Instrumen Penilaian

3 Jun

INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN BERMUATAN IMTAQ
(sumber modul TOT Imtaq, Malang 2009)

A. Tes
Pembahasan penyusunan tes/soal, sesungguhnya pola berfikirnya mengacu pada taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan. Pembagian domain (ranah) secara rinci sebagai berikut :

1 . Domain Kognitif (ranah kognitif)
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)

a. Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan IPS terpadu, guru IPS dapat menguraikan dengan baik definisinya, pendekatanya, karakteristiknya. dsb.

b . Pemahaman (Comprehension)
Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, guru IPS dapat memahami apa yang diuraikan dalam pengintegrasian IPS dalam bentuk tema berdasarkan topik, berdasarkan potensi utama, dan berdasarkan permasalahan.

c. Aplikasi (Application)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab banjir, maka seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab meningkatnya banjir dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.

d. Analisis (Analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya banjir, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab banjir dibeberapa daerah, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.

e. Sintesis (Synthesis)
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang mampu memberikan solusi untuk menurunkan bencana alam banjir atau bahkan tidak akan terjadi banjir lagi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab terjadinya banjir.

f. Evaluasi (Evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang harus mampu menilai alternatif solusi yangg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dalam menanggulangi bencana alam banjir .
Dalam melakukan penilaian ranah kognitif, dilakukan melalui tes yang instrumenya berbentuk soal.
Pembahasan penyusunan soal, sesungguhnya pola berfikirnya mengacu pada taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan.
Dalam melakukan penilaian ranah kognitif, dilakukan melalui tes yang instrumenya berbentuk soal.
Macam-macam Tes sebagai berikut :

1. Pilihan Ganda
Tes bentuk pilihan ganda merupakan bentuk tes obyektif yang paling banyak digunakan. Bentuk tes pilihan ganda meliputi:
a) Melengkapi (pilihan ganda biasa)
b) Hubungan antar hal atau analisis kasus
c) Asosiasi pilihan ganda
d) Membaca diagram, gambar, tabel
e) Jawaban singkat
f) Menjodohkan

Rambu-rambu tes obyektif
a) Melengkapi (Pilihan Ganda Biasa)
1) Tes yang terdiri dari pernyataan yang disebut pokok soal (stem) dan alternatif jawaban disebut option, yang terdiri dari lima pilihan. Soal mengacu dan sesuai dengan tujuan atau indikator, artinya soal disusun hendaknya menanyakan perilaku (behavior) yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan tujuan atas indikator.
2) Rumusan tes merupakan pernyataan atau pertanyaan yang belum lengkap, mudah dipahami, tidak merupakan jebakan dan dapat mengungkapkan permasalahan yang layak dikemukakan sebagai masalah.
3) Alternatif jawaban (option) yang logis, konsisten, homogen, dan hanya ada satu jawaban yang paling benar, option lain berfungsi sebagai pengecoh.
4) Pertanyaan atau pernyataan yang disebut stem disusun dalam bahasa yang sederhana, jelas, dan dapat dimengeti oleh peserta didik.
5) Hindari kunci jawaban yang berstruktur, misalnya: a,a, b,b, c,c, d,d, dst.
6) Gunakan kalimat positif. Urutkan alternatif jawaban secara kronologis, kalau angka dari yang rendah sampai yang tinggi.
7) Pernyataan atau pertanyaan pokok yang terdapat dalam stem, tidak tergantung kepada butir soal lain.
8) Tiap butir soal mengandung satu ide.
9) Pokok soal tidak memberi petunjuk ke arah kunci jawaban.
10) Pokok soal tidak menggunakan pernyataan yang bersifat negatif ganda.
11) Gambar/grafik/tabel/diagram dan sejenisnya jelas dan berfungsi.
12) Pilihan jawaban (option) panjang rumusannya relatif sama, tidak menggunakan pernyataan “semua jawaban benar” atau “semua jawaban salah”.
13) Pernyataan tidak tegantung dengan soal sebelumnya.
14) Menggunakan bahasa yang komunikatif untuk peserta didik serta sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik.
15) Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat (bahasa daerah).
16) Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok yang sama.

b) Hubungan antar Hal atau Analisis Kasus.
Pada dasarnya soal merupakan variasi dari bentuk pilihan ganda biasa. Setiap soal terdiri dari sebuah pernyataan dan diikuti sebuah alasan (antara pernyataan dan alasan dipisahkan kata SEBAB). Rambu-rambu untuk pembuatan pernyataan sama dengan pembuatan stem dalam soal pilihan ganda.

c) Asosiasi Pilihan Ganda (Multiple Complemention).
Tes ini juga merupakan variasi pilihan ganda dalam bentuk penyediaan seperangkat pernyataan (lazimnya lima pernyataan) dan peserta didik disuruh memilih dan menghimpun beberapa pernyataan yang benar. Rambu-rambu untuk pembuatan pernyatan sama dengan soal pilihan ganda.

d) Membaca Diagram, Gambar, Tabel.
Soal seperti melengkapi (pilihan ganda biasa) tetapi disamping atau di atas stem diikuti dengan diagram, gambar, tabel yang berkaitan dengan pernyatan soal. Apabila soal memakai diagram, gambar, dan tabel maka untuk pernyataan harus berkait dengan diagram, gambar, dan tabel tersebut.

e) Menjodohkan.
Tes menjodohkan atau memasangkan yang terdiri dari lajur kiri (lajur pertama) berupa pernyataan atau kalimat, dan lajur kanan (lajur kedua) berupa kata-kata. Peserta didik diminta menggabungkan pernyataan dalam lajur kiri dengan lajur kanan sehingga merupakan pernyataan yang benar dan tepat.
Rambu-rambu penyusunan soal menjodohkan:
1) Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan bersifat homogen.
2) Sebaiknya seluruh pokok uji ditulis pada halaman yang sama, jangan diputus dan dilanjutkan pada halaman lain.
3) Untuk mengurangi kemungkinan mereka-reka, jumlah pernyataan atau kata yang tercantum dalam lajur kanan (jawabannya) lebih banyak dari pada pernyatan yang ada di kiri (pernyataan atau pertanyaan).
4) Dasar menjodohkan jelas, konsisten/ajeg.
5) Jumlah kata yang dipakai antara 5 – 15 kata.
Contoh soal pilihan ganda
Dalam menentukan topik pembelajaran IPS terpadu, dapat melalui pendekatan berdasarkan ….
A. Potensi utama
B. Interes siswa
C. Kondisi lingkungan
D. Fenomena alam
E. Kenyataan sosial
Kunci jawaban : A

2. Tes Isian Singkat
Tes isian singkat termasuk dalam tes obyektif karena jawaban yang harus diisikan sudah pasti.
Rambu-rambu tes isian singkat sebagai berikut:
a. Pernyataan terdiri dari kalimat tanya, atau kalimat terputus dan belum selesai atau di awal, di tengah, dan atau di akhir pernyataan tersebut ada titik-titik (pernyataan terputus) yang harus diisi peserta didik.
b. Pernyataan tidak panjang dan berbelit-belit sehingga menyulitkan peserta didik.
c. Pernyataan tidak mengambil kalimat yang ada di bahan bacaan peserta didik.
d. Jawaban yang harus diisikan peserta didik hanya ada satu jawaban yang benar.
Contoh soal :
Dalam menentukan tema pembelajaran IPS terpadu dapat menggunakan pendekatan berdasarkan topik, permasalahan, dan ….
Kunci : potensi utama

3. Tes Uraian/essai
a. Tes uraian/essai berstruktur
Rambu-rambu penyusunan tes uraian/essai berstruktur:
1) Soal disusun sedemikian rupa, sehingga jawaban mengarah kepada kalimat kunci yang telah disediakan lebih dahulu oleh pendidik.
2) Kata-kata atau bahasa yang dipilih dalam pertanyaan atau pernyataan hendaklah yang jelas, memberikan pengertian yang sama tepat dengan maksud soal mudah dipahami, tidak bersifat global dan tidak memakai bahasa yang belum dimengerti peserta didik.
3) Tujaun dari setiap soal sesuai dengan table spesifikasi yang telah dibuat terlebih dahulu.
4) Petunjuk tes hendaknya dibuat secara tertulis meliputi waktu yang digunakan, skor tiap soal, jumlah soal.
5) Soal sebaiknya tidak terlalu banyak dan tidak terlalu luas.
6) Soal diberikan kepada peserta didik yang sama dalam waktu yang sama pula.
7) Tiap soal hanya mengandung satu masalah dan soal yang satu tidak dikatikan dengan soal lainnya.
8) Ada baiknya soal essai berstruktur yang disajikan telah mendapat masukan dari pendidik sejenis, misalnya melalui Musyawarah Pendidik Mata Pelajaran atau pada forum lain.
Contoh :
Jelaskan tiga pendekatan penentuan tema IPS terpadu !
Kunci : Pendekatan berdasar topik, permasalahan, dan potensi utama

b. Tes uraian/essai bebas
Tes ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab secara bebas, sehingga tidak ada rambu-rambu yang mengarah pada jawaban yang dikehendaki. Dengan demikian jawaban masing-masing peserta didik berbeda, dan setiap jawaban ada penghargaannya.
Kebaikan tes essai bebas adalah untuk mengetahui serta orisinalitas pikiran peserta didik
Contoh : Jelaskan menurut pendapatmu diantara pendekatan berdasarkan topik, permasalahan dan potensi utama dalam penentuan tema, pendekatan manakah yang mudah dilakukan oleh guru?.

4. Tes Lisan
Tes lisan adalah tes yang dirancang (biasanya pertanyaan dalam bentuk uraian, tetapi dilaksanakan secara lisan). Walaupun tes dilaksanakan secara lisan, tetapi diperlukan penyiapan pertanyaan lebih dahulu (didesain), dengan kriteria seperti menyusun tes uraian baik yang berstruktur maupun yang bebas.
Tes lisan ranah kognitif
a. Pengetahuan
Menguji kompetensi peserta didik dalam mengingat kembali fakta, arti, istilah, prinsip, hukum dan definisi yang telah dipelajari.
Contoh : Sebutkan kepanjangan dari IPS.
b. Pemahaman
Menguji kompetensi peserta didik dalam memahami, menukar dan menjelaskan fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori yang telah dipelajari.
Contoh : Jelaskan pendekatan pembelajaran IPS terpadu.
c. Aplikasi
Mengujikompetensi peserta didik dalam menggunakan fakta, konsep, hukum, teori, prinsip, pengetahuan dan keahlian untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan.
Contoh : Nanang seorang peserta didik yang jarang belajar serta mengerjakan tugas mata pelajaran IPS. Dia selalu bergantung kepada orang lain untuk menyiapkan tugasnya.
Jelaskan nilai yang sepatutnya diperoleh oleh Nanang.
d. Analisis .
Menguji kompetensi peserta didik dalam membandingkan dan menguraikan faktor-faktor persamaan, perbedaan dan perhubungan di antara satu sama lain.
Contoh; Jelaskan perbedaan bencana alam di Aceh dan Daerah Istimewa Yogyakarta
e. Sintesis
Menguji kompetensi peserta didik dalam mencantumkan, menggabungkan dan mengintergrasikan fakta-fakta atau ide-ide yang berkaitan.
Contoh; Banjir, tanah longsor, gempa adalah berhubungan dengan …
f. Evaluasi
Menguji kompetensi peserta didik dalam membuktikan, menilai, mengesahkan, mengkritik, merumuskan atau memberi pendapat sesuatu pernyataan, ciptaan, karya, prinsip, teori dan sebagainya.
Contoh; bagaimana menemukan cara untuk setiap musim hujan di Jakarta tidak terjadi banjir.

D. Non Tes
Sebelum membahas macam-macam instrumen penilaian non tes, sebaiknya pembahasan ini diawali dengan penyamaan pemahaman tentang rubrik guru. Dengan adanya uji kompetensi oleh asesor, dikenal rubrik guru. Dalam penilaian, yang dimaksud rubrik adalah data mengenai informasi kemajuan dan kinerja peserta didik yang dibuat dalam berbagai format. Atau dalam istilah penilaian dikenal penilaian melalui non tes, sehingga semua instrumen non tes di bawah ini merupakan bagian dari rubrik guru.
Kajian penilaian non tes meliputi :

1. Lembar Pengamatan
Rambu-rambu
Lembar pengamatan adalah catatan guru untuk merekam aktivitas siswa dalam pembelajaran baik di kelas (indoor) maupun di luar kelas (outdoor).Untuk menanggulangi keluhan guru mengamati proses pembelajaran siswa 1 kelas terdiri 40-50 siswa dengan kelas paralel sampai 8 kelas, sehingga guru harus mengajar 320-400 siswa mengalami kesulitan, maka dianjurkan lembar pengamatan berbentuk matrik sehingga guru tinggal mengisi kolom-kolom yang ada.
Menurut Suharsini Arikunto (1995:27-28) menyebutkan pengamatan (observasi) ada 3 macam, yaitu:
a) Pengamatan partisipan: observasi yang dilakukan oleh pengamat, tetapi pengamat juga mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati.
b) Pengamatan distematik yaitu faktor-faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya dan pengamat berada di luar kelompok, sehingga tidak dibingungkan oleh situasi yang melingkungi dirinya.
c) Pengamatan eksperimental: pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok, dan dapat mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.
Beberapa pedoman guru untuk menghindari terjadinya bias akibat subjektivitasnya, Sri Hayati (2004:57) menyebutkan:
a) Rencanakan lebih dahulu apa yang akan diamati, kriteria dan tujuan pengamatan serta bagaimana cara mencatatnya.
b) Pengamatan agar dapat dilakukan secara cermat, kontinyu dengan data yang objektif, maka diperlukan alat perekam data observasi yang mudah dan jelas untuk dilaksanakan. Alat tersebut dapat berupa daftar cek atau skala, atau model pencatatan yang lain.
c) Hindari kemungkinan terjadinya kesalahan sampel. Untuk itu pencatatan sebaiknya dilakukan selekas mungkin tanpa diketahui siswa.
d) Hasil pengamatan segera mungkin disusun laporannya.
e) Dapat melibatkan orang lain selain guru, misal orang tua siswa, konselor, wali murid, guru lain atau teman sebaya.

Contoh lembar pengamatan
Lembar Pengamatan Diskusi Kelas
Kelas :
Tujuan Diskusi : Menggali pendapat dalam membuat laporan kerja kelompok

No.
Nama Penyampaian pendapat dalam diskusi
Nilai
Keterangan
Menyampaikan
Pendapat secara logis Menerima
Pendapat teman secara logis Berdasarkan masukan peserta diskusi, menerima dan menolak secara obyektif Menyempurnakan hasil kerja berda
Sarkan masukan/pendapat yang secara logis dapat diterima sebagai masukan penyempurnaan
1. Anton
2. Judi
3. Dino
4. Nani
Dst

Catatan:
Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = sedang
4 = baik
5 = amat baik
Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku
Keterangan diisi dengan kriteria berikut
1). Nilai 17-20 berarti amat baik
2). Nilai 13-16 berarti baik
3). Nilai 9-12 berarti sedang
4). Nilai 5-8 berarti kurang
5). Nilai 1-4 berarti sangat kurang

2. Skala Sikap
Kaidah penyusunan skala sikap menurut Sri Hayati (2004:45-46) sebagai berikut:
No. Kaidah Contoh Yang Kurang Baik Contoh Yang Baik
1. Hindari pernyataan faktual Guru saya menghukum anak-anak yang nakal Saya takut dihukum oleh guru saya
2. Hindari pernyataan sikap yang mengacu pada sikap masa lalu Saya selalu memperoleh nilai yang baik bila saya kehendaki Saya dapat memper-oleh nilai yang baik bila saya mau
3. Hindari penafsiran ganda Guru saya menghendaki kemampuan siswa yang tinggi Guru saya menolong dan mendorong siswanya untuk berkemampuan baik
4. Hindari hal-hal yang tidak relevan Bersepeda ke sekolah setiap pagi amat menyenangkan Saya mengharapkan untuk pergi ke sekolah setiap pagi
5. Hindari pernyataan yang sifatnya membedakan Saya lebih senang pergi ke sekolah daripada melakukan sesuatu yang lain Sekolah adalah salah satu pengalaman saya yang menyenangkan
6. Sederhana, jelas, terarah Sebagai bidang studi Sosiologi mendorong keterlibatan saya Saya menyenangi bidang studi Sosiologi
7. Singkat (pernyataan sebaiknya kurang dari 20 kata) Apabila seseorang menyadari bahwa dia dapat mengambil keuntungan dari orang lain, dia akan senantiasa berharap demikian Pada dasarnya orang tidak dapat dipercaya
8. Gunakan hanya satu dasar pemikiran untuk satu pernyataan Guru yang baik ada-lah guru yang me-ngetahui mata pela-jarannya dengan baik dan memperlakukan sendiri siswanya secara adil Guru yang baik adalah yang memperlakukan siswanya secara adil
9. Hindari penggu-naan kata-kata “Semua”, “Selalu”, “Tidak Satupun”, “Tidak Pernah” Saya tidak pernah menemui orang yang tidak saya sukai Saya menyadari bahwa saya menyenangi orang yang saya jumpai
10. Hindari penggunaan kata-kata “Hanya”, “Baru Saja”, “Belaka” Hanya dengan melalui agama yang terorganisasilah, orang dapat mengemukakan kepercayaannya Agama yang terorganisasi adalah cara yang terbaik bagi seseorang untuk menyertakan kepercayaannya
11. Gunakan pernyataan yang sederhana Apabila semuanya ada-lah sama, nasib sese-orang adalah ditentukan oleh bagaimana kerasnya ia bekerja Kerja keras menjamin nasib seseorang
12. Hindari penggu-naan dua kata negaitf dalam satu kalimat Tidak ada guru di sekolah ini yang tidak menghargai hak-hak muridnya Guru-guru di sekolah ini menghargai hak-hak siswanya

Catatan: Seseorang yang menulis pernyataan sikap haruslah sederhana dan dapat dibaca, hanya mengacu kepada satu arah dengan menghindari adanya kesesuaian jawaban (walaupun mungkin jawaban siswa sama, karena berasal dari latar belakang yang sama). Pernyataan harus jelas dan dapat dipahami serta mencakup rentangan yang luas dan sikap yang ada pada para responden.

Dari rambu-rambu di atas, sesungguhnya penyusunan pernyataan yang ditampilkan dalam skala sikap tidak jauh berbeda dengan stem yang disusun dalam tes, tetapi skala sikap adalah non tes yang menggambarkan arah dan kedalaman (intensitas) sikap seseorang.
Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Teknik-teknik tersebut secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut.

a. Observasi perilaku
Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan.
Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Berikut contoh format buku catatan harian.

Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian:

Contoh isi Buku Catatan Harian :

No. Hari/ Tanggal Nama peserta didik Kejadiian (positif atau negatif) Tindak Lanjut

Kolom kejadian diisi dengan kejadian positif maupun negatif. Catatan dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan.
Selain itu, dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu. Berikut contoh format Penilaian Sikap.

Contoh Format Penilaian Sikap dalam diskusi IPS

No.
Nama Perilaku
Nilai
Keterangan
Bekerja sama Berini-siatif Penuh Perha-tian Bekerja sistematis
1. Anton
2. Judi
3. Dino
4. Nani

Catatan:
Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = sedang
4 = baik
5 = amat baik
Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku
Keterangan diisi dengan kriteria berikut
1). Nilai 17-20 berarti amat baik
2). Nilai 13-16 berarti baik
3). Nilai 9-12 berarti sedang
4). Nilai 5-8 berarti kurang
5). Nilai 1-4 berarti sangat kurang

b. Pertanyaan langsung
Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. Misalnya, bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai “Peningkatan Ketertiban”.
Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah, guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik.
c. Laporan pribadi
Melalui penggunaan teknik ini di sekolah, peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap. Misalnya, peserta didik diminta menulis pandangannya tentang “Kerusuhan Antaretnis” yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.
Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap peserta didik secara keseluruhan, khususnya kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, estetika, dan jasmani, semua catatan dapat dirangkum dengan menggunakan Lembar Pengamatan berikut.

Contoh Lembar Pengamatan Perilaku/Sikap dalam diskusi
Perilaku/sikap yang diamati: ………………………………….
peserta didik: …
kelas…
semester…
No Deskripsi perilaku awal Deskripsi perubahan Capaian
Pertemuan …Hari/Tgl… ST T R SR
1
2

Keterangan
Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku
ST = perubahan sangat tinggi
T = perubahan tinggi
R = perubahan rendah
SR = perubahan sangat rendah
Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari:
1). pertanyaan langsung
2). Laporan pribadi
3). Buku Catatan Harian

3. Studi Kasus
Rambu-rambu
Studi kasus dalam hal ini difokuskan pada mendiagnosis kesulitan belajar.
Dalam pelaksanaan studi kasus, guru dalat bersinergi dengan berbagai fihak seperti guru BP, wali kelas, dan bahkan guru yang dekat dengan siswa yang sedang mempunyai masalah dalam belajar
Langkah-Langkah Tindakan Diagnosa Menurut C. Ross dan Julian Stanley, langkah-langkah mendiagnosis kesulitan belajar ada tiga tahap, yaitu :
a. Langkah-langkah diagnosis
Meliputi aktifitas, berupa
1). Identifikasi kasus
2). Lokalisasi jenis dan sifat kesulitan
3). Menemukan faktor penyebab baik secara internal maupuneksternal
Sasaran dari kegiatan diagnosis pada dasarnya ditujukan untuk memahami
karakteristik dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan. Dari ketiga pola pendekatan di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pokok prosedur dan teknik diagnosa kesulitan belajar adalah sebagai berikut:

4). Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar:
a. Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi .
b. Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
c. Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
d. Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list .
e. Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan guru pembimbing.
5). Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya, dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dengan membandingkan angka nilai prestasi siswa yang bersangkutan dari bidang studi yang diikuti atau dengan angka nilai rata-rata dari setiap bidang studi. Atau dengan melakukan analisis terhadap catatan mengenai prosesbelajar . Hasil analisa empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
6). Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan.
7). Memperkirakan alternatif pertolongan. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif).
b. Langkah prognosis
yaitu suatu langkah untuk mengestimasi (mengukur),
memperkirakan apakah kesulitan tersebut dapat dibantu atau tidak.
c. Langkah Terapi
yaitu langkah untuk menemukan berbagai alternatif kemungkinan cara yang dapat ditempuh dalam rangka penyembuhan kesulitan tersebut yang kegiatannya meliputi antara lain pengajaran remedial, transfer atau referal.
4. Resume
Rambu-rambu
Dalam pembelajaran dengan penugasan kepada siswa untuk membaca beberapa referensi materi tertentu kemudian melaksanakan resume, maka guru diharapkan mempunyai daftar nilai pembelajaran tersebut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menilai resume yang dibuat siswa:
a) Kejelasan tugas resume itu sendiri yang meliputi bab/topik/kajian yang mana referensi inti yang harus dibaca dan dibuatkan resume.
b) Kejelasan tujuan pembuatan resume itu sendiri.
c) Kategori/indikator yang akan dinilai dari resume tersebut harus jelas.
d) Resume pada dasarnya membuat ikhtisar atau ringkasan, bukan harus memindah semua/sebagian besar isi buku sesuai aslinya.
e) Ringkasan masing-masing siswa walaupun pada tugas yang sama, akan menghasilkan formulasi kalimat yang berbeda-beda, sehingga tidak perlu dituntut keseragaman hasil resume.

5. Hasil Wawancara
Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bagian meliputi:
a) Penilaian terhadap hasil wawancara siswa dengan orang lain (informan atau nara sumber)
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menilai hasil wawancara siswa dengan orang lain (informan atau nara sumber) adalah:
(1) Tujuan pelaksanaan wawancara jelas.
(2) Guiden (rambu-rambu) yang disiapkan siswa jelas.
(3) Rekaman isi wawancara tidak bias oleh kemauan siswa sendiri.
(4) Akurasi penyimpulan hasil wawancara.
b) Penilaian terhadap siswa dengan mewawancarainya
Salah satu penilaian proses yang perlu diperhaikan guru adalah melaksanakan wawancara.
Linda Campbell yang diterjemah oleh Tim Inisiasi (2002:299) menyebutkan pada tahap awal dapat dilaksanakan wawancara yang ditujukan untuk menjajagi tingkat pengetahuan, sikap, dan keahlian siswa pada jangka waktu tertentu melaksanakan entry interview (wawancara masuk).
Apabila dilihat dari kalender pendidikan kita, saran ini dapat dilaksanakan pada awal semester baru. Tetapi dapat juga wawancara dilaksanakan di tengah atau akhir semester.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mewawancarai siswa adalah:
1) Tujuan pelaksanaan wawancara harus jelas.
2) Guiden (rambu-rambu) apa yang akan ditanyakan kepada siswa harus disiapkan lebih dahulu, walaupun nantinya tidak perlu dibaca secara persis teks.
3) Wawancara bukanlah tes, sehingga siswa tidak disodori seperangkat alat tes termasuk guiden (rambu-rambu) wawancara.
4) Kondisikan wawancara tidak membuat siswa tegang, sehingga betul-betul dapat menggali siswa secara objektif.
5) Wawancara bukan interogasi seperti hakim terhadap terdakwa, sehingga dalam wawancara hindari menyudutkan pendapat siswa dan mendiskreditkannya. Apalagi sampai memarahi siswa.

Contoh guiden (rambu-rambu) wawancara:
Tujuan: Menggali informasi siswa tentang topik-topik pembelajaran yang disenangi dalam mata pelajaran IPS. Sehingga dapat mengetahui tingkat motivasi siswa.
Guiden wawancara:
(1) Apakah mata pelajaran IPS menarik atau membosankan?
(2) Pada satu semester, tema apa yang menyenangkan dan tema apa yang membosankan?
(3) Apabila menghadapi tema yang membosankan, strategi apa yang diterapkan siswa untuk sukses belajar?
(4) Sedangkan apabila menghadapi tema yang menyenangkan, bagaimana cara belajar siswa?
(5) Apabila siswa menyatakan tidak ada satupun tema yang disenangi dalam mata pelajaran IPS, maka dapat dikembangkan pertanyaan:
(5a) Mengapa tidak ada tema yang menarik sama sekali?
(5b) Bagaimana cara kamu menumbuhkan daya tarik terhadap tema yang ada dalam mata pelajaran Sosiologi?
(5c) Berilah saran-saran agar dalam mata pelajaran IPS semakin menarik minat siswa!

6. Karangan
Untuk penilaian karangan dalam mata pelajaran Sosiologi diharapkan dihubungkan dengan karakteristik mata pelajaran tersebut. Sebab mata pelajaran ini berkaitan dengan kehidupan nyata dalam masyarakat yang bukan merupakan daya imaginasi siswa. Namun kalau seorang guru tetap membuat perencanaan pembelajaran siswa membuat karangan dalam bentuk makalah yang dapat dipertanggungjawabkan dan didukung referensi yang representatif, maka dapat saja karangan menjadi bagain dari penilaian proses.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a) Tujuan membuat karangan.
b) Sistematika dan ketatabahasaan.
c) Isi/content, relevan antara judul dan isinya.
d) Orisinalitas/tidak jiplakan.
e) Kerapian.

7. Portofolio
Berikut ini beberapa pengertian tentang portofolio;
a. Depdiknas (2002:79) berisi Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas menyebutkan bahwa portofolio merupakan suatu kumpulan bahan pilihan yang dapat memberikan informasi bagi suatu penilaian kinerja secara obyektif sesuai dengan tujuan pengajaran yang ada dalam kurikulum atau sesuai dengan persyaratan kualitas yang ditentukan.
b. Puskur, Balitbang Depdiknas (2002:12) mengemukakan portofolio adalah usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan dan menyeluruh, tentang proses dan hasil pertumbuhan serta perkem-bangan wawasan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan peserta didik yang bersumber dari catatan dan dokumentasi pengalaman belajarnya.
c. Groundlund (1998:159) menyampaikan bahwa portofolio merupakan berbagai contoh pekerjaan peserta didik yang tergantung pada keluasan tujuan.
d. Dasim Budimansyah (2002) menyatakan bahwa portofolio merupakan kumpulan pengalaman belajar yang terdapat dalam pikiran peserta didik baik yang berwujud pengetahuan (kognitif), ketrampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif).
e. Elni Rusoni (2002) berpendapat bahwa portofolio merupakan kumpulan pekerjaan peserta didik yang menunjukkan usaha perkembangan dan kecakapan mereka dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan tersebut harus mencakup partisipasi peserta didik dalam seleksi isi, kriteria penilaian dan bukti refleksi diri.
f. Diane Hart (1999:23) menjelaskan bahwa A Porfotolio is a container that holds evidence of an individual’s skills, ideas, interest and accomplisments.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1). Portofolio dapat dijadikan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
2). Portofolio merupakan bagian dari proses penilaian.
3). Terkait dengan penilaian porfotolio pada hakekatnya merupakan penilaian kinerja peserta didik yang beberapa pakar pendidikan menyebutkan sebagai penilaian proses autentik dan demokratik.

Perbedaan penilaian portofolio dengan tes sebagai berikut:
No. Portofolio Tes
1. Menilai peserta didik berdasarkan seluruh tugas dan hasil kerja yang berkaitan dengan kinerja yang dinilai Menilai peserta didik berdasarkan sejumlah tugas yang terbatas
2. Peserta didik turut serta menilai kemajuan yang dicapai dalam penyelesiaan berbagai tugas dan perkembangan yang berlangsung selama proses pembelajaran Yang menilai hanya pendidik berdasarkan masukan yang terbatas
3. Peserta didik menilai dirinya sendiri menjadi suatu tujuan Penilaian diri oleh peserta didik bukan merupakan tujuan
4. Menilai setiap peserta didik berdasarkan pencapaian masing-masing dengan mempertimbangkan juga perbedaan individual Menilai semua peserta didik dengan menggunakan satu kriteria
5. Mewujudkan suatu proses penilaian yang kolaboratif Proses penilaian tidak kolaboratif (tidak ada kerja sama, terutama antara pendidik, peserta didik, dan orang tua)
6. Yang mendapat perhatian dalam penilaian mencakup: kemajuan, usaha, dan pencapaian Yang mendapat perhatian dalam penilaian hanya mencapai hasil akhir
7. Terkait erat antara kegiatan penilaian, pengajaran, dan pembelajaran Terpisah antara kegiatan pembelajaran, testing, dan pengajaran
8. Dapat melibatkan partisipasi orang tua Tidak ada kerlibatan orang tua

Prinsip-prinsip penggunaan portofolio
Penilaian portofolio sebaiknya mengacu pada pedoman yaitu:
1). Saling mempercayai
Antara pendidik dan peserta didik saling membantu, saling terbuka, dan jujur. Masing-masing pihak harus memiliki rasa saling memerlukan, sehingga terwujud hubungan yang wajar dan alami.
2). Kerahasiaan
Hasil pengumpulan bahan dan hasil penilaiannya perlu dijaga kerahasiaannya dengan baik, tidak perlu disampaikan kepada pihak-pihak lain yang tidak berkepentingan. Pelanggaran terhadap hal ini akan berakibat negatif seperti: peserta didik akan malu dan juga dapat mengakibatkan peserta didik akan enggan mengerjakan tugas-tugas dari pendidik.
3). Milik bersama
Pendidik dan peserta didik perlu merasa memiliki bersama berkas portofolio, karena itu perlu disepakati bersama dimana bahan-bahan itu disimpan, sehingga setiap saat dapat dilihat oleh kedua belah pihak.
4). Kepuasan
Meskipun bahan-bahan penilaian portofolio dapat berupa informasi-informasi positif dan negatif, tetapi di dalam berkas portofolio seyogyanya berisi keterangan-keterangan atau bukti-bukti yang memuaskan bagi pendidik dan peserta didik, yang berisi bukti prestasi cemerlang peserta didik dan keberhasilan pembinaan pendidik.
5). Sesuai
Bahan yang dikumpulkan adalah bahan yang berhubungan dengan tugas utama, pembelajaran yang dijalani.

Bahan penilaian portofolio
1). Penghargaan tertulis
2). Penghargaan lisan yang tertulis
3). Hasil kerja biasa dan hasil pelaksanaan tugas-tugas oleh peserta didik
4). Daftar ringkasan hasil pekerjaan
5). Catatan sebagai peserta dalam suatu kerja kelompok
6). Contoh hasil pekerjaan
7). Catatan/laporan dari pihak lain yang relevan
8). Kopi absen/daftar kehadiran
9). Prosentase dari tugas-tugas yang selesai dikerjakan
10). Catatan-catatan negatif (misalnya: peringatan, dsb.) tentang peserta didik.
Manfaat Portofolio
Penilaian porfotolio yang didesain secara baik dapat memberikan berbagai manfaat seperti:
1). Pendidik dapat menilai perkembangan dan kemajuan peserta didik.
2). Pendidik dan wali murid dapat berkomunikasi tentang pekerjaan peserta didiknya.
3). Peserta didik menjadi partner dengan pendidiknya dalam hal proses penilaian.
4). Peserta didik dapat merefleksikan dirinya sesuai bakat dan kemampuannya.
5). Penilaian tersebut mampu menilai secara obyektif terhadap individu.
6). Meningkatkan interaksi antara peserta didik dengan pendidik untuk mencapai suatu tujuan
7). Meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar, kebanggaan (pride), kepemilikan (ownership) dan menumbuhkan kepercayaan diri (self confidence/self esteem).
8). Mencapai ketuntasan belajar dan bukan sekedar tuntas materi
9). Pendidik bersama pengawas dapat mengevaluasi program pengajaran.
10). Meningkatkan profesionalisme pendidik.

Bentuk-bentuk hasil portofolio
1). Catatan anekdot
2). Tulisan refleksi
3). Review
4). Laporan
5). Rekaman videotapes
6). Photo/gambar
7). Cuplikan tulisan
8). Catatan diskusi/kegiatan ilmiah
9). Rekaman sesuatu/audiotapes
10). Draft
11). Ilustrasi
12). Karya berupa benda
13). Model/maket
14). Klipping
15). Diagram
16). Grafik dan chart
17). Hasil print out computer
18). Lagu
19). Puisi
Problematika penilaian portofolio
1). Dalam hal pemberian angka (scoring) untuk kondisi kebiasaan penilaian di Indonesia lebih menginginkan angka daripada uraian/deskripsi nilai.
2). Diperlukan waktu tertentu untuk mencapai suatu tujuan sehingga penilaian ini bersifat time consuming.
3). Apabila pendidik hanya berorientasi pada hasil pekerjaan akhir peserta didik, maka penilaian akan terjebak pada penilaian akhir tetapi bukan proses.
4). Hubungan yang top down antara pendidik dengan peserta didik akan menjebak peserta didik pada sekedar instruksi atau perintah-perintah yang tidak menumbuhkan kemampuan diri peserta didik.
5). Pemberian format yang sudah baku juga akan menjebak pada sesuatu yang tidak mengembangkan kemampuan diri peserta didik.
6). Pembiayaan terbesar adalah diperlukannya file-file tersendiri bagi peserta didik dan bahan-bahan untuk menghasilkan pekerjaan peserta didik.
7). Diperlukan tempat berupa locker-locker khusus atau lemari arsip untuk seluruh peserta didik yang ada di sekolah tersebut.

Kegiatan belajar mengajar yang layak dinilai untuk portofolio.
Ada beberapa kegiatan peserta didik yang digunakan sebagai bahan penilaian porfotolio, yaitu:
1). Pekerjaan Rumah (PR).
2). Laporan buku (misalnya: diminta untuk meringkas, membuat bagan, ihtisar, menjawab pertanyaan).
3). Diskusi dalam kelompok (penilaian sesama teman pada waktu diskusi kelompok).
4). Laporan hasil pengamatan, wawancara (misalnya: peserta didik diminta mengamati ketertiban lalu lintas, kedisiplinan, dan sebagainya).
5). Hasil karya cipta (misalnya: gambar, bagan, foto, dan komentar terhadap hasil karyanya).
6). Karya perilaku (misalnya: peserta didik mengikuti kegiatan Pramuka, UKS, menjadi Ketua Kelas, Ketua Kelompok, bagaimana keteladanannya, kedisiplinannya, kepemimpinannya, bagaimana perilaku di kelas apakah dapat diteladani oleh temannya, apakah sosialisasi dengan teman-temannya bagus dan sebagainya).
7). Hasil karya tulis (bagaimana peserta didik membuat kesimpulan dalam laporan, bagaimana memberi tanggapan, dan sebagainya).
8). Hasil ulangan rutin harian.
9). Hasil LKS peserta didik.
10). Kajian lisan (misalnya: tanya jawab, obrolan, tampilan lisan di dalam kelas, dan sebagainya).

8. Performence/unjuk kerja
Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk menilai kemampuan berbicara peserta didik, misalnya dilakukan pengamatan atau observasi berbicara yang beragam, seperti: diskusi dalam kelompok kecil, berpidato, bercerita, dan melakukan wawancara. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen berikut:
a). Daftar Cek (Check-list)
Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik). Dengan menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Contoh checklists
Penilaian kerja sama
Nama peserta didik: ________ Kelas: _____
No. Aspek Yang Dinilai Baik Tidak baik
1. Membagi tugas sesuai jumlah kelompok
2. Memadukan kerja individu dlm kelmpk.
3. Sikap/perhatian terhadap teman
4. Mereview bersama-sama hasil akhir
Skor yang dicapai
Skor maksimum
Keterangan
Baik mendapat skor 1
Tidak baik mendapat skor 0

b).Skala Penilaian (Rating Scale)
Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Untuk memperkecil faktor subjektivitas, perlu dilakukan penilaian oleh lebih dari satu orang, agar hasil penilaian lebih akurat.
Contoh rating scales

Penilaian Membuat poster/brosur/leaflet anti narkoba
(Menggunakan Skala Penilaian)
Nama Siswa: ________ Kelas: _____
No. Aspek Yang Dinilai Nilai
1 2 3 4
1. Teknik penataan huruf,gambar
2. Teknik komposisi warna, keindahan
3. Ketepatan waktu
4. Teknik penyampaian pesan
Jumlah
Skor Maksimum 16
Keterangan penilaian:
1 = tidak kompeten
2 = cukup kompeten
3 = kompeten
4 = sangat kompeten
kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut
1). Jika seorang siswa memperoleh skor 13-16 dapat ditetapkan sangat kompeten
2). Jika seorang siswa memperoleh skor 9 -12 dapat ditetapkan kompeten
3). Jika seorang siswa memperoleh skor 5 – 8 dapat ditetapkan cukup kompeten
4). Jika seorang siswa memperoleh skor 1 – 4 dapat ditetapkan tidak kompeten

9. Aneckdotal Record /Catatan Kejadian
Untuk dapat menghargai seluruh kinerja siswa, anekdot/catatan kejadian atau ada yang menyebut catatan tindakan patut menjadi salah satu bagian dari penilaian proses dalam mata pelajaran IPS.
Sri Hayati (2004:52) memberi saran kepada guru-guru untuk mencatat segala peristiwa atau kejadian tentang diri siswa, khususnya selama proses pembelajaran berlangsung. Catatan ini akan sangat bermanfaat, manakala dicatat secara tersendiri dalam buku harian siswa.
Kiranya dua hal dapat diambil dari pernyataan di atas, yaitu:
a) Mencatat segala peristiwa atau kejadian tentang diri siswa, khususnya selama proses pembelajaran berlangsung.
Apabila guru dapat melaksanakan kegiatan ini bagus, tetapi apabila guru tidak dapat merekam keseluruhan perbuatan siswa, maka yang direkam/dicatat hanya hal-hal yang bersifat khusus/kasuistik saja, itulah yang disebut anekdot record/catatan kejadian.
Anekdot record/catatan kejadian dapat mencatat peristiwa-peristiwa khusus yang dilakukan siswa yang bersifat positif (bermanfaat dalam kehidupan dan sesuai misi pendidikan) atau yang bersifat negatif (tidak bermanfaat atau bahkan merugikan diri sendiri atau orang lain). Sesuai misi pendidikan apabila guru mempunyai anekdot record salah seorang siswa yang menunjukkan perilaku negatif, sebaiknya guru selekasnya menangani dalam arti membimbing siswa untuk dapat berbuat yang positif, tidak selalu menghukum apalagi sampai memvonis siswa tidak naik kelas.
b) Catatan bermanfaat bila dicatat tersendiri dalam buku harian siswa.
Apabila kondisi sekolah mudah dalam penganggaran buku harian siswa tidak masalah, tetapi apabila tidak memungkinkan, anekdot record dapat dicatat dalam loose leaf yang nantinya dapat dibendel.
Walaupun dalam tuntutan silabus tidak ada, tetapi catatankejadian atau tindakan siswa perlu dimiliki oleh guru untuk lebih melengkapi informasi proses pembelajaran siswa.
Rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam membuat catatan tindakan siswa adalah:
a) Catatan tindakan siswa merupakan rekaman aktifitas siswa di luar jadwal dan penugasan pembelajaran (tidak didesain guru).
b) Tindakan yang dicatat dapat berupa tindakan yang bersifat positif (sesuai dengan misi pendidikan) atau negatif (berlawanan dengan misi pendidikan).
Contoh : Hari Jumat tanggal 17 April 2009 Adi menolong kucing yang terperosok dalam parit

10. Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.
Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas.
Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:
a. Kemampuan pengelolaan
b. Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
c. Relevansi
d. Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
e. Keaslian
Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian.
Beberapa contoh kegiatan peserta didik dalam penilaian proyek:
penelitian sederhana tentang air di rumah;
Penelitian sederhana tentang perkembangan harga sembako.

Contoh Penilaian Proyek
Mata Pelajaran : IPS
Nama Proyek :Membuat laporan kunjungan tempat yang mengandung nilai pariwisata
Alokasi Waktu : Satu Semester

Nama Siswa : ______________________ Kelas : XI/1
No Aspek * Skor (1 – 5)
1. Perencanaan:
a. Persiapan
b. Rumusan Judul
2. Pelaksanaan
a. Sistematika Penulisan
b. Keakuratan Sumber Data/Informasi
c. Kuantitas Sumber Data
d. Analisis Data
e. Penarikan Kesimpulan
3. Laporan Proyek
a. Performans
b. Presentasi / Penguasaan
Total Skor
* Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah

11. Penilaian produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam.Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu:
a. Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.
b. Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
c. Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
d. Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.
e. Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal.

Contoh Penilaian Produk
Mata Pelajaran : IPS
Nama Proyek : Membuat replika candi
Alokasi Waktu : 4 kali Pertemuan
Nama Siswa : ______________________ Kelas :
No Aspek * Skor (1 – 5)
1. Perencanaan Bahan

2. Proses Pembuatan
a. Persiapan Alat dan Bahan
b. Teknik Pengolahan
c. K3 (Keamanan, Keselamatan dan Kebersihan)
3. Hasil Produk
a. Bentuk Fisik
b. Inovasi

Total Skor
* Aspek yang dinilai disesuaikan dengan jenis produk yang dibuat

12. Sosiometri
Penilaian sosiometri pada dasarnya penilaian yang dilakukan dengan meminta data dari semua teman sekelas, atau sekelompok. Penilaian ini dilaksanakan untuk mengetahui pendapat umum tentang teman yang paling menyenangkan, teman yang paling tekun, teman yang paling menyebalkan, teman yang paling berani dan sebagainya. Pelaksanaan penilaian sosiometri dengan cara membagi instrumen kepada seluruh kelas atau kelompok, kemudian hasilnya dapat ditabulasi seperti contoh di bawah.

Contoh sosiometri
Petunjuk mengerjakan:
Tulislah pada secarik kertas, nama teman-temanmu yang paling disukai!
Empat teman saya yang sekelas yang paling akrab adalah:
1. Yang paling akrab ….
2. Akrab kedua ….
3. Akrab ketiga ….
4. Akrab keempat ….
Dari pengumulan data tersebut di atas, maka dapat dibuat tabel sosiometri:
Yang disukai
Adi Ari Ama Badu Lina Lely Erni Candra Giman Esti
Yang menyukai Adi - 2 - - 4 - 1 - 3 -
Ari 1 - - 3 - - - 2 - 4
Amad 4 3 - - 2 1 - - - -
Badu - - 1 1 - - 3 - 4 -
Lina 1 2 3 2 - 4 - - - -
Lely - - - - 4 - 1 2 - 3
Erni 1 2 3 4 - - - - - -
Candra 2 1 3 - - - - - - 4
Giman - 1 - - 2 3 4 - - -
Esti 1 2 3 - 4 - - - - -

1 4 2 1 - - 1 2 - - -
2 1 4 - 1 2 - - 2 - -
3 - 1 4 1 - 1 1 - 1 1
4 1 - - 1 3 1 1 - 1 2

J 6 7 5 3 5 3 4 2 2 3
B 20 22 12 6 9 7 7 4 3 4

Penjelasan tabel:
Tanda 1 dibaca “pilihan pertama”
Tanda 2 dibaca “pilihan kedua”
Tanda 3 dibaca “pilihan ketiga”
Tanda 4 dibaca “pilihan keempat”
J dibaca jumlah
B dibaca biji
Sebagai contoh, di bawah nama Ari kita dapat melihat: J = 02, 2 = 4, 3 = 1
Artinya Ari dipilih sebagai nomor 1 oleh 2 orang, sebagai nomor 2 oleh 4 orang, dan sebagai nomor 3 oleh 1 orang.
Untuk J Ari mendapat 7, artinya yang memilih ari sebagai teman akrab (nomor 1, 2, 3, dan 4) semuanya berjumlah 7 orang.
B adalah jumlah biji. Pilihan pertama biji 4, pilihan kedua = 3, dan pilihan ketiga = 2 dan pilihan keempat = 1.
Jadi biji Ari adalah = 2 x 4 + 3 x 4 + 3 x 2 = 22
Ada kalanya tabel diubah dan didasarkan atas peringkat perolehan biji.

Lihat tabel di bawah ini:
Yang disukai
Ari Adi Amad Lina Erni Badu Lely Esti Candra Giman
Yang menyukai Ari 2 1 - - - 3 - 4 2 -
Adi - - - 4 1 - - - - 3
Amad 3 4 - 2 - - 1 - - -
Lina 2 1 3 - - 2 4 - - -
Erni 2 1 3 - - 4 - - - -
Badu - - 1 - 3 - - - - 4
Lely - - - 4 1 - - 3 2 -
Esti 2 1 3 4 - - - - - -
Candra 1 2 3 - - - - 4 - -
Giman 1 - - 2 4 - 3 - - -

1 2 4 1 - 2 - 1 - - -
2 4 1 - 2 - 1 - - 2 -
3 1 - 4 - 1 1 1 1 - 1
4 - 1 - 3 1 1 1 2 - 1

J 7 6 5 5 4 3 3 3 2 2
B 22 20 12 9 7 6 7 4 4 3

Dari tabel di atas, kita dapat mengetahui banyak hal, misalnya Ari adalah siswa yang paling disukai oleh teman-temannya sekelas. Adi pada urutan kedua, Ahmad diurutan ketiga, Lina diurutan keempat, dan seterusnya.

13. Penilaian Diri/Introspeksi
Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya.
Penggunaan penilaian diri untuk mengukur mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor adalah sebagai berikut :
a. Penilaian kompetensi kognitif di kelas, misalnya: peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu. Penilaian diri oeserta didik didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
b. Penilaian kompetensi afektif, misalnya, peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. Selanjutnya, peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
c. Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik, peserta didik dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang.
Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain:
a. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;
b. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.
c. Mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.
Penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Oleh karena itu, penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.
a. Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai.
b. Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan.
a. Merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala penilaian.
c. Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri.
d. Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak, untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif.
e. Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian terhadap sampel hasil penilaian yang diambil secara acak.

Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan, keterampilan, pengetahuan dan sikap seseorang. Lagi pula, interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya.

Contoh Penilaian Diri
Mata Pelajaran :IPS
Aspek : Kognitif
Alokasi Waktu : 1 Semester

Nama Siswa : _________________ Kelas : X/1

No S. Kompetensi / K. Dasar Tanggapan Keterangan
1 0
1. Tema : Kelangkaan sumber daya :
Materi :kelangkaan s. D. A.
Manusia terikat kepentingan
1 = Paham
0 = Tidak Paham
2. Dst

Catatan:
Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya, karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran.
Latihan :
1. Jelaskan perbedaan penilaian unjuk kerja dan penilaian produk
2. Jelaskan manfaat penilaian portofolio dalam penilaian otentik
3. Buat Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Teknik Penilaian non tes sesuai indikatornya.

E. .Kharakteristik Instrumen Penilaian Pembelajaran Bermuatan Imtaq
1. Instrumen pembelajaran bermuatan Imtaq .
Untuk penilaian pembelajaran bermuatan Imtaq, sesuai dengan tujuan pembelajaran Imtaq yang salah satunya adalah meningkatkan perilaku agamis dalam segala kehidupan termasuk dalam pembelajaran; maka instrumen yang sesuai dengan tujuan tersebut lebih mengarah ke instrumen non tes. Pada dasarnya instrumen non tes dalam penilaian seperti yang telah diuraikan di atas. Tetapi instrumen non tes tersebut diarahkan pada penilaian yang penekanannya pada perilaku agamis tersebut. Untuk itu perlu ada modifikasi dari contoh instrumen non tes di atas. Karena scara teori instrumen non tes sudah di bahas secara lengkap, maka bab ini langsung pada bentuk contoh beberapa instrumen non tes untuk penilaian pembelajaran bermuatan Imtaq.
a. Contoh lembar pengamatan
Lembar Pengamatan Diskusi Kelas
Kelas :
Tujuan Diskusi : Menggali pendapat dalam membuat laporan kerja kelompok

No.
Nama Penyampaian pendapat dalam diskusi
Nilai
Keterangan
Menyampaikan
Pendapat dengan tidak menyakiti perasaan teman Mengingatkan teman dalam kesabaran dan kebenaran Mendukung pendapat yang mengutamakan melaksanakan misi sebagai klalifah di muka bumi Pendapat yang diutarakan sesuai perintah dan larangan Alloh
1. Anton
2. Judi
3. Dino
4. Nani
dst

Catatan:
Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut.
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = sedang
4 = baik
5 = amat baik
Nilai merupakan jumlah dari skor-skor tiap indikator perilaku
Keterangan diisi dengan kriteria berikut
1). Nilai 17-20 berarti amat baik
2). Nilai 13-16 berarti baik
3). Nilai 9-12 berarti sedang
4). Nilai 5-8 berarti kurang
5). Nilai 1-4 berarti sangat kurang

b. Contoh halaman sampul Buku Catatan Harian:

Contoh isi Buku Catatan Harian :

No. Hari/ Tanggal Nama peserta didik Perbuatan bermanfaat (melaksanakan perintah agama) dan tindak lanjutnya. Perbuatan mudlorot, hamipir melanggar perintah agama, penyebab dan upaya taubat nasukha
( Tindak Lanjut)

c. Contoh Lembar Pengamatan Perilaku/Sikap dalam diskusi
Perilaku/sikap yang diamati: ………………………………….
peserta didik: …
kelas…
semester…
No Deskripsi perilaku
Sesuai/tidak sesuai dengan ajaran agama Deskripsi perubahan Capaian
Pertemuan …Hari/Tgl… ST T R SR
1
2

Keterangan
Kolom capaian diisi dengan tanda centang sesuai perkembangan perilaku
ST = perubahan sangat tinggi
T = perubahan tinggi
R = perubahan rendah
SR = perubahan sangat rendah
Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari:
1). pertanyaan langsung
2). Laporan pribadi
3). Buku Catatan Harian
d. Contoh guiden (rambu-rambu) wawancara:
Tujuan: Menggali informasi siswa tentang topik-topik pembelajaran yang dapat menerapkan nilai-nilai agama dalam mata pelajaran IPS. Sehingga dapat mengetahui kemauan siswa untuk melaksanakan nilai-nilai agama dalam pembelajaran IPS.
Guiden wawancara:
1) Apakah mata pelajaran IPS dapat dilaksanakan dengan mengintegrasikan nilai-nilai agama ?
2) Pada satu semester, tema apa yang dapat secara maksimal mengintegrasikan nilai-nilai agama?
3) Pada satu semester, tema apa yang sangat sulit untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam tema tersebut ?.
4) Sedangkan apabila menghadapi tema tidak dapat diintegrasi dengan nilai-nilai agama, tindakan apa yang dapat dilakukan?
5) Beri saran-saran untuk dapat mengoptimalkan integrasi nilai-nilai agama dalam pembelajaran IPS.
e. Penilaian kerja sama
Nama peserta didik: ________ Kelas: _____
No. Aspek Yang Dinilai Baik Tidak baik
1. Membagi tugas sesuai kemampuan yang sama-sama sebagai mahluk Alloh
2. Menunjuk ketua sesuai dengan nilai-nilai agama
3. Ihlas menyelesaikan pekerjaan teman yang mendadak sakit
4. Melaksanakan amanah teman yang memberikan saran baik dalam kelompok
Skor yang dicapai
Skor maksimum
Keterangan
Baik mendapat skor 1
Tidak baik mendapat skor 0

f. Contoh rating scales
Penilaian Membuat poster/brosur/leaflet anti narkoba dengan menggunakan nilai-nilai agama
(Menggunakan Skala Penilaian)
Nama Siswa: ________ Kelas: _____
No. Aspek Yang Dinilai Nilai
1 2 3 4
1. Teknik penataan huruf,gambar
2. Teknik komposisi warna, keindahan
3. Ketepatan waktu
4. Teknik penyampaian pesan
5. Nilai-nilai agama yang dirujuk
6. Dasar merujuk nilai-nilai agama (Quran dan Hadis)
Jumlah
Skor Maksimum 24
Keterangan penilaian:
1 = tidak kompeten
2 = cukup kompeten
3 = kompeten
4 = sangat kompeten
kriteria penilaian dapat dilakukan sebagai berikut
1). Jika seorang siswa memperoleh skor 19-24 dapat ditetapkan sangat kompeten
2). Jika seorang siswa memperoleh skor 13 -18 dapat ditetapkan kompeten
3). Jika seorang siswa memperoleh skor 7 – 12 dapat ditetapkan cukup kompeten
4). Jika seorang siswa memperoleh skor 1 – 6 dapat ditetapkan tidak kompeten

g. Aneckdotal Record /Catatan Kejadian
Contoh : Hari Jumat tanggal 17 April 2009 Adi mengajak temanya menyiapkan buku catatan khotbah Jumat untuk mencatan isi khotbah Jumat.

h. Contoh Penilaian Proyek
Mata Pelajaran : IPS
Nama Proyek :Membuat laporan kunjungan tempat yang mengandung nilai pariwisata
Alokasi Waktu : Satu Semester

Nama Siswa : ______________________ Kelas : XI/1
No Aspek * Skor (1 – 5)
1. Perencanaan:
a. Persiapan
b. Rumusan Judul
c. nilai-nilai agama
2. Pelaksanaan
a. Sistematika Penulisan
b. Keakuratan Sumber Data/Informasi
c. Kuantitas Sumber Data
d. Analisis Data sesuai kajian ilmu pengetahuan
e. Analisis data yang mengandung nilai-nilai agama
f. Penarikan Kesimpulan data ilmu pengetahuan dan integrasi nilai-nilai agama

3. Laporan Proyek
a. Performans
b. Presentasi / Penguasaan
c. Pesan melaksanakan nilai-nilai agama
Total Skor
Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah

h. Contoh Penilaian Diri
Mata Pelajaran :IPS
Aspek : Pengintegrasian nilai agama dalam pembelajaran IPS
Alokasi Waktu : 1 Semester

Nama Siswa : _________________ Kelas : X/1

No Kompetensi Dasar /nilai –nilai agama Tanggapan Keterangan
1 0
1. Tema : Kelangkaan sumber daya :
Materi :kelangkaan s. D. A.
Manusia
a. Nilai-nilai agama : manusia adalah khalifah di muka bumi sehingga tugasnya menjaga kelestarian lingkungan tidak
Merusaknya
b. Alloh menciptakan bumi untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak untuk memusnahkan mahluk hidup di muka bumi
1 = Paham
0 = Tidak Paham
2. Dst

Catatan:
Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya, karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran
2. Pengolahan instrumen pembelajaran bermuatan Imtaq.
Sesuai dengan tujuan penilaian pembelajaran bermuatan Imtaq, agar terjadi akumulasi informasi penilaian, maka pelaksaan penilaian dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh guru pengajar kelas yang bersangkutan, dengan menggunakan format yang sama sehingga memudahkan pengolahan instrumenya. Instrumen diharapkan diisi secara aktif oleh semua guru, kemudian akhir semester dikoordinasikan oleh wali kelas untuk digabung berbagai nilai dari guru-guru tersebut untuk diambil rata-ratanya.
Lebih mudah bagi sekolah yang telah memiliki perangkat komputer, hasil nilai pembelajaran bermuatan Imtaq ini dapat diakses oleh seluruh guru mata pelajaran (sehingga hasilnya sama) dan dapat dipakai bahan pertimbangan dalam penentuan akhir nilai tiap mata pelajaran.

Latihan
1. Analisis SK,KD
2. Menyusun Indikator
3. Memilih nilai-nilai agama sesuai analisis materi, analisis indikator, isi quran dan hadis
3. Membuat Instrumen Tes dan Non Tes

MODEL ALAT UKUR PENILAIAN

A. Kisi-Kisi Butir Soal

Nama Sekolah : …………………………..
Mata Pelajaran : …………………………..
Kelas/Semester : …………………………..

Kompetensi : …………………………..
No Kompetensi
Dasar Hasil Belajar Indikator dan muatan nilai-nilai agama Penilaian
Jenis Bentuk Soal
1 2 3 4 5 6 7

B. Alat ukur penilaian
1.Tes
a. Soal
b. Kunci Jawaban
2.Nontes
a. Instrumen non tes
b. cara pengolahan

PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN
A. Kesimpulan
1. Penilaian pembelajaran bermuatan Imtaq menggunakan berbagai alat ukur tes dan non tes, tetapi kecenderunganya mengarah ke instrumen non tes.
2. Penilaian pembelajaran bermuatan Imtaq dilakukan secara sinergi oleh seluruh guru mata pelajaran dalam kelas yang sama, dengan dikoordinasikan oleh wali kelas. Wali klelas membuat kesimpulan dari seluruh instrumen yang telah diisi oleh guru seluruh mata pelajaran dalam satu kelas. Hasil akhir akan muncul satu nilai yang disimpulkan oleh wali kelas.
3. Bagi sekolah yang telah mempunyai perangkat komputer untuk mengolah hasil penilaian, maka hasil nilai pembelajaran bermuatan Imtaq dapat dibuatkan file khusus oleh wali kelas yang dapat diakses oleh semua guru kelas untuk menjadi bagian dari unsur penilaian masing-masing mata pelajaran.
B. Saran-saran
1 Pelaksanaan penilaian pembelajaran bermuatan Imtaq akan sukses apabila ada komitmen oleh semua warga sekolah. Sehingga disarankan untuk guru memulai memberi keteladanan dalam mengajar dengan melaksanakan nilai-nilai agama. Karena keteladanan guru akan memberi inspirasi untuk siswa meniru gurunya.
2 Apabila sekolah ingin percepatan pelaksanaan penilaian pembelajaran bermuatan Imtaq, maka guru dapat meminta siswa merumuskan sendiri panisme yang disepakati apabila ada siswa yang melanggar nilai-nilai agama. Panisme tersebut haruslah edukatif, tidak melanggar hak asasi manusia karena memang tujuanya perbaikan pribadi siswa, bukan pengadilan.
3 Penilaian diri merupakan instrumen yang efektif untuk siswa membentuk pribadi pelajar yang melakukan nilai-nilai agama dengan tawadu’. Sehingga diharapkan penilaian diri dapat dilaksanakan secara optimal.

GLOSARIUM
1. Self evaluation : penilaian diri, siswa dapat mencatat perbuatan, sikap dan perkataan dalam pembelajaran yang sesuai nilai-nilai agama , atau terjadi kekhilafan dalam dirinya dan berusaha untuk tidak mengulang dikemudian hari.
2. Anecdotal Record : catatan tindakan atau kejadian yang dilakukan siswa baik yang bersifat positif maupun negatif. Apabila ada perbuatan negatif tugas guru adalah mengajak diskusi terhadap kelemahan diri siswa dan rencana untuk memperbaiki diri.
3. Portofolio : kumpulan kinerja siswa yang terpilih sehingga menunjukkan prestasi belajar siswa
4. Sosiometri : alat untuk menjaring pendapat siswa untuk mengetahui kecenderungan pandangan umum terhadap seseorang misalnya instrumen untuk menjaring siswa faforit.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 1995. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Bahan sosialisasi KTSP di LPMP Semarang Tahun 2006
Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio. Bandung: PT. Ganesindo.
Gafur, Abdul, dkk. 2003. Pedoman Umum Pola Induk Siswa Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Dit. PMU, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas.
Hart, Diane. 1994. Authentic Assessment. USA: Addison Wesley.
http:// id. wikipedia org/wiki/taksonomi Bloom

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Taksonomi_Bloom&action=edit&section=

http://id.wikipedia.org/wiki/Sikap

http://pendidikanmoral.um.edu.my/index.php?page=64

http://pendidikanmoral.um.edu.my/index.php?page=71

http://pendidikanmoral.um.edu.my/index.php?page=pembinaan-instrumen-penilaian-dalam-aspek-psikomotor

http://pendidikanmoral.um.edu.my/index.php?page=konsep-penilaian

http://www.tujuhtujuhtiga.com/73/index.php?name=News&file=article&sid=50

Hayati, Sri. 2004. Bahan Pelatihan PS-S2 Penilaian Pembelajaran Pengetahuan Sosial Bahan Pelatihan Terintegrasi Guru SMP. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
Puskur. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.
Siswanto, H. dan Hj. Sri Suntari. 1993. Penilaian IPS dan PPKn. Bahan Sajian Untuk Penataran Instruktur. Malang: Proyek PPPG IPS dan PMP Malang.
Subiyanto. 1988. Evaluasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikti, Depdikbud.
Subiyanto. 1993. Beberapa Masalah Evaluasi Pendidikan. Malang: PPPG IPS dan PMP, Ditjen Dikdasmen, Depdikbud.
Puskur. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.
Siswanto, H. dan Hj. Sri Suntari. 1993. Penilaian IPS dan PPKn. Bahan Sajian Untuk Penataran Instruktur. Malang: Proyek PPPG IPS dan PMP Malang.
Siswanto, H. dan Hj. Sri Suntari. 1998. Penilaian Ilmu Pengetahuan Sosial. Edisi review. Malang: Proyek PPPG IPS dan PMP Malang.
Subiyanto. 1988. Evaluasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikti, Depdikbud.
(1993). Beberapa Masalah Evaluasi Pendidikan. Malang: PPPG IPS dan PMP, Ditjen Dikdasmen, Depdikbud.
Suwatno, 2008, Kesulitan Belajar Siswa dan Bimbingan Belajar Melalui Klinik Pembelajaran. Fakultas Ekonomi Universitas Padang.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.189 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: