Diklat Getting Started Menuju Pembelajaran Abad ke-21

27 Jan

Diklat Getting Started
Menuju Pembelajaran Abad ke-21
Lanjar Pramudi*

Arus globalisasi yang ditopang oleh teknologi informasi menyebabkan arus informasi begitu cepat dan tidak terbendung. Dan arus ini sebenarnya tidak hanya membawa pengetahuan tetapi juga nilai-nilai. Apakah nilai-nilai ini dapat bersifat negatif atau positif?, dapat diterima atau tidak dapat diterima?, akan bergantung pada nilai-nilai yang dihayati dalam suatu bangsa. Barangkali semakin berkembangnya kebiasaan menglobal dalam hal gaya hidup seperti pola berpakaian, kebiasaan makan, rekreasi tidak banyak merugikan. Namun demikian secara tidak langsung sebagian kebiasaan ini beriplikasi pada nilai moral. Misal kebiasaan konsumtif mengunjungi rumah makan fast food, dan yang lebih serius implikasi menyebarnya nilai-nilai materialisme, konsumerisme, hedonisme, jelas dapat merusak moral suatu bangsa.
Permasalahan ini menjadi perbincangan yang sangat menarik, karena informasi ini jelas tidak bisa kita bendung, kita tidak bisa melawan globalisasi. Bagaimanapun juga kita tidak dapat bersikap apriori menolak apa saja terhadap budaya barat yang serta merta kita nilai bertentang dengan budaya kita, sebagian nilai-nilai yang dibawanya juga bersifat positif. Sehingga jika perlu kita mengubah budaya kita, tidak semuanya harus sesuai dengan budaya bangsa yang tidak semuanya bersifat positif juga. Budaya dan kepribadian bersifat dinamis, tidak statis. Yang perlu kita siapkan adalah penanaman nilai untuk menangkis pengaruh nilai-nilai negatif yang masuk bersamaan dengan arus informasi.
Kualitas manusia seperti apa yang bisa survive dalam mainstream perubahan di atas?. Secara umum dapat diidentifikasi ada tujuh keahlian yang harus dimiliki agar tetap survive di era pengetahuan yaitu, 1) Kemampuan berpikir kritis dan kemauan bekerja keras, 2) kreativitas, 3) Kolaborasi, 4) pemahaman antar budaya (cross cultural undestanding), 5) komunikasi, 6) mengoperasikan komputer, 7) career dan kemampuan belajar secara mandiri.
Manusia abad 21 harus mampu berpikir kritis dan kemauan kerja keras, mereka dituntut mampu mendefinisikan permasalahan kompleks yang tumpang tindih, tidak jelas domainnya; menggunakan keahlian dan perangkat yang tersedia baik manusia maupun elektronik untuk analisis dan riset; mendesain jenis tindakan dan solusi: mengatur implementasi solusi tersebut; menilai hasil; kemudian secara terus-menerus meningkatkan variasi solusi ketika kondisi berubah. Manusia pada abad 21 harus kreatif, mampu menciptakan solusi baru untuk permasalahan lama, menemukan prinsip baru dan penemuan baru, menciptakan cara baru untuk mengkomunikasikan gagasan baru, menemukan cara kreatif untuk mengatur proses kompleks. Manusia abad 21 harus mampu kerjasama kelompok untuk memecahkan masalah yang rumit atau untuk menciptakan perangkat kompleks, menghasilkan jasa, dan produk-produk.
Hidup di era informasi, dimana tidak ada sekat antar negera maka diperlukan kemampuan memahami budaya antar negara tanpa kehilangan akar budayanya sendiri (karakter kebangsaan). Sebagai suatu perluasan kerjasama kelompok, manusia abad 21 harus menjembatani perbedaan etnik, sosial, organisasi, politik, dan isi kultur pengetahuan dalam rangka melakukan pekerjaan mereka. Peningkatan multikultural masyarakat yang terus-menerus, pertumbuhan ekonomi global, peningkatan dunia teknik, dan model organisasi “jaringan”, keterampilan lintas budaya tanpa kehilangan identitas asli ‘budayanya’’ akan menjadi semakin berharga.
Untuk bisa bersaing di abad 21 memerlukan kemampuan untuk berkomunikasi efektif di dalam berbagai media dengan berbagai pendengar. Dengan memberikan sejumlah pilihan komunikasi misalnya; laporan tercetak, dokumen elektronik, majalah artikel, e-article , buku, e-book, cetakan iklan, iklan TV, iklan jaringan, telepon, telepon sel, telepon internet, surat suara, telemarketing, fax, pager, web, e-mail, selebaran, simulasi, basis data, multimedia presentasi, slides, disket, tape, video, CD, DVD, radio, TV, TV jaringan, teleconferens. Dan yang menjadi keharusan manusia abad 21 semua orang harus mampu menguasai komputer dasar sampai kepada suatu tingkat yang lebih tinggi untuk kelancaran ‘digital’ dan mampu menggunakan berbagai perangkat (softwere) berbasis komputer untuk melaksanakan tugas hidup sehari-hari. Di abad 21 banyak pekerjaan dan permasalahan hiduo menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi, terkait dengan hal ini menjadi hal yang mustahil hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah, manusia abad 21 dituntut menjadi pebelajar mandiri.

Sebagai guru apa yang harus kita lakukan?

Tuntutan perubahan mindset manusia abad 21 yang telah disebutkan di atas menuntut pula suatu perubahan yang sangat besar dalam pendidikan nasional, yang kita ketahui pendidikan kita adalah warisan dari sistem pendidikan lama yang isinya menghafal fakta tanpa makna. Merubah sistem pendidikan indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. Sistem pendidikan Indonesai merupakan salah satu sistem pendidikan terbesar didunia yang meliputi sekitar 30 juta peserta didik, 200 ribu lembaga pendidikan, dan 4 juta tenaga pendidik, tersebar dalam area yang hampir seluas benua Eropa. Namun perubahan ini merupakan sebuah keharusan jika kita tidak ingin terlindas oleh perubahan jaman global.
Terkait dengan hal ini Tilaar, menyarankan agar pendidikan sains dan bahasa siswa perlu diperkuat dengan penguasaan matematika, karena matematika merupakan cara berpikir sains, selain itu perlu juga sekolah dilengkapi laboratorium sains dan laboratorium bahasa yang memadai untuk menunjang pembelajaran.
Hal yang lain adalah pendidikan kreativitas. Adanya informasi yang tidak terbatas memungkinkan seseorang untuk menciptkan hal baru, namun juga menyebabkan seseorang tenggelam dalam timbunan informasi yang membingungkan sehingga seseorang tidak dapat mengambil keputusan. Oleh sebab itu, salah satu sikap yang perlu dikembangkan dalam era ini adalah mengembangkan sikap kreatifitas. Perlu juga dikembangkan pendidikan digital dimana setiap satuan pendidikan terkoneksi dalam jaringan digital untuk saling tukar informasi, dan lain-lain. Terkait dengan pendidikan tinggi, perguruan tinggi perlu meletakan hubungan partisipatif dengan dunia usaha dan lembaga-lembaga penelitian. Dimana selama ini hanya terkesan bersifat formal dan seremonial dan bahkan keduanya terkesan menjaga jarak dengan keangkuhanya masing-masing. Dan yang tidak kalah penting adalah pendidikan nilai sebagai pelestari ‘budaya’ bangsa.
Terkait dengan pembelajaran, tuntutan abad 21 menuntut perubahan reorientasi dalam pembelajaran yaitu dari; (1) menggeser paradigma pembelajaran dari ‘asumsi tersembunyi’ bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari ‘otak/pikiran’ guru ke ‘otak/pikiran’ siswa, menuju pembelajaran yang lebih ‘memberdayakan’ seluruh aspek kemampuan siswa. (2) menggeser paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru (teacher centred learning) menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centred learning), self directed learning (belajar mandiri), dan pemahaman diri (metakognisi) karena pembelajaran ini dirasa lebih memberdayakan siswa dalam segala aspek. (3) menggeser dari belajar ‘menghafal’ konsep menuju belajar ‘menemukan’ dan ‘membangun’ (mengkonstruksi) sendiri konsep, yang terbukti mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi, kritis, kreatif dan terampil memecahkan masalah, (4) menggeser dari belajar individual klasikal menuju pembelajaran kelompok kooperatif yang tidak hanya mengajari ketrampilan berpikir saja namun juga mampu mengajari siswa ketrampilan-ketrampilan lainnya (keterampilan sosial).
Kurikulum yang dikembangkan saat ini oleh sekolah dituntut untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skils). Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh siswa apabila guru mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.
Selain pendekatan pembelajaran, siswa pun harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi – khususnya komputer. Literasi ICT adalah suatu kemampuan untuk menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran untuk mencapai kecakapan berpikir dan belajar siswa. Kegiatan-kegiatan yang harus disiapkan oleh guru adalah kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan teknologi komputer untuk melatih keterampilan berpikir kritisnya dalam memecahkan masalah melalui kolaborasi dan komunikasi dengan teman sejawat, guru-guru, ahli atau orang lain yang memiliki minat yang sama.
Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah Assessment. Guru harus mampu merancang sistem assessment yang bersifat kontinu – ongoing assessmen – sejak siswa melakukan kegiatan, sedang dan setelah selesai melaksanakan kegiatannya. Assessmen bisa diberikan diantara siswa sebagai feedback, oleh guru dengan rubric yang telah disiapkan atau berdasarkan kinerja serta produk yang mereka hasilkan.
Untuk mencapai tujuan di atas, pendekatan pembelajaran yang cukup menantang bagi guru adalah pendekatan pembelajaran berbasis proyek (Project-based learning atau PBL).Di dalam mengembangkan PBL, guru dituntut untuk menyiapkan unit plan, sebagai portfolio guru dalam proses pembelajarannya. Di dalam unit plan, guru harus mengarahkan rencana proyeknya dalam sebuah Kerangka Pertanyaan berdasarkan SK/KD yang ada dalam kurikulum. CFQ atau Curriculum frame Question adalah sebagai alat untuk mengarahkan siswa dalam mengerjakan proyeknya, sehingga sesuai dengan tujuan yang telah direncakan.
Guru harus menyiapkan materi-materi pendukung untuk kelancaran proyek siswa, demikian pula siswa harus mampu membuat contoh-contoh hasil tugasnya untuk ditampilkan atau dipresentasikan di depan temannya. Pada saat presentasi hasil proyeknya siswa mendapat kesempatan untuk melakukan assessmen terhadap temannya – peer assessmen, memberikan feedback pada hasil kerjanya.
Dalam rencana pelajaran guru pun harus memberikan kesempatan pada siswa untuk melaporkan hasil proyeknya dalam berbagai bentuk, bisa dalam bentuk blog, wiki, poster, newsletter atau laporan. Kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking harus dirancang dalam rencana pelajaran guru. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan analisis, sintesis dan evaluasi melalui proyek yang mereka kerjakan.
Untuk menyikapi hal-hal tersebut di atas maka diabad 21 ini mau tidak mau dan siap tidak siap, guru harus:
1. Memiliki antusiasme, rasa kasih sayang dan kemampuan berpikir merdeka dan mandiri. Tanpa hal diatas guru hanya akan menjadi orang yang kerjanya menunggu instruksi dan perintah. Antusiasme membuat guru menjadi bersemangat, kasih sayang pada siswa akan membuat ia tahu mana yang paling baik untuk siswanya dan bersedia mengambil risiko.
2. Menguasai teknologi, bukan untuk menjadi guru yang ahli komputer, tetapi guru perlu mengetahui dan mempelajari teknologi agar bisa maksimal dalam membantu siswa belajar melalui modalitas belajar yang siswa punyai.
3. Mempunyai semangat dan dedikasi. Guru-guru yang hebat juga manusia biasa, kadang mereka telat datang ke sekolah dan melakukan kerja lembur jika pekerjaan menumpuk. Namun satu hal yang membedakan ia dari guru lain adalah dedikasi dan semangatnya dalam membelajarkan siswa.
4. Mempunyai kesediaan dan kemauan untuk berkolaborasi dan mengatakan dirinya orang yang tidak tahu segala. Tidak ada orang yang ahli dalam segala hal. Tetapi karena itulah guru menjadi mau berubah dan bersedia bekerja sama dengan pihak mana saja demi menghasilkan pembelajaran yang terbaik di kelas.
5. Bersedia menjadi contoh pembelajar seumur hidup dengan bersedia untuk mengakui bahwa dirinya ‘tidak tahu segalanya’. Guru yang hebat bahkan bersedia mengakui batas-batas pengetahuannya sebagai guru.
6. Mampu sebagai teladan. Pendidikan diperlukan untuk membekali anak-anak untuk hidup di masa depan. Jika kita amati dunia dewasa ini, di mana kerja tim dan berkolaborasi adalah penting. Hal lain yang tidak kalah penting keterampilan komunikasi antarpribadi, atau keterampilan personal. Anak-anak melihat dan mengamati guru-guru mereka. Sebagai teladan, kita perlu menunjukkan contoh dalam bekerja sama untuk mencapai hal-hal besar.
7. Mau belajar untuk berkomunikasi secara efektif dengan siswa. Berusaha menanggapi ketakutan, kegelisahan dan kekhawatiran siswa dalam perjalanan mereka sebagai pembelajar dengan cara yang baik.
8. Berusaha untuk menjadi guru yang fleksibel dalam hubungan pribadi dengan siswa, tetapi kaku pada tugas dan standar yang terbaik untuk siswa. Punya hati yang seluas samudera untuk siswanya, cukup lebar untuk menutupi seluruh masalah pribadi, sosial, dan aspek-aspek akademik dari setiap siswanya dikelas,
9. Mau belajar kepada siswa. Guru yang siap menhadapi abad 21 bahkan menjadikan siswanya yang lebih tahu kepada satu hal sebagai mentornya.
10. Tidak mudah menyerah pada siswa yang tidak punya motivasi. Kemampuan untuk memotivasi siswa sudah sepantasnyalah dimiliki oleh setiap guru karena guru yang baik akan berhenti mengajar dan lebih fokus mendidik siswanya apabila mereka punya masalah yang membuatnya tidak termotivasi dalam belajar.
Dalam rangka menyiapkan guru-guru daerah terpencil/tertinggal untuk menghadapi berbagai permasalahan di abad 21, tahun 2009 ini Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan melalui anggaran block grand yang ada di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Propinsi Bengkulu menyelenggarakan Diklat Getting Started yang pelaksanaannya di inkludkan dalam kegiatan KKG dan MGMP se-propinsi Bengkulu.
Diklat Getting Started adalah suatu penawaran pengembangan profesional untuk para guru yang hanya memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki pengalaman dengan komputer, dan yang memerlukan kecakapan dasar dan pengenalan terhadap projek. Diklat ini dengan materi sebagai berikut:
• mengembangkan kecakapan dan pendekatan mengajar dan belajar abad ke-21 seperti pembelajaran yang berpusat pada siswa, pemikiran kritis dan kerja sama.
• melibatkan perencanaan, pelaksanaan, peninjauan ulang, dan berbagi pengalaman dalam kegiatan guru yang bermakna dan relevan
• Memerlukan pengembangan rencana kegiatan individual yang berisikan rincian tentang bagaimana para guru akan mengaplikasikan kecakapan-kecakapan dan pendekatan baru untuk meningkatkan produktivitas dan praktek profesional dengan menggunakan media computer dan internet.
Referensi:

http://elpramwidya.wordpress.com/artikel-pembelajaran/

http://baskoro1.blogspot.com/2009/06/mempersiapkan-generasi-di-abad-21.html

http://www.docstoc.com/docs/18532252/PENDEKATAN-PEMBELAJARAN-ABAD-21-MATEMATIKA

http://p4tk-bispar.net/nano/?p=31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.239 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: