CFQ atau Curriculum frame Question adalah sebagai alat untuk mengarahkan siswa dalam mengerjakan proyeknya, sehingga sesuai dengan tujuan yang telah direncakan.<br />
Guru harus menyiapkan materi-materi pendukung untuk kelancaran proyek siswa, demikian pula siswa harus mampu membuat contoh-contoh hasil tugasnya untuk ditampilkan atau dipresentasikan di depan temannya. Pada saat presentasi hasil proyeknya siswa mendapat kesempatan untuk melakukan assessmen terhadap temannya &#8211; peer assessmen, memberikan feedback pada hasil kerjanya.<br />
Dalam rencana pelajaran guru pun harus memberikan kesempatan pada siswa untuk melaporkan hasil proyeknya dalam berbagai bentuk, bisa dalam bentuk blog, wiki, poster, newsletter atau laporan. Kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking harus dirancang dalam rencana pelajaran guru. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan analisis, sintesis dan evaluasi melalui proyek yang mereka kerjakan.<br />
Untuk menyikapi hal-hal tersebut di atas maka diabad 21 ini mau tidak mau dan siap tidak siap, guru harus:<br />
1.	Memiliki antusiasme, rasa kasih sayang dan kemampuan berpikir merdeka dan mandiri. Tanpa hal diatas guru hanya akan menjadi orang yang kerjanya menunggu instruksi dan perintah. Antusiasme membuat guru menjadi bersemangat, kasih sayang pada siswa akan membuat ia tahu mana yang paling baik untuk siswanya dan bersedia mengambil risiko.<br />
2.	Menguasai teknologi, bukan untuk menjadi guru yang ahli komputer, tetapi guru perlu mengetahui dan mempelajari teknologi agar bisa maksimal dalam membantu siswa belajar melalui modalitas belajar yang siswa punyai.<br />
3.	Mempunyai semangat dan dedikasi. Guru-guru yang hebat juga manusia biasa, kadang mereka telat datang ke sekolah dan melakukan kerja lembur jika pekerjaan menumpuk. Namun satu hal yang membedakan ia dari guru lain adalah dedikasi dan semangatnya dalam membelajarkan siswa.<br />
4.	Mempunyai kesediaan dan kemauan untuk berkolaborasi dan mengatakan dirinya orang yang tidak tahu segala. Tidak ada orang yang ahli dalam segala hal. Tetapi karena itulah guru menjadi mau berubah dan bersedia bekerja sama dengan pihak mana saja demi menghasilkan pembelajaran yang terbaik di kelas.<br />
5.	Bersedia menjadi contoh pembelajar seumur hidup dengan bersedia untuk mengakui bahwa dirinya ‘tidak tahu segalanya’. Guru yang hebat bahkan bersedia mengakui batas-batas pengetahuannya sebagai guru.<br />
6.	Mampu sebagai teladan. Pendidikan diperlukan untuk membekali anak-anak untuk hidup di masa depan. Jika kita amati dunia dewasa ini, di mana kerja tim dan berkolaborasi adalah penting. Hal lain yang tidak kalah penting keterampilan komunikasi antarpribadi, atau keterampilan personal. Anak-anak melihat dan mengamati guru-guru mereka. Sebagai teladan, kita perlu menunjukkan contoh dalam bekerja sama untuk mencapai hal-hal besar.<br />
7.	Mau belajar untuk berkomunikasi secara efektif dengan siswa. Berusaha menanggapi ketakutan, kegelisahan dan kekhawatiran siswa dalam perjalanan mereka sebagai pembelajar dengan cara yang baik.<br />
8.	Berusaha untuk menjadi guru yang fleksibel dalam hubungan pribadi dengan siswa, tetapi kaku pada tugas dan standar yang terbaik untuk siswa. Punya hati yang seluas samudera untuk siswanya, cukup lebar untuk menutupi seluruh masalah pribadi, sosial, dan aspek-aspek akademik dari setiap siswanya dikelas,<br />
9.	Mau belajar kepada siswa. Guru yang siap menhadapi abad 21 bahkan menjadikan siswanya yang lebih tahu kepada satu hal sebagai mentornya.<br />
10.	Tidak mudah menyerah pada siswa yang tidak punya motivasi.  Kemampuan untuk memotivasi siswa sudah sepantasnyalah dimiliki oleh setiap guru karena guru yang baik akan berhenti mengajar dan lebih fokus mendidik siswanya apabila mereka punya masalah yang membuatnya tidak termotivasi dalam belajar.<br />
Dalam rangka menyiapkan guru-guru daerah terpencil/tertinggal untuk menghadapi berbagai permasalahan di abad 21,  tahun 2009 ini Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan melalui anggaran block grand yang ada di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Propinsi Bengkulu menyelenggarakan Diklat Getting Started yang pelaksanaannya di inkludkan dalam kegiatan KKG dan MGMP se-propinsi Bengkulu.<br />
Diklat Getting Started adalah suatu penawaran pengembangan profesional untuk para guru yang hanya memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki pengalaman dengan komputer, dan yang memerlukan kecakapan dasar dan pengenalan terhadap projek. Diklat ini dengan materi sebagai berikut:<br />
•	mengembangkan kecakapan dan pendekatan mengajar dan belajar abad ke-21 seperti pembelajaran yang berpusat pada siswa, pemikiran kritis dan kerja sama.<br />
•	melibatkan perencanaan, pelaksanaan, peninjauan ulang, dan berbagi pengalaman dalam kegiatan guru yang bermakna dan relevan<br />
•	Memerlukan pengembangan rencana kegiatan individual yang berisikan rincian tentang bagaimana para guru akan mengaplikasikan kecakapan-kecakapan dan pendekatan baru untuk meningkatkan produktivitas  dan praktek  profesional dengan menggunakan media computer dan internet.<br />
Referensi: </p>
<p>http://elpramwidya.wordpress.com/artikel-pembelajaran/</p>
<p>http://baskoro1.blogspot.com/2009/06/mempersiapkan-generasi-di-abad-21.html</p>
<p>http://www.docstoc.com/docs/18532252/PENDEKATAN-PEMBELAJARAN-ABAD-21-MATEMATIKA</p>
<p>http://p4tk-bispar.net/nano/?p=31</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/517/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=517&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2010/01/27/diklat-getting-started-menuju-pembelajaran-abad-ke-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teori Penelitian Deskriptif</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/12/25/teori-penelitian-deskriptif/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/12/25/teori-penelitian-deskriptif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 15:23:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bimbingan KTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengertian Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Best,1982:119). Penelitian ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini penelitian tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Dengan metode deskriptif, penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=511&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Pengertian<br />
Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Best,1982:119). Penelitian ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini penelitian tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Dengan metode deskriptif, penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal (west, 1982). Di samping itu, penelitian deskriptif juga merupakan penelitian, dimana pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadan dan kejadian sekarang. Mereka melaporkan keadaan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya.<span id="more-511"></span></p>
<p>Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan sobjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangan akhir-akhir ini, metode penelitian deskriptif juga banyak di lakukan oleh para penelitian karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian di lakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.</p>
<p>Disamping kedua alasan seperti tersebut di atas, penelitian deskriptif pada umumnya menarik para peneliti muda, karena bentuknya sangat sedarhana dengan mudah di pahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataannya. Karena penelitian ini  sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual. Penenelitian deskriptif juga dapat dikembangkan ke arah penenelitian naturalistic yang menggunakan kasus yang spesifik malalui deskriptif mendalam atau dengan penelitian setting alami fenomenologis dan dilaporkan secara thick description (deskripsi mendalam) atau  dalam penelitian ex-postfacto dengan hubungan antarvariabel yang lebih kompleks.</p>
<p>Penelitian deskriptif yang baik sebenarnya  memiliki proses dan sadar yang sama seperti penelitian kuantitatif lainnya. Disamping itu, penelitian ini juga memerlukan tindakan yang teliti pada setiap komponennya agar dapat menggambarkan subjek atau objek yang diteliti mendekati kebenaranya. Sebagai contoh, tujuan harus diuraikan secara jelas, permasalahan yang diteliti signifikan, variabel penelitian dapat diukur, teknik sampling harus ditentukan secara hati-hati, dan hubungan atau komparasi yang tepat perlu dilaukan untuk mendapatkan gambaran objek atau subjek yang diteliti secara lengkap dan benar.</p>
<p>Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peristiwa yang saat sekarang terjadi. Dengan penelitian deskriptifi, peneliti memungkinkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antarvariabel.<br />
B.Langkah-langkah pelaksanaan penelitian deskriptif<br />
Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah penting seperti berikut:<br />
1.Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk<br />
dipecahkan melalui metode deskriptif.<br />
2.Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas.<br />
3.Menentukan tujuan dan manfaat penelitian.<br />
4.Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan.<br />
5.Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian.<br />
6.Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen, mengumpulkan data, dan menganalisis data.<br />
7.Mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistika yang relevan.<br />
8.Membuat laporan penelitian</p>
<p>C.Macam-macam penelitian deskriptif<br />
Banyak jenis penelitian yang termasuk sebagai penelitian deskriptif. Setiap ahli penelitian sering dalam memberikan infomasi tentang pengelompokan jenis penelitian deskriptif, cenderung sedikit bervariasi. Perbedaan itu biasanya dipengaruhi oleh pandangan dan pengetahuan yang menjadi latar belakang para ahli tersebut. Perbedaan pandangan tersebut, salah satu diantaranya bila dilihat dari apek bagaimana proses pengumpulan data dalam penelitian deskriptif dilakukan oleh  peneliti.</p>
<p>Dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, macam-macam penelitian deskrptif minimal dapat dbedakan menjadi tiga macam, yaitu laporan dari atau self-report, studi perkembangan, studi lanjutan, (follow-up study), dan studi sosiometrik.</p>
<p>1.Penelitian Laporan Dari (Self-Report research)<br />
Dari kaitannya dengan data yang dikumpulkan maka penelitian deskriptif mempunyai beberapa macam jenis termasuk di antaranya laporan diri dengan menggunakan observasi. Dalam penelitian self-report, informasi dikumpulkan oleh orang  tersebut yang juga berfungsi sebagai peneliti.</p>
<p>Dalam penelitian self-report ini penelitian dianjurkan menggunakan teknik observasi secara langsung, yaitu individu yang diteliti dikunjungi dan dilihat kegiatanya dalam situasi yang alami. Tujuan obsevasi langsung adalah untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Dalam penelitian self-report, peneliti juga dianjurkan menggunakan alat bantu lain untuk memperoleh data, termasuk misalnya dengan menggunakan perlengkapan lain seperti catatan, kamera, dan rekaman. Alat-alat tersebut digunakan terutama untuk memaksimalkan ketika mereka harus menjaring data dari lapangan.</p>
<p>Yang perlu diperhatikan oleh para peneliti yang dengan model self-report adalah bahwa dalam menggunakan metode observasi dalam melakukan wawancara, para peneliti harus dapat menggunakan secara simultan untuk memperoleh data yang maksimal. Salah satu contoh penelitian menggunakan self-report dapat dilihat dalam laporan tentang studi Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah. </p>
<p>2.Studi Perkembangan (Developmental Study)<br />
Studi perkembangan atau devlopmental study banyak dilakukan oleh peneliti di bidang pendidikan atau bidang psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku, sasaran penelitian perkembangan pada umumnya menyangkut variabel tingkah laku secara individual maupun dalam kelompok. Dalam penelitian perkembangan tersebut peneliti tertarik dengan variabel yang utamakan membedakan antara tingkat umur, pertumbuhan atau kedewasaan subjek yang diteliti.<br />
Studi perkembangan biasanya di lakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, bertujuan guna menemukan perkembangan demensi yang terjadi pada seorang respoden. Demensi yang sering menjadi perhatian peneliti ini, misalnya: intelektual, fisik, emosi, reaksi terhadapan tertentu, dan perkembangan sosoial anak. Studi perkembangan ini biasa dilakukan baik secara cross-sectional atau logiotudinal.</p>
<p>Jika penelitian dilakukan dengan model cross-sectional, peneliti pada waktu yang sama dan disimultan menggunakan berbagi tingkatan variabel untuk diselidiki. Data yang diperoleh dari masing-masing tingkat dapat dideskripsi dan kemudian di komparasi atau dicari tingkat asosiasinya. Dalam penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan responden sebagai sampel tertentu, misalnya: satu kelas satu sekolah, kemudian dicermati secara intensif perkembangannya secara continue dalam jangka waktu tertentu seperti tiga bulan, enam bulan, satu tahun. Semua fenomena yang muncul didokumentasi untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisis guna mencapai hasil penelitian.</p>
<p>3.Studi Kelanjutan (Follow-up study)<br />
Study kelanjutan dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memproleh perlakuan, misalnya rogram pendidikan. Studi kelanjutan ini di lakukan untuk melakukan evaluasi internal maupun evaluasi eksteral, setelah subjek atau responden menerima program di suatu lembaga pendidikan. Sebagai contoh Badan Akreditasi Nasional menganjurkan adanya informasi tingkat serapan alumni dalam memasuki dunia kerja, setelah mereka selesai program pendidikannya. Dalam penelitian studi kelanjutan biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Out (keluran) berkaitan dengan informasi hasil akhir setelah suatu program yang diberikan kepada subjek sasaran di selesaikan. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang di ambil dari outcome (hasil) biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan, misalnya program pendidikan kepada subjek yang di teliti setelah mereka kembali ke tempat asal yaitu masyarakat.</p>
<p>4.Studi Sosiometrik (Sociometric study)<br />
Yang dimaksud dengan sosiometrik adalah analisis hubungan antarpribadi dalam suatu kelompok individu. Melalui analisis pilihan individu atas dasar idola atau penolakan sesorang terhadap orang lain dalam suatu kelompok dapat di tentukan. Prinsif teori studi sosiometrik pada dasarnya adalah penanyakan pada masing-masing anggota kelompok yang diteliti untuk menentukan denga siapa dia paling suka, untuk bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Pada kasus ini, dia dapat memilih satu atau tiga dalam kelompoknya. Dari setiap anggota, peneliti akan memperoleh jabatan yang bervariasi. Dengan menggunakan gambar sosiogram, posisi seseorang akan dapat diterangkan kedudukannya dalam kelompok organisasi. </p>
<p>Dalam sosiogram tersebut pada umumnya digunakan beberapa batasan istilah yang dapat menunjukan posisi individu dalam kelompoknya. Beberapa istilah tersebut seperti misalnya: “Bintang”  diberikan kepada mereka yang paling banyak dipilih oleh para anggotanya, “Terisolasi” di berikan kepada mereka yang tidak banyak dipilih oleh para anggota dalam kelompok, “Klik” diberikan kepada kelompok kecil anggota yang saling memilih masing orang dalam kelompoknya.<br />
Dibidang pendidikan, sosiometrik telah banyak digunakan untuk menentukan hubungan variabel status seseorang misalnya pemimpin formal, pemimpin dalam lembaga pendidikan atau posisi seseorang dalam kelompoknya dengan variabel dalam kegiatan pendidikan. </p>
<p>Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarlkan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya, dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan karakeristik objek yang di teliti secara tepat.</p>
<p> Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.<br />
Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan.</p>
<p>Format Proposal</p>
<p>1.   Konteks Penelitian atau Latar Belakang<br />
Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa peelitian ini dilakukan, dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. (Lihat juga membuat pendahuluan skripsi ) </p>
<p>2.   Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah<br />
Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah rumusan masalah, fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.Alasan-alasan ini harus  dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik, induktif, dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan. </p>
<p>3.   Tujuan Penelitian<br />
Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. </p>
<p>4.    Landasan Teori<br />
Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”. </p>
<p>5.   Kegunaan Penelitian<br />
Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.</p>
<p>6.   Metode Penelitian<br />
Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian. </p>
<p>a.   Pendekatan dan Jenis Penelitian<br />
Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). </p>
<p>b.  Kehadiran Peneliti<br />
Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan.</p>
<p>c.  Lokasi Penelitian<br />
Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci.</p>
<p>d.  Sumber Data<br />
Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling).<br />
Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek, informan, dan waktu.</p>
<p>e. Prosedur Pengumpulan Data<br />
Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.</p>
<p>f. Analisis Data<br />
Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika. (lihat analisis )</p>
<p>g. Pengecekan Keabsahan Temuan<br />
Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) .</p>
<p>h. Tahap-tahap Penelitian<br />
Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan.</p>
<p>7. Daftar Rujukan<br />
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan.<br />
Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:<br />
1.  nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik,<br />
2.  tahun penerbitan<br />
3.  judul, termasuk subjudul<br />
4.  kota tempat penerbitan, dan<br />
5.  nama penerbit. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/511/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=511&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/12/25/teori-penelitian-deskriptif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Permendiknas no.75 tahun 2009 ttg Kisi-kisi UASBN dan UN 2009/2010</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/11/20/permendiknas-no-75-tahun-2009-ttg-kisi-kisi-uasbn-dan-un-20092010/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/11/20/permendiknas-no-75-tahun-2009-ttg-kisi-kisi-uasbn-dan-un-20092010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 03:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[UASBN DAN UN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional bagi SD dan Ujian Nasional bagi SMP dan SMA tahun 2009/2010 sudah diambang pintu. Untuk menyikapi hal ini sebagai kepala sekolah ataupun sebagai guru apakah bapak/Ibu saat ini sudah mempersiapkannya dengan baik, jangan sampai nanti tergopoh- gopoh. Lebih baik anak didik kita persiapkan dari awal dari pada demi kelulusannya kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=503&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepenggal.files.wordpress.com/2009/11/permen_75_2009.pdf"> Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional bagi SD dan Ujian Nasional bagi SMP dan SMA tahun 2009/2010 sudah diambang pintu. Untuk menyikapi hal ini sebagai kepala sekolah ataupun sebagai guru apakah bapak/Ibu saat ini sudah mempersiapkannya dengan baik, jangan sampai nanti tergopoh- gopoh. Lebih baik anak didik kita persiapkan dari awal dari pada demi kelulusannya kita harus berbuat curang dengan membagi-bagi kunci jawaban. Untuk melihat kisi-kisi Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 silahkan didownload di sini, semoga ada manfaatnya<br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/503/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=503&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/11/20/permendiknas-no-75-tahun-2009-ttg-kisi-kisi-uasbn-dan-un-20092010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERMENDIKNAS NO.39 TAHUN 2009 TTG BEBAN KERJA GURU DAN PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/11/13/permendiknas-no-39-tahun-2009-ttg-beban-kerja-guru-dan-pengawas-satuan-pendidikan/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/11/13/permendiknas-no-39-tahun-2009-ttg-beban-kerja-guru-dan-pengawas-satuan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 09:02:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG PEMENUHAN BEBAN KERJA GURU DAN PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN DENGAN Menimbang : bahwa untuk memenuhi beban kerja guru sebagaimana diatur dalam Pasal 52, Pasal 53, dan beban kerja guru dan pengawas satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 54 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=496&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://elpramwidya.wordpress.com/2009/11/13/permendiknas-no-39-tahun-2009-ttg-beban-kerja-guru-dan-pengawas-satuan-pendidikan/smp-mbl/" rel="attachment wp-att-497"><img src="http://elpramwidya.files.wordpress.com/2009/11/smp-mbl.jpg?w=225&#038;h=300" alt="smp mbl" title="smp mbl" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-497" /></a>SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG PEMENUHAN BEBAN KERJA GURU DAN PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN DENGAN </p>
<p>                                       Menimbang :<br />
bahwa untuk memenuhi beban kerja guru sebagaimana diatur dalam Pasal 52, Pasal 53, dan beban kerja guru dan pengawas satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 54 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan;<span id="more-496"></span></p>
<p>Mengingat :<br />
1. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586);<br />
2. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4941);<br />
3. Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5016);<br />
2<br />
4. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2008;<br />
5. Keputusan Presiden Nomor 187/M/2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 77/P Tahun 2007;<br />
                               MEMUTUSKAN :<br />
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG PEMENUHAN BEBAN KERJA GURU DAN PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN.</p>
<p>Pasal 1<br />
(1) Beban kerja guru paling sedikit ditetapkan 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satu atau lebih satuan pendidikan yang memiliki izin pendirian dari Pemerintah atau pemerintah daerah.<br />
(2) Beban mengajar guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala satuan pendidikan adalah paling sedikit 6 (enam) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu, atau membimbing 40 (empat puluh) peserta didik bagi kepala satuan pendidikan yang berasal dari guru bimbingan dan konseling/konselor.<br />
(3) Beban mengajar guru yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala satuan pendidikan adalah paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu atau membimbing 80 (delapan puluh) peserta didik bagi wakil kepala satuan pendidikan yang berasal dari guru bimbingan dan konseling/konselor.<br />
(4) Beban mengajar guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan pada satuan pendidikan adalah paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.<br />
(5) Beban mengajar guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala laboratorium, bengkel, atau unit produksi satuan pendidikan adalah paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.<br />
3<br />
(6) Beban mengajar guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan.<br />
(7) Beban mengajar guru pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi atau pendidikan terpadu paling sedikit 6 (enam) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.</p>
<p>Pasal 2<br />
(1) Guru yang tidak dapat memenuhi beban kerja sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 diberi tugas mengajar pada satuan pendidikan formal yang bukan satuan administrasi pangkalnya, baik negeri maupun swasta sebagai guru kelas atau guru mata pelajaran yang sesuai dengan sertifikat pendidik.<br />
(2) Bagi guru yang akan memenuhi kekurangan jam tatap muka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melaksanakan paling sedikit 6 (enam) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satuan administrasi pangkalnya.<br />
(3) Pemberian tugas mengajar pada satuan pendidikan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh :<br />
a. Kepala dinas yang membidangi pendidikan kabupaten/kota untuk sekolah negeri;<br />
b. Kepala Kantor Departemen Agama kabupaten/kota untuk madrasah negeri;<br />
c. Pejabat yang diberi tugas mengelola satuan pendidikan pada departemen/lembaga pemerintah nondepartemen di luar Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama untuk sekolah di lingkungannya;<br />
d. Kepala satuan pendidikan atau penyelenggara satuan pendidikan, sesuai dengan kewenangannya, setelah mendapat persetujuan dari kepala dinas pendidikan kabupaten/kota atau Kepala Kantor Departemen Agama kabupaten/kota untuk sekolah/madrasah yang diselenggarakan oleh masyarakat;<br />
e. Kepala dinas pendidikan provinsi untuk satuan pendidikan khusus.<br />
(4) Pemberian tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didasarkan atas kesepakatan bersama antara dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten/kota, kantor departemen penyelenggara satuan pendidikan, dan penyelenggara pendidikan mengenai kebutuhan guru pada satuan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat.</p>
<p>Pasal 3<br />
(1) Guru yang bertugas pada satuan pendidikan layanan khusus, berkeahlian khusus, atau dibutuhkan atas dasar pertimbangan kepentingan nasional yang tidak dapat memenuhi beban kerja minimum 24 (dua puluh empat) jam tatap muka diusulkan oleh kepala dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten/kota, kantor Departemen Agama kabupaten/kota, sesuai dengan kewenangannya kepada Menteri Pendidikan Nasional untuk memperoleh ekuivalensi.<br />
(2) Guru yang bertugas pada satuan pendidikan layanan khusus merupakan guru yang ditugaskan pada daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.<br />
(3) Guru yang berkeahlian khusus merupakan guru yang diperlukan untuk mengajar mata pelajaran atau program keahlian sesuai dengan latar belakang keahlian langka yang terkait dengan budaya Indonesia.<br />
(4) Guru yang dibutuhkan atas dasar pertimbangan kepentingan nasional merupakan:<br />
a. Guru yang bertugas di sekolah Indonesia di luar negeri;<br />
b. Guru yang tidak dapat diberi tugas pada satuan pendidikan lain untuk mengajar sesuai dengan kompetensinya dengan alasan kesulitan akses dibandingkan dengan jarak dan waktu;<br />
c. Guru yang ditugaskan menjadi guru di negara lain atas dasar kerjasama antar negara.<br />
(5) Usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan bukti kegiatan:<br />
a. mengajar mata pelajaran yang paling sesuai dengan rumpun mata pelajaran yang diampunya dan/atau mengajar berbagai mata pelajaran yang tidak ada guru mata pelajarannya pada satuan pendidikan lain;<br />
b. mengelola taman bacaan masyarakat (TBM);<br />
c. menjadi tutor program Paket A, Paket B, Paket C, Paket C Kejuruan atau program pendidikan keaksaraan;<br />
d. menjadi guru bina atau guru pamong pada sekolah terbuka;<br />
e. menjadi pengelola kegiatan keagamaan;<br />
f. mengelola Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri;<br />
g. sebagai guru inti/instruktur/tutor pada kegiatan Kelompok Kerja Guru/Musyawarah Guru Mata Pelajaran (KKG/MGMP);<br />
h. membina kegiatan mandiri terstruktur dalam bentuk pemberian tugas kepada peserta didik;<br />
i. membina kegiatan ektrakurikuler dalam bentuk kegiatan Praja Muda Karana (Pramuka), Olimpiade/Lomba Kompetensi Siswa, Olahraga, Kesenian, Karya Ilmiah Remaja (KIR), Kerohanian, Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), Pecinta Alam (PA), Palang Merah Remaja (PMR), Jurnalistik/Fotografi, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan sebagainya;<br />
j. membina pengembangan diri peserta didik dalam bentuk kegiatan pelayanan sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, sikap, dan perilaku siswa dalam belajar serta kehidupan pribadi, sosial, dan pengembangan karir diri;<br />
k. kegiatan lain yang berkaitan dengan pendidikan masyarakat dan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan;<br />
l. Kegiatan pembelajaran bertim (team teaching) dan/atau;<br />
m. Kegiatan pembelajaran perbaikan (remedial teaching).<br />
(6) Guru memilih beberapa kegiatan dari keseluruhan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).<br />
(7) Ketentuan ayat (5) tidak berlaku bagi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c.</p>
<p>Pasal 4<br />
(1) Beban kerja guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan, adalah melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan pengawasan.<br />
(2) Pembimbingan dan pelatihan profesional guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :<br />
a. membimbing dan melatih profesionalitas guru dalam melaksanakan tugas pokok untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses pembelajaran/pembimbingan, dan membina tenaga kependidikan lainnya, yaitu tenaga administrasi sekolah/madrasah, tenaga laboratorium, tenaga perpustakaan, baik pada satuan pendidikan maupun melalui KKG/MGMP/MKKS atau bentuk lain yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan lainnya;<br />
b. menilai kinerja guru dalam melaksanakan tugas pokok untuk merencanakan, melaksanakan, menilai proses pembelajaran/ pembimbingan, dan membina tenaga kependidikan lainnya yaitu tenaga administrasi sekolah/madrasah, tenaga laboratorium, dan tenaga perpustakaan pada satuan pendidikan.<br />
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :<br />
a. mengawasi, memantau, mengolah, dan melaporkan hasil pelaksanaan 8 (delapan) standar nasional pendidikan pada satuan pendidikan;<br />
b. membimbing satuan pendidikan untuk meningkatkan atau mempertahankan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan.<br />
(4) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 5 (lima) sekolah/madrasah binaan untuk daerah khusus atau paling sedikit 10 (sepuluh) sekolah/madrasah binaan untuk daerah yang bukan daerah khusus.</p>
<p>Pasal 5<br />
(1) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak berlakunya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional ini, guru dalam jabatan yang bertugas selain di satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3, dalam keadaan kelebihan guru pada mata pelajaran tertentu di wilayah kabupaten/kota, dapat memenuhi beban mengajar minimal 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dengan cara:<br />
a. mengajar mata pelajaran yang paling sesuai dengan rumpun mata pelajaran yang diampunya dan/atau mengajar mata pelajaran lain yang tidak ada guru mata pelajarannya pada satuan administrasi pangkal atau satuan pendidikan lain;<br />
b. menjadi tutor program Paket A, Paket B, Paket C, Paket C Kejuruan atau program pendidikan keaksaraan;<br />
c. menjadi guru bina atau guru pamong pada sekolah terbuka<br />
d. menjadi guru inti/instruktur/tutor pada kegiatan Kelompok Kerja Guru/Musyawarah Guru Mata Pelajaran (KKG/MGMP);<br />
e. membina kegiatan ektrakurikuler dalam bentuk kegiatan Praja Muda Karana (Pramuka), Olimpiade/Lomba Kompetensi Siswa, Olahraga, Kesenian, Karya Ilmiah Remaja (KIR), Kerohanian, Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), Pecinta Alam (PA), Palang Merah Remaja (PMR), Jurnalistik/Fotografi, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan sebagainya;<br />
f. membina pengembangan diri peserta didik dalam bentuk kegiatan pelayanan sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, sikap dan perilaku siswa dalam belajar serta kehidupan pribadi, sosial, dan pengembangan karir diri;<br />
g. melakukan pembelajaran bertim (team teaching) dan/atau;<br />
h. melakukan pembelajaran perbaikan (remedial teaching).<br />
(2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak berlakunya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional ini, dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota dan Kantor Wilayah Departemen Agama dan Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota harus selesai melakukan perencanaan kebutuhan dan redistribusi guru baik di tingkat satuan pendidikan maupun di tingkat kabupaten/kota.</p>
<p>Pasal 6<br />
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Peraturan Menteri ini diatur dalam pedoman yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.</p>
<p>Pasal 7<br />
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 055/U/1994 tentang Perubahan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0386/O/1993 tentang Pedoman Penghitungan Kebutuhan Guru di Sekolah Dalam Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0386/O/1993 tentang Pedoman Penghitungan Kebutuhan Guru di Sekolah Dalam Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan semua Ketentuan Pelaksanaan mengenai Penghitungan Beban Kerja Guru dinyatakan tidak berlaku.</p>
<p>Pasal 8<br />
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.</p>
<p>Ditetapkan di Jakarta<br />
Pada tanggal<br />
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,</p>
<p>BAMBANG SUDIBYO</p>
<p>Salinan sesuai dengan aslinya.<br />
Kepala Biro Hukum dan Organisasi,</p>
<p>Dr. A. Pangerang Moenta, S.H.,M.H.,DFM<br />
NIP. 196108281987031003</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/496/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=496&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/11/13/permendiknas-no-39-tahun-2009-ttg-beban-kerja-guru-dan-pengawas-satuan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elpramwidya.files.wordpress.com/2009/11/smp-mbl.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">smp mbl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran Tematik I</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/10/07/pembelajaran-tematik-i/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/10/07/pembelajaran-tematik-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 02:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan ajar diklat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[A. Latar Belakang Pembelajaran Tematik Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=490&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Latar Belakang Pembelajaran Tematik</p>
<p>Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung. <span id="more-490"></span></p>
<p>Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD  kelas I – III untuk <a href="http://elpramwidya.wordpress.com/2009/10/07/pembelajaran-tematik-i/foto-smp2/" rel="attachment wp-att-491"><img src="http://elpramwidya.files.wordpress.com/2009/10/foto-smp2.jpg?w=225&#038;h=300" alt="foto smp2" title="foto smp2" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-491" /></a>setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA  2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik. </p>
<p>Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah,  muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%. </p>
<p>Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit  taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % Peserta didik berada pada  pendidikan prasekolah lain. </p>
<p>Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah. </p>
<p>Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.   </p>
<p>B.	Tujuan </p>
<p>Tujuan penyusunan dokumen model pengembangan silabus tematik pada kelas awal Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:<br />
1.Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran tematik.<br />
2.Memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran tematik yang sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar.<br />
3.Memberikan keterampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan,  melaksanakan dan melakukan penilaian dalam pembelajaran tematik.<br />
4.Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan pembelajaran tematik</p>
<p>C.Ruang Lingkup </p>
<p>Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada kelas I &#8211; III Sekolah Dasar, yaitu: Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan. </p>
<p>BAB II<br />
KERANGKA BERPIKIR</p>
<p>A.Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD</p>
<p>Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. </p>
<p>Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri. </p>
<p>Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu. </p>
<p>B.Cara Anak Belajar </p>
<p>Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.  </p>
<p>Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.</p>
<p>Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu: </p>
<p>1.Konkrit<br />
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.  Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. </p>
<p>2.Integratif<br />
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. </p>
<p>3.Hierarkis<br />
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .</p>
<p>C.Belajar dan Pembelajaran  Bermakna</p>
<p>Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. </p>
<p>Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak    jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. </p>
<p>Belajar bermakna (meaningfull learning)  merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.  Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. </p>
<p>Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan. </p>
<p>D. Pengertian Pembelajaran Tematik</p>
<p>Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar,  konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat  memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan  memberikan banyak keuntungan, di antaranya:<br />
 1)  Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,<br />
2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;<br />
3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;<br />
4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;<br />
5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;<br />
6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;<br />
7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan,  waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan. </p>
<p>E.Landasan Pembelajaran Tematik</p>
<p> Landasan Pembelajaran tematik mencakup: </p>
<p>Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada  pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.  Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. </p>
<p>Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. </p>
<p>Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).</p>
<p>F.Arti Penting Pembelajaran Tematik</p>
<p>Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan  terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. </p>
<p>Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik). </p>
<p>Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.</p>
<p>Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat yaitu: 1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, 2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan  tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. 4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat, </p>
<p>G. Karakteristik Pembelajaran Tematik </p>
<p>Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:<br />
1.Berpusat pada siswa<br />
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.<br />
2.Memberikan pengalaman langsung<br />
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.<br />
3.Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas<br />
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.<br />
4.Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran<br />
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.<br />
5.Bersifat fleksibel<br />
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.<br />
6.Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa<br />
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.<br />
7.Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan</p>
<p>H. RAMBU-RAMBU</p>
<p>1.Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan<br />
2.Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester<br />
3.Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri.<br />
4.Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.<br />
5.Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral<br />
6.Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat</p>
<p> BAB III<br />
IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK</p>
<p>Dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup:</p>
<p>A.Implikasi bagi guru</p>
<p>Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh. </p>
<p>B.Implikasi bagi siswa</p>
<p>1.Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal.<br />
2.Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah</p>
<p>C.Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media</p>
<p>1.Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar.<br />
2.Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).<br />
3.Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.<br />
4.Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi </p>
<p>D.  Implikasi terhadap Pengaturan ruangan </p>
<p>Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi:<br />
•Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan.<br />
•Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung<br />
•Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet<br />
•Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas<br />
•Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar<br />
•Alat, sarana dan sumber  belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.</p>
<p>E.	Implikasi terhadap Pemilihan metode</p>
<p>Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap. </p>
<p>BAB IV<br />
TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN</p>
<p>Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran. </p>
<p>A.Pemetaan Kompetensi Dasar<br />
Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:</p>
<p>1.  Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator<br />
Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal  sebagai berikut:<br />
•Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik<br />
•Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran<br />
•Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat diamati</p>
<p>2.Menentukan tema<br />
a.cara penentuan tema<br />
Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni: </p>
<p>Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai. </p>
<p>Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. </p>
<p>b.Prinsip Penentuan tema<br />
Dalam  menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:<br />
•Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa:<br />
•Dari yang termudah menuju yang sulit<br />
•Dari yang sederhana menuju yang kompleks<br />
•Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.<br />
•Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa<br />
•Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya</p>
<p>3.   Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator<br />
Lakukan  identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.</p>
<p>B.  Menetapkan Jaringan Tema<br />
Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat  kaitan antara tema,  kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.  </p>
<p>C.Penyusunan Silabus<br />
Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian. </p>
<p>D.Penyusunan Rencana Pembelajaran</p>
<p>Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:<br />
1.Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan). </p>
<p>2.Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.</p>
<p>3.Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator. </p>
<p>4.Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup). </p>
<p>5.Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.</p>
<p>6.Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian). </p>
<p>BAB V<br />
TAHAP PELAKSANAAN</p>
<p>1.   Tahapan kegiatan<br />
Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit)</p>
<p>a.   Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan<br />
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. </p>
<p>Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi</p>
<p>b.   Kegiatan Inti<br />
Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai  strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.</p>
<p>c.   Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut<br />
Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.</p>
<p>Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari dapat dijabarkan menjadi:</p>
<p>Contoh 1:</p>
<p>Kegiatan	Jenis kegiatan<br />
Kegiatan pembukaan	Anak berkumpul bernyanyi sambil menari mengikluti irama musik</p>
<p>Kegiatan inti<br />
•Kegiatan untuk pengembangan membaca<br />
•Kegiatan untuk pengembangan menulis<br />
•Kegitan untuk pengembangan berhitung<br />
•Kegiatan penutup	Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita</p>
<p>Contoh 2:<br />
Kegiatan	Jenis kegiatan<br />
Kegiatan pembukaan	Waktu berkumpul (anak m,enceritakan pengalkaman, menyanyi, melakukan kegiatan fisik sesuai dengan tema)</p>
<p>Kegiatan inti<br />
•Pengembnagan kemmapuan menulis (kegiatan kelompok besar)<br />
•Pengembnagan kemampuan berhitung kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)<br />
•Melakukan pengamatan sesuai dengan tema, misalnya mengamati jenis kendaraan yang lewat pada tema transporasi, menggambar hewan hasil pengamatan</p>
<p>Kegiatan penutup<br />
•Mendongeng<br />
•Pesan-pesan moral<br />
•Musik/menyanyi</p>
<p>2.	Pengaturan Jadwal pelajaran<br />
Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan. Guru bersama dengan guru mata pelajaran  pendidikan agama, guru pendidikan Jasmani dan guru muatan lokal perlu bersama-sama menyusun Jadwal pelajaran.  </p>
<p>BAB VI<br />
PENILAIAN</p>
<p>A. Pengertian</p>
<p>Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.  </p>
<p>B. Tujuan  </p>
<p>Tujuan Penilaian pembelajaran tematik adalah:<br />
1.Mengetahui percapaian indikator yang telah ditetapkan<br />
2.Memperoleh umpan balik bagi guru, untuk pengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran<br />
3.Memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa<br />
4.Sebagai acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remedial, pengayaan, dan pemantapan).</p>
<p>C. Prinsip </p>
<p>1.  Penilaian di kelas I dan II mengikuti aturan penilaian mata-mata pelajaran lain di sekolah dasar. Mengingat bahwa siswa kelas I SD belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.<br />
2.	Kemampuan  membaca, menulis dan  berhitung  merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas I dan II. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.<br />
3.	Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing-masing Kompetensi Dasar dan Hasil Belajar dari mata-mata pelajaran.<br />
4. Penilaian dilakukan secara terus menerus  dan  selama  proses belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti dan menyanyi pada kegiatan akhir.<br />
5. Hasil karya/kerja siswa dapat digunakan sebagai bahan masukan guru dalam mengambil keputusan siswa misalnya: Penggunaan tanda baca, ejaan kata, maupun angka. </p>
<p>D.  Alat Penilaian</p>
<p>Alat penilaian dapat berupa Tes dan Non Tes. Tes mencakup: tertulis, lisan, atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa, dan porto folio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuiah buku bantu. Sedangkan Tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya untuk mengetahui  tentang penggunaan tanda baca, Jean, kata atau angka</p>
<p>Berikut adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru: </p>
<p>A. Kewarganegaraan dan<br />
Pengetahuan Sosial	: Tes Lisan<br />
•Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang dialami<br />
•Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang berkesan<br />
•Mengekspresikan perasaan waktu memberi kesan. </p>
<p>B. Bahasa Indonesia	: Perbuatan<br />
•Kelancaran membaca<br />
•Melafalkan kata<br />
•Melagukan/intonasi<br />
•Cara bertanya jawab<br />
Tugas<br />
•Melengkapi kalimat </p>
<p>C. Ilmu Pengetahuan Alam	: Perbuatan<br />
•Mendemonstrasikan cara menggosok gigi<br />
: Lisan<br />
•Menyebutkan cara memelihara gigi<br />
•Menjelaskan manfaat menggosok gigi</p>
<p>E.  Aspek Penilaian </p>
<p>Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran yang terdapat pada tema tersebut. Dengan demikian penilaian dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema, melainkan sudah terpisah-pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar, Hasil Belajar  dan Indikator mata pelajaran.</p>
<p>Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran yang terdapat pada kelas satu dan dua Sekolah Dasar, yaitu: Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan. </p>
<p>PENUTUP<br />
Pedoman ini merupakan acuan minimal, sehingga sekolah dan guru dapat mengembangan sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing.</p>
<p> ( Sumber bahan Diklat Sosialisasi KTSP tahun 2009 di Jakarta)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=490&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/10/07/pembelajaran-tematik-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elpramwidya.files.wordpress.com/2009/10/foto-smp2.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">foto smp2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/09/07/manfaat-puasa-bagi-kesehatan/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/09/07/manfaat-puasa-bagi-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:16:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN Secara fisik puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) beserta enzim dan hormon yang biasanya bekerja untuk mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 1 Puasa akan mengaktif kan sistem pengendalian kadar gula darah. Apabila kadar gula darah turun, maka cadangan gula dalam bentuk glikogen yang ada di hati mulai kita gunakan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=484&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN<br />
<a href="http://elpramwidya.wordpress.com/2009/09/07/manfaat-puasa-bagi-kesehatan/makah_/" rel="attachment wp-att-485"><img src="http://elpramwidya.files.wordpress.com/2009/09/makah_.jpg?w=300&#038;h=225" alt="MAKAH_" title="MAKAH_" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-485" /></a>Secara fisik puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) beserta enzim dan hormon yang biasanya bekerja untuk mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 1 Puasa akan mengaktif kan sistem pengendalian kadar gula darah. Apabila kadar gula darah turun, maka cadangan gula dalam bentuk glikogen yang ada di hati mulai kita gunakan. <span id="more-484"></span></p>
<p>Puasa juga merupakan kesempatan menurunkan berat badan bagi yang gemuk, dengan cara tidak makan berlebihan pada waktu buka, sehabis buka dan sewaktu sahur. Kadar lemak darah, kolesterol dan trigliserida bisa berkurang karena tingkat konsumsi makanan gorengan dan bersantan berkurang. </p>
<p>Bagi yang hipertensi, tekanan darah dapat turun, jika selama berbuka hingga sahur tidak makan makanan yang asin-asin dan tidak lupa minum obat hipertensi pada waktu sahur.</p>
<p>Pada penderita diabetes (terutama yang gemuk) dengan berpuasa gula darah lebih terkontrol. Tidak semua penderita diabetes mellitus atau kencing manis aman untuk menjalankan puasa. Yang aman adalah penderita diabetes yang kadar gulanya kurang dari 200 mg/dl, dan mendapat pengobatan bentuk tablet yang diminum. Jika mendapat suntikan insulin , dosis harus kurang dari 40 unit/hari dengan 1 x suntikan per hari.</p>
<p>Para penderita sakit maag atau gastritis yang ringan boleh puasa, kadang-kadang keluhannya berkurang. Bila berat, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter dulu apakah boleh puasa.<br />
Menurut psikolog kondang, Sartono Mukadis, ibadah puasa yang identik dengan konsep pengendalian diri, akan membawa pengaruh lebih besar lagi terhadap kehidupan pelakunya jika dilakukan dengan benar.</p>
<p>Berdasarkan pendapat sejumlah ahli kesehatan, puasa dapat memberikan berbagai manfaat bagi yang melaksanakannya, di antaranya adalah:<br />
untuk ketenangan jiwa, mengatasi stres, meningkatkan daya tahan tubuh, serta memelihara kesehatan dan kecantikan. Puasa selain bermanfaat untuk ketenangan jiwa agar terhindar dari stres, juga dapat menyehatkan badan dan dapat membantu penyembuhan bermacam penyakit.</p>
<p>Ketiga orang ahli tersebut adalah Allan Cott M.D., seorang ahli dari Amerika, Dr. Yuri Nikolayev Direktur bagian diet pada Rumah Sakit Jiwa Moskow, dan Alvenia M. Fulton, Direktur Lembaga Makanan Sehat &#8220;Fultonia&#8221; di Amerika.</p>
<p>Allan Cott, M.D., telah menghimpun hasil pengamatan dan penelitian para ilmuwan berbagai negara, lalu menghimpunnya dalam sebuah buku Why Fast membeberkan berbagai hikmah puasa, antara lain:<br />
a. To feel better physically and mentally (merasa lebih baik secara fisik dan mental).<br />
b. To look and feel younger (melihat dan merasa lebih muda).<br />
c. To clean out the body (membersihkan badan)<br />
d. To lower blood pressure and cholesterol levels (menurunkan tekanan darah dan kadar lemak.<br />
e. To get more out of sex (lebih mampu mengendalikan seks).<br />
f. To let the body health itself (membuat badan sehat dengan sendirinya).<br />
g. To relieve tension (mengendorkan ketegangan jiwa).<br />
h. To sharp the senses (menajamkan fungsi indrawi).<br />
i. To gain control of oneself (memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri).<br />
j. To slow the aging process (memperlambat proses penuaan </p>
<p>Alvenia M. Fulton, Direktur Lembaga Makanan Sehat &#8220;Fultonia&#8221; di Amerika Serikat menyatakan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik wanita secara alami. Puasa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Puasa menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh (fasting is the ladies best beautifier, it brings grace charm and poice, it normalizes female functions and reshapes the body contour).</p>
<p>Jadi andaikan kita bisa menjalankan ibadah Puasa Ramadhan ini dengan sungguh-sungguh dan penuh ketakwaan dan ikhlas maka hikmah yang akan kita peroleh akan banyak sekali baik kita masih di dunia maupun kehidupan di Akherat kelak, berikut janji Allah bagi orang-orang yang berpuasa dengan keimanannya : Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa&#8217;d Radhiallahu &#8216;anhu bahwa Nabi Muhamad Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: Maksudnya: &#8220;Sesungguhnya di dalam syurga terdapat satu pintu yang disebut Ar-Rayyan yang mana pada hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya (dan) tidak seorangpun selain mereka memasukinya. </p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Sa&#8217;id Al-Khudri Radhiallahu &#8216;anhu berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang berpuasa sehari pada jalan Allah niscaya Allah akan menjauhkan mukanya dari api neraka (sejauh perjalanan) 70 tahun.&#8221; (Hadith riwayat Bukhari) </p>
<p>Kesimpulan<br />
Puasa banyak sekali manfaatnya bagi kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani. Dengan puasa kita akan mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh selama masih hidup dan yang dibutuhkan oleh rohani ketika di alam akhirat nanti.</p>
<p>Agar puasa dapat bermanfaat bagi kesehtan harus diimbangi dengan cara makan yang benar. Makanlah secara teratur untuk buka puasa dan sahur dengan menu seimbang. Maksudnya adalah makanan yang terdiri dari karbohidrat 50-60%, protein 10-20%, lemak 20-25%, cukup vitamin dan mineral dari sayur dan buah. Selain itu, cukup serat dari sayuran untuk memperlancar buang air besar. Cukup cairan, dengan minum kurang lebih 7-8 gelas sehari. Terdiri dari 3 gelas waktu sahur dan 5 gelas dari buka sampai sebelum tidur.<br />
Pembagian makan adalah 50% untuk berbuka, 10% setelah sholat tarawih, 40% pada waktu sahur.</p>
<p>Agar puasa yang kita lakukan mampu membawa kita memasuki syurga seperti yang telah disabdakan oleh Rosulullah shallallahu ’alahi wassallam mari kita jalankan puasa ini dengan sebaik-baiknya dengan cara menjaga hal-hal yang akan mengurangi nilai ibadah puasa yang kita lakukan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/484/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=484&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/09/07/manfaat-puasa-bagi-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elpramwidya.files.wordpress.com/2009/09/makah_.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">MAKAH_</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lesson Study</title>
		<link>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/08/27/lesson-study/</link>
		<comments>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/08/27/lesson-study/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 05:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elpramwidya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan ajar diklat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elpramwidya.wordpress.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang Lesson Study, yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cend rung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=473&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Pendahuluan</p>
<p><a href="http://elpramwidya.wordpress.com/2009/08/27/lesson-study/foto-smpg1/" rel="attachment wp-att-474"><img src="http://elpramwidya.files.wordpress.com/2009/08/foto-smpg1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="foto smpg1" title="foto smpg1" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-474" /></a>Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang Lesson Study, yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cend rung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komuni kasi oral. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cende rung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dari pada bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. <span id="more-473"></span></p>
<p>Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelom pok laggard (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, Lesson Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendo rong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.</p>
<p>Dalam tulisan ini, akan dipaparkan secara ringkas tentang apa itu Lesson Study dan bagaimana tahapan-tahapan dalam Lesson Study, dengan harapan dapat memberikan pemahaman sekaligus dapat mengilhami kepada para guru (calon guru) dan pihak lain yang terkait untuk dapat mengembangkan Lesson Study lebih lanjut guna kepentingan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.</p>
<p>B. Hakikat Lesson Study<br />
Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.</p>
<p>Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajar an, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkat kan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksa nakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. </p>
<p>Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuk nya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsis ten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran indivi dual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:<br />
“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.</p>
<p>Bill Cerbin &amp; Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.</p>
<p>Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:<br />
1.Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.<br />
2.Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.<br />
3.Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.<br />
4.Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.<br />
Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas. </p>
<p>Sementara itu, menurut Lesson Study Project (LSP) beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru.<br />
Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis MGMP. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi. </p>
<p>Dalam hal keanggotaan kelompok, Lesson Study Reseach Group dari Columbia University menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai decision maker di sekolah. Dengan keterlibatannya dalam Lesson Study, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui Lesson Study. Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.</p>
<p>C. Tahapan-Tahapan Lesson Study<br />
Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:<br />
1.Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.<br />
2.Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.<br />
3.Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.<br />
4.Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.<br />
5.Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa<br />
6.Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study<br />
1. Tahapan Perencanaan (Plan)<br />
Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.</p>
<p>2. Tahapan Pelaksanaan (Do)<br />
Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer).</p>
<p>Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:<br />
1.Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.<br />
2.Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.<br />
3.Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.<br />
4.Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.<br />
5.Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.<br />
6.Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.<br />
7.Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP. </p>
<p>3. Tahapan Refleksi (Check)<br />
Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.</p>
<p>Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi. </p>
<p>4. Tahapan Tindak Lanjut (Act)<br />
Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.<br />
Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.</p>
<p>Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.</p>
<p>D. Kesimpulan<br />
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:<br />
1.Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.<br />
2.Tujuan Lesson Study adalah : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.<br />
3.Ciri-ciri dari Lesson Study yaitu adanya: (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung<br />
4.Lesson study memberikan banyak manfaat bagi para guru, antara lain: (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study</p>
<p>5.Penyelenggaraan Lesson Study dapat dilakukan dalam dua tipe: (a) Lesson Study berbasis sekolah; dan (a) Lesson Study berbasis MGMP.<br />
6.Lesson Study dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); (c) refleksi (check); dan (d) tindak lanjut (act).</p>
<p>Sumber Bacaan:<br />
Bill Cerbin &amp; Bryan Kopp. A Brief Introduction to College Lesson Study. Lesson Study Project. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm<br />
Catherine Lewis (2004) Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm<br />
Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/ whatislessonstudy. html<br />
Slamet Mulyana. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat<br />
Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elpramwidya.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elpramwidya.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elpramwidya.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elpramwidya.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elpramwidya.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elpramwidya.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elpramwidya.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elpramwidya.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elpramwidya.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elpramwidya.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elpramwidya.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elpramwidya.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elpramwidya.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elpramwidya.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elpramwidya.wordpress.com&amp;blog=4806598&amp;post=473&amp;subd=elpramwidya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elpramwidya.wordpress.com/2009/08/27/lesson-study/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">elpramwidya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elpramwidya.files.wordpress.com/2009/08/foto-smpg1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">foto smpg1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
